Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupNasionalPeristiwaPolkamTeknologi

Di Ujung Negeri, Disiplin Ditanamkan untuk Menjaga Martabat Bangsa

375
×

Di Ujung Negeri, Disiplin Ditanamkan untuk Menjaga Martabat Bangsa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA | LINTASTIMOR.ID —
Angin perbatasan berembus pelan di Kampus Politeknik Ben Mboi. Di antara barisan kadet berseragam rapi, sejarah kecil sedang ditulis—bukan dengan teriakan, melainkan dengan tatapan tegak, punggung lurus, dan disiplin yang dipelajari sejak dini. Kamis pagi itu, 22 Januari, Fakultas Vokasi Logistik Militer (FVLM) Universitas Pertahanan Republik Indonesia tak sekadar menerima tamu negara; ia menerima pesan tentang masa depan bangsa.

Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Dr. Sjafrie Sjamsoeddin, M.B.A., melangkah di antara para kadet. Didampingi Rektor Unhan RI Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Anton Nugroho, M.M.D.S., M.A. dan Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita, Menhan meninjau langsung denyut pendidikan vokasi pertahanan di tapal batas negara. Kunjungan itu disambut Dekan FVLM Unhan RI Marsekal Muda TNI Dr. Penny Radjendra, S.T., M.Sc., M.Sc., bersama jajaran pimpinan, dosen, dan para Kadet Mahasiswa FVLM—generasi yang kelak memanggul logistik, strategi, dan kehormatan.

Example 300x600

Di aula yang hening namun tegang oleh perhatian, Menhan berdiri memberi pembekalan. Nada suaranya tenang, namun setiap kalimat terasa seperti palu yang menempa baja.

“Kalian adalah tumpuan harapan bangsa.
Kalian yang akan menjawab tantangan masa depan
dan memikul tanggung jawab agar negara kita tetap maju dan bermartabat.”

Kata-kata itu menggantung sejenak di udara. Foreshadowing dari jalan panjang yang akan ditempuh para kadet—jalan sunyi, keras, dan menuntut pengabdian tanpa kompromi.

Menhan tak berhenti di sana. Ia mengingatkan bahwa disiplin bukan sekadar aturan, melainkan identitas. Sebuah ciri khas pertahanan yang menentukan menang atau kalahnya sebuah bangsa.

“Disiplin itu adalah ciri khas pertahanan.
Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan,
karena orang malas adalah pangkal kekalahan.”

Kalimat itu bukan sekadar nasihat; ia adalah garis batas. Di hadapan para kadet FVLM, disiplin dimaknai sebagai laku hidup—ritme napas yang mengatur langkah, pikiran, dan keputusan.

Lebih jauh, Menhan menegaskan bahwa FVLM bukan ruang perbedaan yang tercerai, melainkan rumah kebangsaan. Di sinilah identitas daerah dilebur menjadi kekuatan kolektif. Dari barat hingga timur, dari kota hingga kampung, semuanya berdiri setara dalam satu barisan.

“Di fakultas ini tidak ada lagi perbedaan asal daerah.
Yang ada adalah kadet Bhinneka Tunggal Ika.
Kalian harus menjadi satu dan membangun jiwa korsa.”

Di bangku-bangku itu, persatuan diajarkan bukan lewat slogan, melainkan lewat kebersamaan sehari-hari—makan bersama, berlatih bersama, gagal dan bangkit bersama. Di Belu, jauh dari hiruk pusat kekuasaan, persatuan justru dipelajari dengan cara paling jujur.

Kunjungan kerja ini menegaskan satu hal: pertahanan masa depan tidak hanya dibangun di pusat, tetapi juga di perbatasan. Di kampus sederhana yang menghadap garis negara lain, logistik militer diajarkan sebagai ilmu, disiplin ditanamkan sebagai karakter, dan nasionalisme dirawat sebagai iman kebangsaan.

Saat rombongan Menhan meninggalkan kampus, barisan kadet tetap tegak. Tak ada sorak. Hanya sunyi yang penuh makna—sunyi sebelum perjalanan panjang dimulai.

Dan mungkin, di antara para kadet itu, sedang tumbuh sosok-sosok yang kelak menentukan apakah bangsa ini tetap berdiri dengan kepala tegak, atau goyah oleh kelalaian.
Cliffhanger itu kini diserahkan kepada waktu—dan kepada disiplin yang hari ini ditanamkan di ujung negeri.

 

Example 300250