Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaHukum & KriminalNasionalPeristiwaPolkam

Enam Pelaut, Satu Pulang: Dari Laut Timor yang Asing ke Pintu Negeri di Motaain

126
×

Enam Pelaut, Satu Pulang: Dari Laut Timor yang Asing ke Pintu Negeri di Motaain

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Ombak boleh membawa mereka jauh, tapi negara tak membiarkan mereka pulang sendiri.

ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID — Perjalanan enam Anak Buah Kapal (ABK) KM Triasmo Sejahtera akhirnya berlabuh di tanah air. Bukan di dermaga nelayan, melainkan di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain, Atambua, Nusa Tenggara Timur, Rabu (7/1/2026). Di titik perbatasan itu, kisah terombang-ambing di laut asing ditutup dengan satu kata yang lama ditunggu: pulang.

Example 300x600

Mereka sebelumnya terdampar di perairan Timor Leste, jauh dari garis pantai Indonesia—seperti perahu tanpa kompas yang kehilangan arah. Namun negara hadir, setenang mercusuar di malam gelap.

Melalui Stasiun Bakamla Kupang, Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) memfasilitasi proses pemulangan keenam ABK tersebut. Prosesi serah terima berlangsung sederhana, namun sarat makna. Di meja administrasi, negara menjemput warganya kembali.

Kepala Stasiun Bakamla Kupang, Mayor Bakamla Yeanry M. Olang, S.Kom., M.M., secara resmi menerima keenam ABK dari KBRI Dili melalui penandatanganan Berita Acara Serah Terima. Momen itu disaksikan lintas instansi—dari Kepala PLBN Motaain, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT wilayah Kabupaten TTS, TTU, Belu, dan Malaka, hingga unsur Imigrasi dan instansi terkait lainnya.

“Negara tidak hanya menjaga lautnya, tetapi juga orang-orang yang hidup darinya,”
ujar seorang petugas di sela prosesi, lirih namun tegas.

Terjebak di Bayu Undan

Kisah ini bermula pada 3 Januari 2026, ketika KBRI Dili menerima laporan dari Autoridade Nacional do Petróleo (ANP) Timor Leste. Enam nelayan Warga Negara Indonesia dilaporkan terdampar di kawasan eksplorasi migas Bayu Undan, wilayah Timor Gap—sebuah kawasan industri energi, bukan tempat kapal nelayan bernaung.

Minister Counsellor KBRI Dili, Nugroho Yuwono Aribhino, menjelaskan bahwa laporan tersebut segera ditindaklanjuti melalui koordinasi intensif dengan otoritas setempat dan instansi Indonesia terkait.

“Keselamatan WNI adalah prioritas. Dalam situasi lintas batas seperti ini, koordinasi menjadi kunci,”
kata Nugroho.

Dari diplomasi sunyi di balik meja, hingga langkah nyata di lapangan, proses pemulangan ini berjalan seperti rantai yang saling menguatkan—KBRI, Bakamla, Imigrasi, pemerintah daerah—semuanya bergerak dalam satu irama.

Lebih dari Sekadar Pemulangan

Kepulangan enam ABK ini bukan sekadar administrasi lintas negara. Ia adalah pengingat bahwa laut, betapapun luas dan keras, tetap membutuhkan perlindungan sistemik bagi mereka yang menggantungkan hidup di atasnya.

Di sinilah  solusi menemukan maknanya: peristiwa ini menegaskan pentingnya kehadiran negara, koordinasi maritim lintas batas, dan sistem perlindungan nelayan yang lebih kuat—agar tragedi serupa tak berulang, dan laut tetap menjadi ruang penghidupan, bukan ruang keterasingan.

Di PLBN Motaain, enam pelaut itu melangkah masuk. Tak ada sorak-sorai. Hanya napas lega.
Seperti ombak yang akhirnya mereda, perjalanan mereka pun usai—di rumah sendiri.

 

Example 300250