Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupNasionalPeristiwaPolkam

Di Bawah Langit Merah Singkawang, Toleransi Menari Tanpa Sekat

71
×

Di Bawah Langit Merah Singkawang, Toleransi Menari Tanpa Sekat

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SINGKAWANG |LINTASTIMOR.ID — Selasa, 3 Maret 2026, langit kota itu seperti menyala. Lampion-lampion menggantung rendah di antara doa-doa, genderang bertalu dari kejauhan, dan ribuan manusia berbaur dalam arak-arakan warna. Di jantung perayaan Imlek dan Cap Go Meh, saya berdiri—menyaksikan bagaimana keberagaman tidak sekadar slogan, tetapi denyut yang hidup.

Di , tradisi bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah napas yang diwariskan, lalu dirayakan kembali dengan keyakinan bahwa perbedaan adalah rahmat. Karnaval bergerak perlahan, menghadirkan ekspresi budaya yang kaya: barongsai yang melompat lincah, tatung dengan ritus sakralnya, tarian Melayu yang gemulai, hingga ornamen Dayak yang gagah dan penuh simbol.

Example 300x600

Di antara kerumunan, saya menyaksikan wajah-wajah yang berseri—Tionghoa, Melayu, Dayak, dan berbagai latar lainnya—berdiri berdampingan tanpa sekat. Mereka tidak hanya menonton; mereka adalah perayaan itu sendiri.

╔════════════════════════════════════╗
“Di kota ini, perbedaan bukan alasan untuk menjauh,
melainkan jalan untuk saling mendekat.
Singkawang mengajarkan kita bahwa toleransi
adalah kerja hati yang dirawat setiap hari.”

╚════════════════════════════════════╝

Rangkaian Cap Go Meh bukan hanya peristiwa budaya, melainkan panggung besar tempat identitas saling menyapa. Perpaduan budaya Tionghoa, Melayu, dan Dayak terasa begitu organik—bukan hasil rekayasa seremoni, tetapi cermin kehidupan sehari-hari. Saya merasakan getar itu: sebuah harmoni yang lahir dari sejarah panjang perjumpaan.

Di setiap sudut kota, aroma kuliner khas bercampur dengan asap dupa, anak-anak kecil berlarian dengan wajah penuh cat warna, sementara para orang tua tersenyum bangga menyaksikan tradisi yang tetap bertahan di tengah arus zaman. Malam menjelang, namun semangat tak surut. Lampion menyala lebih terang, seolah menegaskan bahwa cahaya selalu menemukan jalannya.

Singkawang berdiri sebagai contoh kota yang menjaga toleransi dengan sepenuh kesadaran. Keberagaman latar belakang masyarakatnya terlihat nyata dalam perayaan ini. Warga dari berbagai keturunan berbaur dalam suasana yang hangat—tanpa rasa canggung, tanpa jarak.

Momentum Imlek dan Cap Go Meh 2026 bukan sekadar kalender budaya. Ia adalah narasi tentang Indonesia yang seharusnya: saling menghormati, saling menjaga, dan saling merayakan.

╔════════════════════════════════════╗
“Kita boleh berbeda dalam keyakinan dan tradisi,
tetapi kebersamaan adalah pilihan yang kita rawat.
Dari Singkawang, kita belajar bahwa
toleransi bukan teori—ia adalah praktik kehidupan.”

╚════════════════════════════════════╝

Kegiatan ini tidak hanya melibatkan satu kelompok etnis atau agama. Keterlibatan masyarakat lintas agama dalam kepanitiaan hingga dukungan teknis menjadi bukti bahwa perayaan ini milik bersama. Semangat gotong royong terasa nyata—mewujud dalam tenda-tenda, panggung-panggung, dan senyum-senyum tulus yang tak dibuat-buat.

Malam itu, saya meninggalkan pusat perayaan dengan langkah pelan. Genderang masih terdengar samar, lampion masih berpendar di kejauhan. Di hati saya tertinggal satu kesan mendalam: bahwa Indonesia yang rukun itu bukan utopia. Ia nyata—dan salah satu wajahnya ada di Singkawang.

Example 300250