TIMIKA | LINTASTIMOR.ID — Di tanah yang jaraknya diukur bukan oleh kilometer, melainkan oleh sungai, hutan, dan kabut pegunungan, pelayanan kesehatan tidak cukup hanya dibangun—ia harus dihadirkan. Dan di Kabupaten Mimika, kehadiran itu kini dimulai dari sebuah rumah kecil yang berdiri tegak di tengah sunyi.
memprioritaskan pembangunan rumah petugas kesehatan di wilayah terpencil. Bukan sekadar bangunan beratap seng dan berdinding papan, tetapi satu paket harapan yang dirancang agar tenaga kesehatan benar-benar tinggal, menyala, dan melayani.
Kepala Dinas Kesehatan Mimika, , menyebut pembangunan itu dilakukan secara utuh—tanpa setengah hati.
╔════════════════════════════════════╗
“Iya, satu paket. Mulai dari rumah petugas,
mebelernya, internetnya, solar cell-nya,
sampai sarana air bersihnya. Itu sudah termasuk.”
╚════════════════════════════════════╝
Di Mimika, membangun pustu tanpa rumah petugas ibarat menyalakan lampu tanpa listrik. Cahaya tak pernah benar-benar hadir. Karena itu, rumah menjadi fondasi pertama—agar ada yang tinggal, ada yang berjaga, ada yang menyambut warga yang datang dengan luka, demam, atau sekadar ingin memastikan anaknya tumbuh sehat.
╔════════════════════════════════════╗
“Kalau bangun pustu tanpa rumah petugas,
petugasnya tidak ada. Tapi kalau rumah petugas dibangun,
sudah pasti ada yang tinggal dan melayani.”
╚════════════════════════════════════╝
Saya membayangkan malam di kampung pesisir atau pegunungan Mimika. Lampu dari solar cell menyala pelan. Di dalam rumah dinas sederhana itu, seorang perawat menyiapkan obat untuk esok hari. Di luar, angin membawa aroma hutan dan laut. Pelayanan kesehatan tak lagi menunggu pagi di kota—ia telah menetap di jantung kampung.
Namun strategi Dinkes Mimika tak berhenti pada infrastruktur. Mereka bergerak lebih jauh: menjemput. Bukan lagi menunggu warga datang ke puskesmas, tetapi mendatangi rumah-rumah dengan langkah kaki dan niat yang tulus.
Program Cek Kesehatan Gratis dikolaborasikan dengan inovasi daerah: Pusjaki (Puskesmas Jalan Kaki) untuk wilayah pesisir dan pegunungan, serta Kakak Sehat (Kunjungan Keluarga Sehat) di kawasan perkotaan. Dari rumah ke rumah, dari dermaga ke lereng bukit, tenaga kesehatan menyapa masyarakat satu per satu.
╔════════════════════════════════════╗
“Strateginya adalah jemput bola.
Tidak lagi hanya menunggu masyarakat
datang ke fasilitas kesehatan.”
╚════════════════════════════════════╝
Di sebuah gang kota Timika, seorang ibu mungkin terkejut ketika pintunya diketuk oleh petugas kesehatan yang datang membawa alat pemeriksaan. Di kampung pesisir, seorang anak diperiksa di beranda rumahnya, ditemani suara ombak. Sementara di pegunungan, langkah-langkah Pusjaki menembus jalan setapak, menjadikan pelayanan kesehatan sebagai tamu yang dinanti.
Kolaborasi program nasional dan inovasi daerah itu kini telah menjangkau lebih dari 60 persen masyarakat Mimika. Angka itu bukan sekadar statistik; ia adalah wajah-wajah yang kini merasa diperhatikan, diperiksa, dan dipastikan kesehatannya.
Di Mimika, pelayanan kesehatan tak lagi hanya berdiri di gedung-gedung permanen. Ia berjalan, mengetuk pintu, tinggal, dan menyala di tengah sunyi.
Dan di ujung Papua Tengah itu, rumah-rumah kecil bagi petugas kesehatan telah berubah menjadi mercusuar—menandai bahwa negara benar-benar hadir, bahkan di tempat yang paling jauh dari sorot lampu kota.


















