Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaPeristiwaPolkam

Di Jerebuu, Negara Menunduk: Gubernur NTT Menyapa Duka Keluarga YBR

5
×

Di Jerebuu, Negara Menunduk: Gubernur NTT Menyapa Duka Keluarga YBR

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ENDE | LINTASTIMOR.ID
Sabtu itu, Jerebuu tak ramai. Udara desa terasa lebih berat dari biasanya. Di Kampung Dona, sebuah rumah sederhana menjadi titik pertemuan antara negara dan duka, antara kekuasaan dan kehilangan yang tak terkatakan.

Di sanalah YBR (10) pernah tertawa, pernah berharap, lalu pergi dengan cara yang tak pernah seharusnya dialami seorang anak. Hari itu, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena, datang bukan sebagai pejabat semata, melainkan sebagai sesama manusia yang menundukkan kepala di hadapan duka yang terlalu dalam untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Example 300x600

Ia menyalami Maria Goreti Te’a, ibu YBR, memeluk Wilhelmina Nenu, sang nenek, dan berdiri lama di sisi makam kecil yang kini menyimpan masa depan yang terhenti. Tak ada pidato panjang di sana. Hanya doa, diam, dan mata yang berkaca-kaca.

Kunjungan tersebut turut dihadiri para kepala daerah dan jajaran Forkopimda, di antaranya Bupati Ngada Raymundus Bena, Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhey Ngebu, Bupati Nagekeo Simplisius Donatus, Wakil Bupati Ende Dominikus Minggu Mere, serta pimpinan perangkat daerah Provinsi NTT. Namun sorotan hari itu tetap satu: seorang anak yang kepergiannya mengguncang nurani publik.

“Kepergian anak kita YBR ini bukan hanya duka keluarga dan duka warga Ngada, tetapi telah menjadi duka nasional. Ini duka kita semua,”
ujar Gubernur Melki Laka Lena dengan suara tertahan.

Ia mengakui keterlambatan kehadiran negara di ruang duka tersebut, sebuah pengakuan yang jujur dan jarang terdengar.

“Sebagai wakil pemerintah pusat di daerah ini, kami mohon maaf baru bisa hadir hari ini. Kami menyampaikan duka yang sangat mendalam kepada keluarga,” katanya.

Namun lebih dari belasungkawa, kunjungan itu menjadi cermin refleksi bagi pemerintah. Gubernur tak menutup mata atas kenyataan pahit yang terungkap dari tragedi ini.

“Peristiwa ini menyadarkan kami bahwa masih banyak kekurangan yang harus kami benahi. Kami harus bekerja lebih sungguh untuk mengurus masyarakat, terutama keluarga-keluarga yang berada dalam kondisi rentan seperti ini,” tuturnya.

Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk memperbaiki layanan publik secara menyeluruh—pendidikan, kesehatan, ekonomi—agar tak ada lagi anak yang merasa sendirian menghadapi beban hidup.

“Bersama Bapak Presiden dan para menteri, kami ingin bekerja lebih baik lagi dalam melayani masyarakat. Ini tanggung jawab moral dan kemanusiaan kami,” tegas Gubernur.

Dalam refleksi yang lebih luas, Gubernur juga menyinggung pentingnya menghidupkan kembali seluruh pranata sosial kemanusiaan yang selama ini menjadi penyangga kehidupan masyarakat NTT.

“Pemerintahan, adat, budaya, agama, dan seluruh pranata sosial harus bekerja maksimal. Tidak boleh ada satu pun yang abai ketika warganya terluka,” ungkapnya.

Di hadapan warga, ia menitipkan pesan yang sederhana namun bermakna dalam: menjaga solidaritas dan empati sebagai warisan paling berharga.

“Mari kita terus baku jaga, baku sayang, dan baku bantu. Pemerintah akan terus berbenah, dan kami berharap masyarakat tetap saling melindungi dan menyayangi,” katanya.

Di akhir pertemuan, Gubernur menyampaikan apresiasi kepada insan pers yang mengawal peristiwa ini sejak awal—sebuah pengakuan bahwa jurnalisme bukan sekadar pemberitaan, melainkan penjaga nurani publik.

“Terima kasih kepada rekan-rekan jurnalis yang telah memberitakan peristiwa ini dengan empati dan kritik yang membangun. Itu membantu kami untuk bercermin dan bekerja lebih baik,” tutupnya.

Di Jerebuu, negara akhirnya hadir—meski terlambat. Dan di atas makam kecil YBR, doa-doa mengalir pelan, membawa satu harapan sunyi: tak ada lagi anak yang pergi karena merasa tak didengar.

 

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.idEditor: Agustinus Bobe