Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupNasionalPeristiwa

Di Bawah Nafiri Damai: Ketika Natal Menyapa Belu dan Hati-hati Diperbaharui

697
×

Di Bawah Nafiri Damai: Ketika Natal Menyapa Belu dan Hati-hati Diperbaharui

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Laporan Khusus  Redaksi | LINTASTIMOR.ID 

ATAMBUA |LINTASTIMOR .ID)Di Gedung Romei Teater Atambua, Selasa 16 Desember 2025 yang berselimut hujan itu, nafiri iman ditiup perlahan. Bukan sekadar bunyi alat musik, melainkan panggilan jiwa—tentang kelahiran Sang Terang yang datang tanpa mahkota, namun mengubah dunia dengan kasih.

Example 300x600

Di tengah jemaat Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA) Nafiri Sion Atambua, Bupati Belu, Willybrodus Lay, S.H, hadir bukan hanya sebagai pemimpin daerah, melainkan sebagai sesama peziarah iman.

Ia duduk bersama jemaat, mengikuti ibadah Natal, menyatu dalam doa dan pujian, sebelum akhirnya berdiri menyampaikan sambutan yang bernuansa reflektif dan sarat makna rohani.

Perayaan Natal itu dihadiri pula oleh Plt. Kepala Dinas Bapenda Kabupaten Belu, Camat Kakuluk Mesak, Staf Khusus, Wakil Kepala Polres Belu, Plt. Kepala Desa Leosama, serta keluarga besar GSJA Nafiri Sion Atambua—sebuah perjumpaan lintas peran yang dipersatukan oleh satu kisah suci: kelahiran Yesus Kristus.

“Pada kesempatan yang dipenuhi sukacita ini, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Natal kepada saudara-saudaraku umat Kristiani, terkhusus untuk GSJA Nafiri Sion Atambua. Semoga Natal memberi kebahagiaan dan membawa kedamaian bagi kita semua,” tutur Bupati Willy Lay, suaranya tenang, penuh empati.

Natal, sebagaimana ia sampaikan, bukanlah sekadar perayaan tahunan. Ia adalah peristiwa batin—saat manusia diajak kembali ke palungan hati, tempat kasih dilahirkan dalam kesederhanaan.

“Natal senantiasa mengingatkan kita tentang kasih yang mempersatukan, menguatkan semangat berbagi, dan melahirkan harapan baru,” ujarnya.
“Mari kita jaga spirit Natal agar terus menyala dalam membangun hubungan yang damai dengan keluarga dan lingkungan.”

Di Kabupaten Belu yang majemuk, pesan Natal menemukan relevansinya yang paling nyata. Di tanah perbatasan ini, toleransi bukan jargon, melainkan nafas kehidupan sehari-hari.

“Semoga perayaan Natal ini menguatkan ikatan toleransi, mempererat persahabatan, kebersamaan, dan kasih sayang dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika,” ungkapnya.

Lebih jauh, Bupati menegaskan bahwa semangat Natal harus menjelma menjadi energi sosial—modal batin untuk menjaga persatuan dan membangun daerah.

“Dalam kebinekaan suku, agama, dan ras, mari kita jadikan semangat Natal sebagai kekuatan untuk menyatukan karsa dan karya dalam membangun Kabupaten Belu yang kita cintai.”

Menjelang Natal dan Tahun Baru 2026, ajakan refleksi menjadi benang merah sambutannya. Sebab kelahiran Kristus selalu mengandung pesan pembaruan: mati bagi yang lama, lahir bagi yang baru.

“Marilah kita merefleksi diri, melakukan perubahan dan pembaharuan, serta terus menebarkan kasih dan cinta terhadap sesama agar terwujud kehidupan yang damai dan saling menghargai.”

Refleksi itu bahkan ditarik hingga ke tanah—ke ladang, ke benih, ke musim hujan yang sedang turun.

“Saya mengajak seluruh jemaat untuk menanam di musim penghujan ini sebagai wujud syukur dan tanggung jawab kita bersama,” katanya, mengaitkan iman dengan ketahanan pangan, doa dengan kerja nyata.

Di akhir sambutan, ia menutup dengan kalimat yang sederhana namun menggema seperti doa:

“Mari kita bekerja bersama di ladang Tuhan, menebarkan kasih dan kebaikan bagi sesama.”

Malam pun kian turun di Atambua. Lampu gedung menyala, lagu Natal mengalun, dan di antara jemaat, tersimpan harapan-harapan kecil yang dibungkus doa. Seperti dua ribu tahun silam di Betlehem, Natal kembali hadir—diam-diam, lembut, namun sanggup mengubah hati.

Dan di Belu, nafiri itu kembali ditiup:
mengundang damai, memanggil kasih, dan mengingatkan manusia bahwa terang selalu lahir dari kerendahan hati. ✨

Example 300250