PAPUA |LINTASTIMOR.I — Ramadhan di timur Indonesia selalu punya cerita sendiri. Ia tak hanya tentang sahur dan azan magrib, tetapi juga tentang kapal yang menembus gelombang, truk tangki yang merayap di jalan berliku, dan tangki-tangki raksasa yang harus tetap terisi agar dapur tetap menyala, mesin tetap hidup, dan perjalanan tetap berlanjut, Kamis (19/2/2026).
Di tengah lanskap kepulauan dan pegunungan Papua–Maluku yang menantang, memastikan satu hal: energi tidak boleh ikut berpuasa.
Sejak awal Februari, perencanaan diperketat. Terminal BBM—yang juga dikenal sebagai Fuel Terminal atau Integrated Terminal—dijaga ritmenya. Sebab di bulan suci, konsumsi cenderung meningkat. Mobilitas bertambah. Aktivitas ekonomi menggeliat menjelang Lebaran.
Di balik layar distribusi, ada hitung-hitungan presisi dan kerja senyap yang tak selalu terlihat publik.
“Wilayah Maluku dan Papua memiliki tantangan tersendiri mendistribusi ke wilayah kepulauan dan pegunungan. Sejak awal Februari lalu, kami terus melakukan perencanaan untuk memastikan stok di terminal BBM terjaga. Ini menjadi fondasi agar distribusi ke lembaga penyalur berjalan lancar dan akhirnya dinikmati masyarakat.”
— Awan Raharjo, Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku
Angka-Angka yang Menjadi Penjaga Ketahanan
Pada hari pertama puasa, Kamis (19/2), ketahanan stok di 21 Terminal BBM wilayah Maluku dan Papua dipastikan dalam kondisi aman. Solar berada pada level 11 hari, Pertalite 26 hari, Pertamax 29 hari, Dexlite 11 hari, sementara minyak tanah dan Avtur di level 21 hari.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik logistik. Ia adalah jaring pengaman.
Setiap hari, pergerakan stok dihitung ulang—menyesuaikan suplai yang masuk dan volume yang disalurkan ke SPBU, agen minyak tanah, hingga Aviation Fuel Terminal. Di wilayah dengan tantangan geografis ekstrem, satu keterlambatan kapal bisa berarti banyak. Karena itu, perencanaan menjadi kunci.
“Angka stok ini kami jaga setiap hari dengan perencanaan yang matang. Di Maluku dan Papua, pengiriman membutuhkan upaya ekstra karena tantangan geografis dan jarak tempuhnya.”
— Awan Raharjo
Di sinilah manajemen energi bertemu dengan realitas geografis. Laut bukan hanya jalur, tetapi juga risiko. Pegunungan bukan hanya bentang alam, tetapi juga ujian distribusi.
SPBU sebagai Ruang Singgah Ramadhan
Namun Ramadhan tak hanya tentang suplai dan angka ketahanan. Ia juga tentang kenyamanan. Tentang musafir yang lelah di perjalanan menjelang berbuka. Tentang keluarga yang menepi sejenak untuk menunaikan salat.
Di SPBU, perhatian tak berhenti pada nozzle dan dispenser. Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku memastikan toilet dan mushola tetap bersih dan layak, perlengkapan ibadah terawat, dan fasilitas dibersihkan setiap hari.
SPBU, di bulan suci, berubah menjadi ruang singgah yang lebih dari sekadar tempat mengisi bahan bakar.
“Bagi masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa dan berada di perjalanan, silakan mampir sejenak ke SPBU untuk beristirahat dan memanfaatkan mushola ketika waktu salat tiba. Kami akan terus menjamin kenyamanan fasilitas bagi masyarakat.”
— Awan Raharjo
Dalam lanskap pelayanan publik, inovasi tak selalu berbentuk teknologi canggih. Kadang ia hadir dalam bentuk kesadaran sederhana: bahwa energi bukan hanya soal mesin, tetapi juga manusia.
Energi sebagai Nafas Aktivitas
Di Papua dan Maluku, BBM adalah denyut nadi. Ia menggerakkan kapal antarpulau, pesawat perintis, kendaraan logistik, hingga genset di wilayah terpencil. Ketika stok aman, aktivitas sosial dan ekonomi tetap stabil. Ketika distribusi lancar, masyarakat bisa menjalani Ramadhan dengan tenang.
Komitmen menjaga suplai ini sekaligus menunjukkan bahwa energi adalah pelayanan dasar yang harus hadir tanpa jeda—terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
Bagi masyarakat yang membutuhkan informasi layanan, Pertamina membuka akses melalui Contact Center 135—sebuah kanal komunikasi yang menjadi jembatan antara perusahaan dan publik.
Di ujung negeri, ketika azan magrib berkumandang dan lampu-lampu mulai menyala, ada kerja panjang yang memastikan semua itu tetap mungkin.
Ramadhan di timur Indonesia bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga.
Ia juga tentang menjaga nyala—
agar kehidupan terus berjalan, bahkan di batas cakrawala.


















