Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaHukum & KriminalPeristiwaPolkam

Di Sunyi sinak, Negara Hadir: Pengamanan Prapaskah jadi Penegas Damai di Tanah Papua

68
×

Di Sunyi sinak, Negara Hadir: Pengamanan Prapaskah jadi Penegas Damai di Tanah Papua

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PUNCAK |LINTASTIMOR.ID— Di tengah bentang alam Sinak yang hening dan udara dingin pegunungan Papua Tengah, langkah-langkah aparat dan umat berpadu dalam satu ritme yang tenang. Sabtu (4/4/2026), di Gereja Santa Elisabeth, ibadah prapaskah berlangsung bukan hanya sebagai ritual iman, tetapi juga sebagai ruang aman yang dijaga dengan kesadaran penuh.

Personel Satgas Tindak dalam Operasi Damai Cartenz 2026 berdiri siaga—bukan sekadar mengamankan, tetapi menghadirkan rasa teduh. Kehadiran mereka terasa dekat, menyatu dengan warga, dalam pendekatan yang tidak kaku, melainkan hangat dan humanis.

Example 300x600

Ibadah berjalan khidmat. Umat berdoa dalam ketenangan, sementara di luar, aparat memastikan setiap sudut tetap kondusif. Tidak ada kegaduhan, tidak ada ketegangan—yang ada hanyalah rasa percaya yang perlahan tumbuh.

Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Irjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, menegaskan bahwa pengamanan kegiatan keagamaan merupakan prioritas utama dalam menjaga stabilitas wilayah Papua.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
“Polri berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat dalam memberikan rasa aman, khususnya pada kegiatan ibadah, sehingga masyarakat dapat beraktivitas dengan tenang.”
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Pernyataan itu bukan sekadar formalitas. Ia menemukan maknanya di lapangan—dalam setiap tatapan tenang umat, dalam setiap langkah yang terasa lebih ringan karena ada jaminan keamanan.

Sementara itu, Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol. Adarma Sinaga, menekankan bahwa pendekatan humanis menjadi fondasi utama dalam pelaksanaan tugas di wilayah ini.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
“Kami mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis dalam setiap pelaksanaan tugas, sehingga kehadiran Polri dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.”
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Pendekatan itu terlihat nyata—tidak ada jarak yang kaku antara aparat dan warga. Yang terbangun justru kedekatan, sebuah komunikasi tanpa kata yang menumbuhkan rasa saling percaya.

Dari hasil kegiatan, pengamanan ibadah berlangsung aman dan mendapat respons positif dari masyarakat. Kehadiran aparat tidak hanya menjaga stabilitas keamanan di Distrik Sinak, tetapi juga memberikan kenyamanan yang dirasakan langsung oleh umat yang beribadah.

Secara kontekstual, pengamanan dengan pendekatan humanis seperti ini menjadi strategi penting di Papua—wilayah yang selama ini menghadapi dinamika keamanan yang kompleks. Ketika aparat hadir bukan hanya sebagai penjaga, tetapi juga sebagai mitra masyarakat, maka ruang-ruang kepercayaan perlahan terbuka, menciptakan fondasi damai yang lebih berkelanjutan.

Pada akhirnya, di balik doa-doa yang dipanjatkan dalam sunyi gereja itu, ada harapan yang sama: bahwa damai bukan sekadar dijaga dengan kekuatan, tetapi dirawat dengan kehadiran yang tulus dan kemanusiaan yang nyata.

Example 300250