Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaPeristiwaTeknologi

Dito dan Arus yang Tak Terlihat: Ketika Laut Tampak Tenang, Lalu Merenggut Seorang Anak

124
×

Dito dan Arus yang Tak Terlihat: Ketika Laut Tampak Tenang, Lalu Merenggut Seorang Anak

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MALAKA |LINTASTIMOR ID-Pantai Cemara Abudenok siang itu tampak ramah.
Ombak berkejaran kecil di bibir pasir, angin laut berhembus ringan, dan tawa anak-anak SMP Negeri Fatukoan pecah seperti libur yang memang pantas dirayakan. Tak ada yang menyangka, dari biru yang terlihat jinak itu, laut sedang menyiapkan satu jalan pulang—bukan ke pantai, melainkan ke kedalaman.

Namanya Jorganio Faot, akrab dipanggil Dito, 15 tahun. Seorang pelajar SMP. Anak yang datang untuk piknik, bukan untuk berpamitan. Minggu siang, sekitar pukul 12.30 WITA, di Pantai Cemara Abudenok, Desa Umatoos, Kecamatan Malaka Barat, langkah kecil Dito berhenti di garis air. Ia masuk bersama teman-temannya—seperti anak-anak lain yang percaya bahwa laut selalu bersahabat.

Namun laut selatan Pulau Timor, bagian dari Samudera Hindia, menyimpan arus yang tak selalu memberi tanda.

Example 300x600

Hari Piknik yang Berubah Menjadi Penantian

Rombongan 32 siswa bersama empat orang dewasa pendamping tiba di pantai untuk berwisata. Beberapa anak memilih bermain pasir, sebagian lain mandi di tepi laut. Dito ikut yang terakhir. Tidak jauh, tidak dalam—setidaknya begitulah yang terlihat dari darat.

Lalu, dalam hitungan detik, ketenangan itu retak.

Dito diduga terseret arus kuat saat berada sedikit lebih ke dalam. Ombak tidak memukul keras, tidak ada teriakan panjang, tidak ada kepanikan yang sempat disiapkan. Tubuh remaja itu tak kembali ke permukaan. Laut menutup jejaknya dengan cara paling sunyi.

Sejak saat itu, waktu di Pantai Cemara Abudenok berhenti berjalan normal.

Pencarian yang Berpacu dengan Harap

Hingga hari-hari berikutnya, Dito belum ditemukan.
Tim gabungan terus bergerak: Basarnas Kupang (Pos Wilayah Operasi Malaka, Belu, dan TTU), Satuan Samapta Polres Malaka, Polsek Malaka Barat, BPBD Kabupaten Malaka, Tagana Dinas Sosial, serta nelayan setempat.

Mereka menyisir laut dan garis pantai—mencari bukan hanya tubuh seorang anak, tetapi juga jawaban bagi keluarga yang menunggu dengan doa yang tak lagi rapi.

“Kami hanya ingin Dito pulang,”
ucap seorang warga pelan, lebih seperti bisikan daripada kalimat.

Arus yang Tak Terlihat, Tapi Mematikan

Tragedi ini diduga kuat disebabkan oleh rip current—arus laut berbahaya yang sering disalahpahami sebagai ombak biasa.

Dirujuk dari Pusat Meteorologi Maritim BMKG, rip current adalah arus kuat yang bergerak menjauhi pantai menuju laut lepas.
Sementara NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) menjelaskan, arus ini mengalir terkonsentrasi dan cepat, menembus zona ombak pecah, seperti sungai sempit yang tiba-tiba muncul di tengah laut.

Rip current tidak menarik ke bawah,
tetapi menyeret ke tengah laut—
diam, cepat, dan sering kali tak disadari.

Lebarnya bisa sekitar 25 meter, kecepatannya dapat melampaui 2 meter per detik. Tak ada manusia yang mampu melawannya.

Tanda-Tanda yang Sering Terabaikan

Rip current kerap tampak tenang, bahkan seperti jalur air yang “lebih aman”. Padahal, justru di sanalah bahaya bersembunyi.

Beberapa cirinya antara lain:

  • Perbedaan buih laut yang bergerak tak biasa
  • Celah gelombang pecah di sepanjang pantai
  • Warna air yang tampak lebih gelap atau lebih terang
  • Benda mengapung yang tertarik lurus ke tengah laut

Yang mematikan dari rip current bukan hanya kecepatannya,
tetapi ketidakmampuannya untuk dikenali oleh mata awam.

Ketika Manusia Melawan Alam dengan Naluri yang Salah

Menurut United States Lifesaving Association (USLA), 80 persen kasus penyelamatan di pantai disebabkan rip current.
Banyak korban tenggelam bukan karena tidak bisa berenang, tetapi karena berenang melawan arus—sebuah refleks manusia yang justru menguras tenaga hingga habis.

Di laut, keberanian tanpa pengetahuan bisa berubah menjadi bencana.

Jika Terlanjur Terseret

Para ahli keselamatan laut menyarankan:

  • Jangan melawan arus
  • Tetap tenang
  • Berenang sejajar pantai hingga keluar dari jalur arus
  • Angkat tangan dan minta pertolongan

Langkah sederhana—yang sayangnya sering tak sempat diajarkan sebelum tragedi datang.

Catatan Sunyi dari Pantai Selatan

Rip current adalah arus yang tampak jinak namun menghanyutkan.
Dalam satu menit, seseorang bisa merasa mengapung dengan tenang—lalu tiba-tiba diseret jauh ke laut dengan kecepatan yang tak memberi kesempatan berpikir.

Pantai Cemara Abudenok hari ini bukan hanya lokasi wisata. Ia telah menjadi ruang ingatan, tempat seorang anak SMP hilang di antara ombak, dan orang-orang dewasa belajar dengan cara paling mahal: kehilangan.

Dito datang ke laut untuk bermain.
Laut membawanya pergi tanpa pamit.

Pencarian masih berlangsung.
Doa-doa terus dikirim.
Dan di tepi Pantai Cemara Abudenok, angin laut kini membawa satu pesan yang tak boleh lagi diabaikan:
laut tak selalu ramah—terutama ketika kita lengah.

 

Example 300250
Penulis: Agustinus BobeEditor: Agustinus Bobe