Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
HiburanNasional

Empat Nada dari Timur: Ketika NTT Menitipkan Mimpinya di Panggung Indonesian Idol XIV

504
×

Empat Nada dari Timur: Ketika NTT Menitipkan Mimpinya di Panggung Indonesian Idol XIV

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA |LINTASTIMOR.ID —
Di antara sorot lampu dan gemuruh tepuk tangan, selalu ada doa-doa kecil yang datang dari jauh. Dari tanah berbatu, dari kampung yang akrab dengan senyap, dari Timur yang kerap hanya disebut ketika matahari terbit. Malam audisi Indonesian Idol XIV kembali menjadi ruang ziarah mimpi—dan Nusa Tenggara Timur menorehkan namanya dengan empat suara yang lolos Golden Ticket.

Empat anak Timur itu adalah: Kesya Famdale dari Kupang, Rian Christian dari Kefamenanu, Alfonso Anoit dari Atambua, dan Marselina Rahmita, juga dari Atambua. Mereka datang dengan latar yang berbeda, tetapi membawa satu bekal yang sama: kejujuran bernyanyi.

Example 300x600

Golden Ticket bukan sekadar kertas emas. Ia adalah pengakuan—bahwa suara dari Timur bukan gema pinggiran, melainkan denyut yang layak didengar pusat.

“Di Idol, yang diuji bukan hanya teknik, tetapi keberanian membawa diri sendiri ke hadapan dunia,”
(Catatan Redaksi)

Keempatnya tampil dengan karakter yang kuat. Kesya membawa ketenangan vokal yang matang. Rian menampilkan kestabilan dan rasa. Alfonso hadir dengan energi panggung yang jujur, khas anak perbatasan. Namun sorotan publik Timur perlahan mengerucut pada satu nama: Marselina Rahmita.

Marselina Rahmita dan Bayang Jejak Piche Kota

Pertanyaan pun bergaung di ruang-ruang percakapan:
Apakah Marselina Rahmita berpeluang mengikuti jejak Piche Kota?

Piche Kota—nama yang bagi Timur bukan sekadar finalis Indonesian Idol, melainkan simbol bahwa anak perbatasan bisa berdiri setara di panggung nasional. Piche dikenal bukan hanya karena suara, tetapi karena identitas: kesederhanaan, kejujuran musikal, dan kemampuan menjadikan panggung sebagai ruang bercerita.

Marselina memiliki satu modal penting yang serupa: rasa. Suaranya tidak memaksa. Ia tidak berteriak untuk didengar. Ia bernyanyi seolah sedang berbicara dengan kenangan—dan justru di situlah kekuatannya. Dalam tradisi musik Timur, bernyanyi adalah cara merawat luka, bukan memamerkan keunggulan.

“Penyanyi besar bukan yang paling keras, tetapi yang paling lama tinggal di ingatan,”
(Refleksi Musik)

Namun mengikuti jejak Piche Kota tidak berarti meniru langkahnya. Setiap zaman melahirkan bahasanya sendiri. Jika Piche menembus panggung dengan karakter cafe singer yang jujur dan membumi, maka Marselina berpeluang menempuh jalur berbeda: penyanyi dengan aura lembut, naratif, dan emosional—jenis suara yang pelan, tetapi menetap.

Idol, Timur, dan Takdir yang Dibentuk Kerja

Indonesian Idol bukan panggung yang ramah bagi mereka yang hanya mengandalkan bakat. Ia menuntut disiplin, daya tahan mental, dan kecerdasan membaca diri. Empat anak NTT ini telah membuka pintu. Selebihnya adalah perjalanan panjang—di mana sorotan kamera sering kali lebih tajam daripada kritik juri.

“Golden Ticket adalah awal. Selebihnya adalah kesetiaan pada proses,”
(Catatan Redaksi)

Bagi Marselina Rahmita, peluang itu nyata—bukan karena ia dari Atambua, bukan karena ia perempuan Timur, melainkan karena ia punya cerita dalam suaranya. Jika ia mampu menjaga kejujuran itu, merawat karakter, dan tidak tergoda menjadi versi orang lain, maka jejak Piche Kota bukanlah bayang yang membebani, melainkan cahaya penunjuk jalan.

Malam audisi telah lewat. Tetapi perjalanan baru saja dimulai. Dari Kupang, Kefamenanu, hingga Atambua, Timur kembali mengirimkan harapan—bahwa musik bukan milik kota besar saja, dan mimpi tidak pernah mengenal jarak.

Dan mungkin, suatu hari nanti, nama Marselina Rahmita akan disebut bukan sebagai “yang mengikuti jejak Piche Kota”, melainkan sebagai jejak baru dari Timur.

 

Example 300250