Ketika Hoaks Ditolak dengan Tenang, dan Dukungan Dinyatakan Tanpa Amarah
ROTE NDAO |LINTASTIMOR.ID— Pagi itu, halaman Pengadilan Negeri Rote Ndao tidak riuh. Ia justru tampak teduh, seperti laut Bo’a yang tenang sebelum matahari benar-benar tinggi. Kurang lebih ratusan warga Desa Bo’a berdiri berderet, tanpa teriak, tanpa pengeras suara. Hanya poster-poster sederhana di tangan mereka—namun setiap kalimatnya berbicara lantang tentang satu hal: kebenaran.
Mereka hadir bertepatan dengan sidang lanjutan perkara dugaan penyebaran informasi bohong yang menjerat Erasmus Frans Mandato (EFM), Senin (5/1/2026). Di luar ruang sidang, warga memilih jalan sunyi: berdiri, menunggu, dan menyampaikan sikap dengan cara yang paling jujur—tanpa tekanan, tanpa amarah.
Tulisan pada poster-poster itu seperti cermin nurani kolektif.
“Maaf Batong Masyarakat Desa Bo’a Sonde Percaya Hoaks.”
“Hoaks Memang Gratis Tapi Hilang Kepercayaan.”
“Anti Hoaks, Jaga Akal Tetap Waras.”
Kalimat-kalimat itu mengalir sederhana, namun menyentuh. Bagi warga Desa Bo’a, hoaks bukan sekadar kabar bohong yang lewat di layar ponsel. Ia adalah racun pelan yang merusak kepercayaan, mengoyak harmoni, dan menanam curiga di antara tetangga.
Kehadiran mereka di PN Rote Ndao adalah ekspresi kekecewaan sekaligus perlawanan yang bermartabat. Bukan dengan suara tinggi, melainkan dengan keteguhan sikap.
Di antara poster penolakan hoaks, terselip pesan lain yang tak kalah tegas: dukungan terhadap PT Bo’a Development.
“PT Bo’a Development Bawa Manfaat, Bukan Janji.”
“Gerakkan Ekonomi Kami.”
“Buka Ruang Generasi Rote Ndao.”
“Maju Bersama PT Bo’a Development.”
Bagi warga, tudingan bahwa perusahaan menutup akses jalan menuju pantai wisata Desa Bo’a adalah cerita yang tak mereka kenali di lapangan. Seperti bayangan yang dibesar-besarkan cahaya, tuduhan itu, menurut mereka, tak sejalan dengan realitas yang mereka jalani sehari-hari.
“Kami lihat dan rasakan sendiri,” ungkap salah satu warga dengan nada lirih namun pasti.
“Ada kerja, ada gerak ekonomi, ada harapan untuk anak-anak kami.”
Kehadiran PT Bo’a Development, bagi masyarakat, bukan dongeng investasi. Ia hadir dalam bentuk lapangan kerja, denyut ekonomi desa, dan ruang baru bagi generasi muda untuk bertahan dan tumbuh di tanah sendiri.
Dalam barisan yang sama, poster bertuliskan “Batong Dukung Proses Hukum, Bukan Menekan” berdiri seperti pagar moral. Pesannya jelas: biarkan hukum bekerja tanpa intervensi, tanpa sorak-sorai yang memaksa.
Hampir seratus warga Desa Bo’a tercatat mendatangi PN Rote Ndao hari itu. Berbeda dengan sidang-sidang sebelumnya yang diwarnai demonstrasi berulang dari pendukung terdakwa, aksi kali ini berjalan hening. Tak ada ban dibakar, tak ada fasilitas negara dirusak. Hanya langkah-langkah pelan dan wajah-wajah yang berharap keadilan tak tersesat oleh kabar palsu.
Perkara yang disidangkan—dugaan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)—menjerat EFM, mantan anggota DPRD Kabupaten Rote Ndao, yang didakwa menyebarkan informasi bohong hingga berdampak pada kerugian PT Bo’a Development.
Di halaman pengadilan itu, warga Desa Bo’a seolah ingin berkata: kebenaran tak selalu perlu teriak. Kadang, ia cukup berdiri tegak—sunyi, jujur, dan setia pada akal sehat.


















