TIMIKA | LINTASTIMOR.ID — Pagi di Jalan Kartini, Gang Sesna, Pasar Sentral, Mimika Baru, kini terasa lebih panjang dari biasanya. Waktu seolah tersangkut di satu pagi: Jumat, 5 Desember 2025, ketika seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, YF, melangkah pergi bersama ayah kandungnya—membawa janji sederhana, liburan ke Jakarta, lalu pulang tepat waktu.
Namun hari berganti bulan, dan janji itu tak pernah kembali.
Berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP/B/322/III/2026/SPKT/POLRES MIMIKA/POLDA PAPUA TENGAH tertanggal 25 Maret 2026, seorang nenek bernama Antonela resmi melaporkan dugaan pelanggaran perlindungan anak ke Polres Mimika. Ia menilai cucunya telah dibawa dan tidak dikembalikan oleh ayah kandungnya, MYS.
Di rumah sederhana itu, kenangan masih tertinggal di setiap sudut. Antonela mengingat pagi ketika cucunya pergi—pagi yang kini terasa seperti awal dari sebuah kehilangan panjang.
╔════════════════════════════════════════╗
“Anak cucu saya sangat senang karena diajak bapaknya jalan-jalan ke Jawa.
Namun dia harus kembali tepat waktu untuk sekolah.
Sekarang sudah hampir empat bulan, anak ini belum juga kembali.”
— Antonela
╚════════════════════════════════════════╝
Sejak saat itu, tak ada lagi suara tawa kecil yang biasa mengisi rumah. Tak ada kabar, tak ada pesan. Upaya menghubungi sang ayah berujung pada kebisuan yang memanjang.
Sementara di luar sana, waktu tak pernah berhenti. Sekolah menuntut kehadiran. Ujian akhir menunggu. Sistem pendidikan berjalan tanpa kompromi.
╔════════════════════════════════════════╗
“Pendidikan sekarang tidak bisa sembarangan.
Semua pakai komputer, ada laporan ke dinas pendidikan.
Saya mohon kepada bapaknya dengan kerelaan hati, kembalikan anak ini supaya bisa mengikuti pendidikan.
Jangan sampai masa depannya rusak.”
— Antonela
╚════════════════════════════════════════╝
Kisah ini bukan hanya tentang seorang anak yang belum kembali. Ini adalah potret panjang relasi yang tak pernah utuh sejak awal. YF lahir dari hubungan tanpa pernikahan, dan sejak itu, kehidupan kecilnya bertumpu pada satu sosok: neneknya.
Dari usia nol hingga sepuluh tahun, Antonela menjadi rumah, menjadi pelindung, menjadi dunia bagi anak itu.
Sosok ayah nyaris tak hadir—hingga suatu hari ia datang, dan membawa pergi segalanya.
Antonela kini tak hanya kehilangan cucu. Ia kehilangan ritme hidup, kehilangan suara yang setiap pagi memanggilnya.
╔════════════════════════════════════════╗
“Sebelumnya, bapak anak ini tidak pernah membesarkannya dari usia 0–10 tahun.
Saya yang merawat setiap hari. Tiba-tiba diambil begitu saja.
Saya khawatir anak ini tersiksa atau tidak terurus.
Saya sudah keluar masuk rumah sakit karena stres memikirkan cucu saya yang ceria itu.”
— Antonela
╚════════════════════════════════════════╝
Kekhawatiran itu semakin dalam setelah diketahui bahwa YF kini diduga tinggal bersama ibu tiri, jauh dari pengawasan keluarga yang selama ini membesarkannya.
Namun di tengah luka yang panjang, Antonela tidak menutup pintu. Ia masih berharap—bukan untuk menang, tetapi untuk bertemu.
╔════════════════════════════════════════╗
“Saya pesan untuk bapaknya MYS, tolong segera pertemukan anak ini dengan neneknya.
Kita bisa duduk bersama mengatur masa depan anak, bukan malah menghilang seperti ini.”
— Antonela
╚════════════════════════════════════════╝
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Mimika AKP Ibnu Rudi Hartono menyampaikan bahwa pihak kepolisian telah melakukan pertemuan dan wawancara dengan pelapor, dan saat ini masih menunggu kelengkapan dokumen yang diminta penyidik.
Kasus ini membuka kembali ruang sunyi dalam sistem perlindungan anak: ketika konflik keluarga berubah menjadi keterpisahan, hukum sering berjalan lebih lambat dari luka yang dirasakan. Di titik inilah, negara diuji—bukan hanya dalam aturan, tetapi dalam kecepatan menghadirkan kepastian bagi masa depan seorang anak.
Dan di sebuah rumah sederhana di Mimika, seorang nenek masih menunggu—dengan harapan yang tak pernah ia lepaskan.
Sebab bagi Antonela, kehilangan ini bukan sekadar waktu yang tertunda, melainkan sunyi yang terus bertanya: kapan seorang anak boleh pulang ke pelukan yang sejak awal telah membesarkannya.


















