Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaNasionalPeristiwaPolkam

Hambalang, Saat Negara Menarik Napas Panjang

176
×

Hambalang, Saat Negara Menarik Napas Panjang

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | LINTASTIMOR.ID
Minggu siang di Hambalang tidak sekadar menyambut kepulangan seorang presiden. Di balik kabut tipis Pegunungan Bogor dan sunyi yang dijaga ketat, negara seolah sedang menarik napas panjang—mengevaluasi langkah, menimbang arah, dan memastikan mesin kekuasaan tetap bergerak pada rel yang benar.

Presiden Prabowo Subianto, baru saja kembali dari lawatan luar negeri, memilih Hambalang sebagai ruang jeda sekaligus ruang kerja. Bukan seremoni, bukan pidato. Yang hadir adalah laporan, angka, peta masalah, dan keputusan-keputusan yang menentukan denyut republik.

Example 300x600

Pertemuan berlangsung sejak siang hingga malam. Waktu yang cukup panjang untuk satu tujuan: mengecek langsung denyut program strategis nasional, tanpa perantara dan tanpa basa-basi.

Meja Panjang, Agenda Negara

Satu per satu sektor krusial dilaporkan. Bukan sekadar progres, tetapi juga hambatan, risiko, dan opsi kebijakan.

Menko Pangan memaparkan perkembangan Koperasi Desa Merah Putih, sebuah proyek yang tidak hanya bicara soal ekonomi desa, tetapi juga tentang kedaulatan pangan dan distribusi keadilan hingga akar rumput.

Dari sektor energi, Menteri ESDM menyampaikan laporan terkait minyak dan gas, sektor yang selalu menjadi urat nadi sekaligus titik rawan geopolitik. Angka produksi, cadangan, hingga strategi ketahanan energi dibentangkan di hadapan Presiden.

Di sisi lain, masa depan sumber daya manusia menjadi perhatian serius. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi memaparkan kerja sama pendidikan tinggi—mulai dari teknik hingga minerba—sebuah irisan strategis antara ilmu pengetahuan dan kepentingan nasional.

Uang, Senjata, dan Hutan

Dari ruang fiskal, Menteri Keuangan menyampaikan kondisi perbankan nasional. Stabilitas, likuiditas, dan ketahanan sektor keuangan menjadi fondasi agar program besar negara tidak runtuh di tengah jalan.

Sementara itu, Menteri Pertahanan bersama Panglima dan Wakil Panglima TNI melaporkan situasi pertahanan dan keamanan. Di tengah dinamika kawasan dan dunia yang terus bergolak, isu ini bukan sekadar laporan rutin, melainkan penjagaan kedaulatan dalam arti paling konkret.

Satu isu yang kerap luput dari sorotan, namun berdampak luas, turut dibahas: penertiban kawasan hutan. Jaksa Agung memaparkan langkah penegakan hukum terhadap kawasan yang selama ini berada di wilayah abu-abu antara kepentingan ekonomi dan kelestarian negara.

Lingkar Dalam Kekuasaan

Pertemuan tertutup itu dihadiri oleh lingkar strategis pemerintahan:
Menko Pangan, Menteri ESDM, Menteri Sekretaris Negara, Menteri Diktisaintek, Menteri Keuangan, Panglima dan Wakil Panglima TNI, Jaksa Agung, Kepala BIN, serta Sekretaris Kabinet.

Tidak ada pernyataan bombastis. Tidak pula deklarasi terbuka. Namun dari Hambalang, satu pesan terasa jelas: negara sedang bekerja dalam sunyi.

Negara yang Tidak Boleh Lengah

Hambalang sore itu bukan hanya lokasi pertemuan. Ia menjadi simbol dari sebuah fase: ketika kekuasaan diuji bukan oleh pidato, melainkan oleh ketelitian membaca masalah dan keberanian mengambil keputusan.

Di tengah malam yang turun perlahan, pertemuan berakhir. Tetapi kerja negara tidak. Ia terus berjalan—di meja kebijakan, di ladang desa, di sumur energi, di kampus, di barak, hingga di hutan-hutan yang menunggu ditertibkan.

Dan republik, seperti biasa, berharap satu hal:
agar setiap keputusan yang lahir dari ruang sunyi itu benar-benar berpihak pada masa depan.

 

Example 300250