Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaKabupaten MappiKabupaten MimikaKesehatanNasionalPeristiwaPolkam

Hoya Menyusun Mimpi di Atas Tanah Pegunungan: 22 Program Prioritas Ditetapkan dalam Musrenbang 2026

75
×

Hoya Menyusun Mimpi di Atas Tanah Pegunungan: 22 Program Prioritas Ditetapkan dalam Musrenbang 2026

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA | LINTASTIMOR.ID — Di sebuah ruangan di Hotel Grand Tembaga, Senin (2/3/2026), peta-peta masa depan Distrik Hoya dibentangkan di atas meja. Tak ada suara keras, tak ada perdebatan riuh. Yang ada adalah kesungguhan. Seperti tanah pegunungan yang diam-diam menyimpan bara, Hoya sedang menyusun mimpinya.

Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Distrik Hoya resmi dibuka oleh Staf Ahli Bupati Mimika Bidang Kesejahteraan Masyarakat dan SDM, Fransiskus Bokeyau, S.Pd. Hadir kepala distrik, para kepala kampung, tokoh masyarakat, dan staf distrik. Mereka duduk melingkar, bukan sekadar merancang program, tetapi merajut harapan.

Example 300x600

Sebanyak 22 program prioritas ditetapkan untuk tahun anggaran 2026 dan 2027. Dari landasan terbang hingga rumah sehat, dari jalan kampung hingga gereja besar—semuanya lahir dari suara warga yang ingin hidup lebih layak.

Landasan yang Licin, Harapan yang Tegas

Kepala Distrik Hoya, Yeteni Tabuni, berdiri dengan nada yang tenang namun tegas. Ia memulai dari sesuatu yang paling vital: landasan terbang.


╔════════════════════════════════╗
║ “Lapangan terbang menjadi prioritas utama karena kondisinya sangat memprihatinkan. Banyak lumut yang tumbuh di permukaan landasan sehingga menyulitkan pesawat untuk mendarat. Tahun ini kami minta agar landasan segera diaspal.”
║ — Yeteni Tabuni
╚════════════════════════════════╝


Landasan itu bukan sekadar jalur pesawat. Ia adalah urat nadi. Di sanalah obat-obatan datang. Di sanalah guru dan tenaga kesehatan tiba. Ketika lumut menutupinya, bukan hanya roda pesawat yang tergelincir, tetapi juga akses harapan.

Rumah Sehat untuk Lima Kampung

Di lima kampung Distrik Hoya, rumah layak huni masih menjadi kemewahan. Dinding-dinding rapuh dan atap bocor adalah cerita sehari-hari.

Yeteni tak menutup mata. Ia menyebut rumah sehat sebagai kebutuhan mendesak, bukan sekadar proyek pembangunan.


╔════════════════════════════════╗
║ “Kebutuhan rumah layak huni sangat mendesak di lima kampung yang ada di Distrik Hoya. Tahun ini kami belum tahu pasti berapa unit yang akan dibangun, tapi tahun 2027 kami menargetkan 20 unit rumah sehat.”
║ — Yeteni Tabuni
╚════════════════════════════════╝


Dua puluh unit mungkin terdengar angka kecil bagi kota besar. Namun bagi Hoya, itu adalah dua puluh keluarga yang tak lagi tidur dalam cemas ketika hujan turun.

Jalan, Anak Negeri, dan Martabat

Musrenbang tak hanya berbicara tentang beton dan aspal. Ia juga berbicara tentang martabat. Jalan yang akan dibuka, kata Yeteni, harus melibatkan putra-putri asli Hoya.

“Ini untuk memberdayakan masyarakat setempat,” ujarnya dalam forum, menegaskan pentingnya partisipasi lokal dalam pembangunan.

Koordinasi dengan Dinas PUPR akan dilakukan untuk pengukuran teknis. Tetapi yang lebih penting dari ukuran meter adalah ukuran keadilan: pembangunan tak boleh meminggirkan warga yang hidup di atas tanahnya sendiri.

Kantor Distrik dan Gereja Besar

Gedung kantor distrik yang belum rampung menjadi simbol lain dari pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Pemerintah distrik berharap ada perpanjangan waktu jika pembangunan belum selesai tahun ini.

Di sisi lain, kebutuhan rohani juga mengemuka. Satu gereja besar berukuran 15 x 20 meter diusulkan untuk dibangun di Distrik Hoya, selain tujuh gereja di masing-masing kampung yang kini kondisinya dinilai tak lagi memadai.

Bagi warga Hoya, gereja bukan sekadar bangunan. Ia adalah tempat menenangkan diri, merajut solidaritas, dan menyemai nilai.

Kopi, Budaya, dan Ekonomi Lokal

Musrenbang juga mencatat pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal, seperti kopi, sebagai bagian dari program prioritas. Tanah Hoya yang subur diyakini mampu melahirkan produk unggulan jika dikelola dengan serius.

Kegiatan budaya dan pemberdayaan masyarakat turut diusulkan. Sebab pembangunan bukan hanya soal fisik, tetapi juga menjaga identitas.

“Semua program ini akan kami koordinasikan dengan pemerintah kabupaten dan provinsi,” tutup Yeteni.

Di akhir forum, tak ada tepuk tangan berlebihan. Hanya saling pandang yang penuh pengertian. Di pegunungan Hoya, pembangunan bukan sekadar angka dalam dokumen. Ia adalah janji—yang kini telah ditulis bersama dalam 22 program prioritas.

Dan seperti pagi yang selalu datang setelah kabut turun, warga Hoya menunggu janji itu benar-benar menjejak tanah.

Example 300250