Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaPeristiwaPolkam

Diterjang Arus Kali Pinang, Mobil Pengawal Bupati Kupang Terseret Banjir di Naitae

213
×

Diterjang Arus Kali Pinang, Mobil Pengawal Bupati Kupang Terseret Banjir di Naitae

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KUPANG |LINTASTIMOR.ID,— Deru air lebih cepat dari sirene pengawal. Di Kali Pinang, Desa Naitae, Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat 13 Februari 2026, siang itu tak ada protokol yang mampu menahan derasnya arus. Satu unit mobil pengawal rombongan Bupati Kupang terseret banjir, bergulat dengan pusaran lumpur yang datang tanpa aba-aba.

Langit tak lagi sekadar mendung. Ia runtuh dalam curah hujan yang membabi buta. Sungai yang biasanya jinak mendadak menjelma jalur deras tak termaafkan. Warga berlarian ke tepi, sebagian menahan napas, sebagian lagi berteriak memberi isyarat.

Example 300x600

Mobil itu sempat berhenti di bibir arus. Mesin meraung. Ban berputar. Namun air lebih perkasa. Dalam hitungan detik, kendaraan terseret beberapa meter, tubuhnya miring, terombang-ambing sebelum akhirnya tertahan di sisi alur yang lebih dangkal.

Seorang warga Naitae. Sorotan Nomleni yang menyaksikan langsung peristiwa itu berkisah dengan suara bergetar.

“Air datang tiba-tiba, Pak. Kami kira masih aman. Tapi arusnya kuat sekali. Mobil itu seperti kertas diseret tangan besar yang tak terlihat,” ujarnya pelan.

Tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Aparat dan warga sigap membantu proses evakuasi. Namun peristiwa itu meninggalkan satu pertanyaan besar: mengapa setiap musim hujan, Kali Pinang selalu berubah menjadi ancaman yang sama?

Kali Pinang bukan nama baru dalam daftar titik rawan banjir di wilayah Kabupaten Kupang. Desa Naitae, khususnya wilayah Siumate, kerap menjadi saksi bagaimana alam memberi peringatan. Drainase yang belum tertata, sedimentasi sungai, serta minimnya infrastruktur pengaman memperparah dampak setiap hujan lebat turun.

Seorang tokoh masyarakat Fatuleu Barat menuturkan harapannya di tengah lumpur yang belum kering.

“Kami tidak ingin hanya viral sehari. Kami ingin solusi yang nyata. Sungai ini harus ditata. Kalau mobil pengawal saja bisa terseret, bagaimana dengan kami yang setiap hari melintas?” katanya dengan mata menatap aliran yang masih keruh. Nikodemus

Peristiwa ini menjadi simbol ironi: rombongan kekuasaan pun tak kebal terhadap alam yang murka. Banjir tidak mengenal jabatan, tidak memilih siapa yang melintas. Ia datang dengan satu bahasa—peringatan.

Kini, jejak ban di tanah basah menjadi saksi bahwa pembangunan tak boleh sekadar janji di podium. Infrastruktur pengendali banjir, normalisasi sungai, dan sistem peringatan dini bukan lagi wacana, melainkan kebutuhan mendesak.

Di ujung senja Naitae, arus mulai surut. Namun kegelisahan belum benar-benar reda. Kali Pinang mengajarkan satu hal: ketika alam berbicara, manusia seharusnya mendengar lebih cepat daripada sirene.

Example 300250