LOTAS | LINTASTIMOR.ID —
Di sebuah ruang rapat sederhana di SMAS Leona Fatukmetan Lotas, Desa Lotas, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, masa depan sedang dipersiapkan dengan sungguh-sungguh. Bukan dengan gegap gempita, melainkan lewat diskusi panjang, catatan tangan, dan tekad para guru yang memilih datang lebih awal demi satu tujuan: memastikan 25 murid kelas XII siap menghadapi Ujian Akhir Sekolah (UAS) Tahun Pelajaran 2025/2026.
Rapat Dewan Guru yang digelar jauh sebelum kalender akademik bergulir ke bulan April 2026 itu terasa berbeda. Waktu dipercepat, langkah disegerakan.
Libur panjang yang menanti dan jadwal kerja yang kian mepet menjadi alasan kuat mengapa persiapan harus dimulai dari sekarang—sebelum semuanya terlambat.
Rapat dipimpin langsung oleh Kepala SMAS Leona Fatukmetan Lotas, Gabriel Nahak Seran, S.Pd, dengan suasana yang tenang namun sarat tanggung jawab. Di hadapan para pendidik, ia menegaskan bahwa UAS bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum penentuan arah hidup anak-anak Lotas.
▌ “Ujian akhir bukan hanya soal nilai, tetapi soal kesiapan mental, kedewasaan berpikir, dan tanggung jawab murid terhadap masa depannya sendiri,”
— Gabriel Nahak Seran, S.Pd, Kepala SMAS Leona Fatukmetan Lotas, Jumat (6/2/2026).
Keputusan rapat pun tidak setengah-setengah. Para guru sepakat mengambil peran lebih aktif, lebih dekat, dan lebih intens dalam mendampingi murid—baik secara teori maupun praktik. Tidak ada ruang bagi pembelajaran yang sekadar formalitas.
▌ “Setiap guru mata pelajaran wajib membimbing murid sampai benar-benar mampu dan siap mengikuti ujian, bukan sekadar hadir di kelas,”
— Keputusan Rapat Dewan Guru
Langkah konkret kemudian dirumuskan. Program studi sore ditetapkan sebagai bagian penting dari strategi pembelajaran. Setiap hari, mulai pukul 15.00 hingga 17.00 WITA, murid akan mengikuti pendalaman materi di bawah pengawasan guru yang telah ditunjuk secara khusus.
Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Jonisius Obes, S.Pd.Gr, dipercaya memandu pembentukan panitia UAS sekaligus mengawal teknis pelaksanaan program pendampingan belajar. Ia menekankan bahwa disiplin dan konsistensi akan menjadi kunci keberhasilan.
▌ “Anak-anak tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri menuju ujian. Sekolah harus hadir sebagai pendamping, bukan sekadar penguji,”
— Jonisius Obes, S.Pd.Gr, Wakasek Kesiswaan
Selain itu, rapat juga memutuskan penunjukan guru Bahasa untuk membimbing penyusunan karya ilmiah siswa hingga pelaksanaan ujian komprehensif. Bagi sekolah, karya tulis bukan sekadar syarat administratif, melainkan latihan berpikir kritis dan bertanggung jawab secara akademik.
Rapat ini juga menjadi titik awal sosialisasi kepada orang tua/wali murid serta para pemangku kepentingan pendidikan di wilayah setempat. Sekolah menyadari, keberhasilan murid bukan hanya tanggung jawab guru, tetapi hasil dari kerja bersama antara sekolah, keluarga, dan lingkungan.
Di Lotas, persiapan UAS bukanlah rutinitas tahunan yang dijalani sambil lalu. Ia adalah proses sunyi yang dikerjakan dengan kesadaran penuh—bahwa dari ruang kelas kecil di Fatukmetan, akan lahir langkah-langkah besar menuju masa depan.
Dan pagi April 2026 nanti, ketika lembar ujian dibagikan, para guru di SMAS Leona Fatukmetan Lotas tahu: mereka telah melakukan yang terbaik, jauh sebelum bel ujian pertama berbunyi.


















