TIMIKA | LINTASTIMOR.ID —
Pagi itu, angin laut Pomako berembus pelan, membawa aroma garam dan doa. Di pelabuhan milik Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), langkah-langkah manusia berkumpul bukan untuk berangkat atau berlabuh, melainkan untuk bersyukur. Di sanalah, menjelang tahun 2026, YPMAK menggelar ibadah syukur—sebuah penanda batin bahwa kerja panjang harus selalu dimulai dan diakhiri dengan iman.
Ibadah yang berlangsung Jumat (30/01/2026) itu dihadiri seluruh jajaran internal YPMAK. Di tengah deru laut yang setia, doa-doa dipanjatkan sebagai ungkapan terima kasih atas perjalanan tahun 2025, sekaligus permohonan hikmat untuk langkah-langkah ke depan.
Dipimpin oleh Pater Didimus, ibadah mengangkat kisah Raja Daud—seorang pemimpin yang besar bukan hanya karena kuasa, tetapi karena hatinya yang kembali pada Tuhan. Dari kisah itu, Pater Didimus mengingatkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari fokus pada tujuan yang benar dan kesetiaan pada tanggung jawab.
“Pemimpin yang berkenan di hadapan Tuhan adalah mereka yang tidak tersesat oleh kuasa, tetapi terus menata langkahnya pada kehendak-Nya,”
ujar Pater Didimus dalam refleksinya.
Ayat Kitab Suci yang dibacakan seolah meneguhkan suasana pagi itu:
“Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.”
(Mazmur 127:1)
Bagi YPMAK—pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia—ayat ini bukan sekadar bacaan liturgis. Ia menjelma menjadi prinsip kerja: bahwa program, anggaran, dan capaian hanya akan bermakna jika dibangun di atas kejujuran, kolaborasi, dan ketulusan melayani masyarakat.
Ketua YPMAK, Dr. Leonardus Tumuka, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh karyawan, staf, dan mitra strategis. Ia menegaskan bahwa capaian-capaian YPMAK sepanjang 2025 adalah buah dari kerja bersama—bukan hasil satu tangan, melainkan banyak hati.
“Kerja keras dan dedikasi kita semua telah menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Ini bukan prestasi individu, melainkan berkat dari kolaborasi,”
tutur Dr. Leonardus dengan nada reflektif.
Lebih jauh, Leonardus mengajak seluruh elemen YPMAK untuk menjaga semangat kebersamaan itu. Tantangan 2026, katanya, tidak akan ringan. Namun dengan kerja sama yang solid, target-target pembangunan bagi masyarakat Amungme, Kamoro, dan Lima Suku Kekerabatan diyakini dapat dicapai secara berkelanjutan.
“Dua orang lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka,”
(Pengkhotbah 4:9)
Ayat itu, seakan menemukan wujudnya di Pelabuhan Pomako. Di sana, iman bertemu kerja, doa bertemu strategi, dan syukur bertemu tanggung jawab.
Leonardus berharap, ibadah syukur ini tidak berhenti sebagai ritual tahunan, melainkan menjadi energi moral yang mengalir dalam setiap program YPMAK—dari pesisir hingga pegunungan, dari ruang rapat hingga kampung-kampung adat.
Di ujung ibadah, laut tetap berdebur. Namun di hati para peserta, ada ketenangan baru: keyakinan bahwa selama iman dijaga dan kolaborasi dirawat, pembangunan Mimika bukan hanya tentang angka dan laporan, melainkan tentang kehidupan yang dimuliakan.
Dan di pelabuhan itu, YPMAK kembali meneguhkan satu hal:
bahwa jalan kemajuan paling kokoh selalu dimulai dari syukur.


















