Keluarga Besar Paroki Kristus Jaya Komopa Siap Menyukseskan MUSPAS Mee Ke-VIII
NABIRE | LINTASTIMOR.ID —
Di tanah yang dingin oleh kabut pagi dan hangat oleh doa-doa tua, Gereja kembali menganyam masa depannya. Dari Komopa, jantung pelayanan di wilayah Mee Pago, para biarawan dan biarawati—anak-anak tanah Mee sendiri—bersiap menyukseskan Musyawarah Pastoral (MUSPAS) Mee Ke-VIII Tahun 2026, sebuah perjumpaan iman yang bukan sekadar rapat, melainkan ziarah bersama.
Di Paroki Kristus Jaya Komopa, kesiapan itu bukan dinyatakan dengan spanduk atau seremonial berlebih, tetapi dengan kehadiran, dengan komitmen, dengan hati yang telah lama ditempa oleh doa dan pelayanan. Para imam, frater, dan suster dari suku Mee memastikan diri hadir, berdiri di tengah umat, berjalan bersama Gereja.
“Gereja tidak lahir dari gedung megah, tetapi dari orang-orang yang mau saling menopang di jalan yang terjal,”
— seorang imam Mee menuturkan dengan tenang.
MUSPAS Mee Ke-VIII akan menghimpun delegasi umat Katolik suku Mee dari berbagai wilayah. Mereka datang membawa cerita: tentang iman yang bertahan di tengah keterbatasan, tentang Gereja yang tumbuh bersama budaya, dan tentang harapan akan arah pelayanan pastoral yang lebih membumi, lebih manusiawi, dan lebih setia pada Injil.
Paroki Kristus Jaya Komopa—yang berpusat di Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah—selama ini menjadi salah satu poros penting evangelisasi dan pendampingan umat Mee Pago. Dari wilayah inilah, banyak panggilan imamat dan hidup bakti lahir, bertumbuh, dan kembali melayani tanah asalnya.
Sejumlah imam suku Mee dipastikan hadir dalam MUSPAS ini, di antaranya Pastor Stefanus Wadoyaibi Yogi, Pr., Pastor Yanuarius Yance Wadogoubi Yogi, Pr., dan Pastor Yosep Tuwipapa Bunai, Pr.
Turut pula para frater yang tengah menjalani tahun rohani di Nabire: Frater Yulianus Kadepa, Frater Vinsen Yogi, dan Frater Davidson Kadepa—wajah-wajah muda Gereja yang sedang dipersiapkan untuk masa depan.
Dari sisi hidup bakti perempuan, kehadiran para suster juga menjadi penanda kuat bahwa MUSPAS ini adalah peristiwa seluruh Gereja. Suster Maria Stefanita Yogi, PRR, Suster Maria Yosefita Yogi, PRR, dan Suster Maria Yolanda Yogi, PRR dipastikan ambil bagian, membawa spiritualitas pelayanan yang setia dan sunyi.
“Di tanah ini kami dilahirkan, dari umat ini kami dipanggil, dan untuk Gereja inilah kami kembali,”
— refleksi seorang suster asal Mee.
MUSPAS Mee Ke-VIII Tahun 2026 mengusung tema “Iya-Iya Akatiyake” — Kita saling menyelamatkan, bangkit dan berjalan bersama.
Sebuah tema yang lahir dari kebijaksanaan lokal dan denyut Injil. Subtema “Koya Kou Ani Dou Ma Ida Awii Maa” — Kita memilih yang baik, mengambil yang baik, dan mengisinya dalam hidup kita — menjadi kompas etis bagi arah pastoral ke depan.
Tema ini seakan menjawab sabda Kitab Suci:
“Hendaklah kamu saling menanggung bebanmu! Dengan demikian kamu memenuhi hukum Kristus.”
(Galatia 6:2)
MUSPAS bukan hanya tentang dokumen dan rekomendasi, melainkan tentang kesediaan untuk saling menanggung, saling menyelamatkan, dan berjalan bersama—umat, gembala, dan hidup bakti—di tanah Mee yang penuh tantangan sekaligus pengharapan.
Di Komopa, di Paniai, di seluruh Mee Pago, Gereja sedang belajar satu hal yang sederhana namun mendalam: iman yang hidup selalu lahir dari kebersamaan.
Dan MUSPAS Mee Ke-VIII adalah salah satu penjahitan terpenting dari kebersamaan itu.


















