ATAMBUA | LINTASTIMOR.ID — Pagi itu, cahaya jatuh lembut di ruang kerja Bupati. Di sana, para dokter internship duduk dengan wajah-wajah muda yang menyimpan letih dan bangga sekaligus. Dua belas bulan bukan waktu yang singkat di perbatasan. Dua belas bulan adalah jarak antara idealisme kampus dan kenyataan lapangan.
Rabu (19/02/2026), menyampaikan apresiasi—namun bukan apresiasi yang memanjakan. Ia memberi terima kasih, sekaligus mengajukan cermin.
Sebelum memasuki substansi, ia membuka ruang dengan kehangatan lintas iman.
“Saya mengucapkan selamat kepada umat Muslim yang telah menunaikan ibadah puasa dan juga kepada umat Kristen yang merayakan Hari Rabu Abu.”
Di perbatasan, doa dan pelayanan publik sering berjalan berdampingan. Tetapi kesehatan tak cukup ditopang doa saja. Ia memerlukan data, disiplin, dan keberanian melawan disinformasi.
Angka 20 Persen: Ketika Statistik Menjadi Peringatan
Evaluasi itu berhenti pada satu angka yang terasa seperti alarm: capaian vaksinasi dasar lengkap balita di Belu disebut belum mencapai 20 persen—terendah di NTT.
Di sinilah ruang berubah sunyi.
“Dari data, peserta vaksin lengkap di Kabupaten Belu paling rendah di NTT, bahkan tidak mencapai 20 persen. Artinya kita kecolongan.”
— Willybrodus Lay
Kalimat itu tak sekadar kritik. Ia adalah penanda kegentingan.
Dalam perspektif Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, imunisasi merupakan bagian dari upaya kesehatan masyarakat yang bersifat wajib difasilitasi negara. Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab menjamin akses, ketersediaan, dan pelaksanaan imunisasi demi melindungi hak anak atas kesehatan.
Artinya, ketika vaksinasi rendah, yang terancam bukan sekadar target program—melainkan hak konstitusional anak.
Data bukan hanya angka di laporan.
Data adalah wajah balita yang belum terlindungi.
Data, Disiplin, dan Tanggung Jawab Profesional
Bupati menegaskan satu hal yang terdengar sederhana tetapi sering diabaikan: bekerja berdasarkan data.
“Saya minta para dokter harus bekerja berdasarkan data. Dengan data, kita bisa tahu apa yang kurang dan bagaimana memperbaikinya.”
— Willybrodus Lay
Dalam tata kelola kesehatan, data menjadi fondasi perencanaan, penganggaran, hingga evaluasi kinerja. Tanpa data akurat, kebijakan bisa salah arah. Tanpa pelaporan disiplin, intervensi menjadi spekulatif.
Dokter internship bukan sekadar pelaksana klinis. Mereka adalah simpul sistem. Di tangan mereka, pencatatan imunisasi, pelaporan kasus, hingga edukasi masyarakat menjadi bagian dari tanggung jawab etik dan hukum.
UGD dan Bahasa yang Menyembuhkan
Namun evaluasi tak berhenti pada angka. Ia menyentuh sisi paling manusiawi: pelayanan di Unit Gawat Darurat.
“Saya harap dokter mendekat kepada pasien dan berkata, ‘Mama jangan khawatir, saya yang tangani.’ Saya yakin dengan kata-kata itu, sebelum diberi obat pun mereka sudah sembuh 90 persen.”
— Willybrodus Lay
Di titik ini, kesehatan berubah menjadi relasi.
Undang-Undang Kesehatan menegaskan pelayanan harus bermutu dan berorientasi pada keselamatan pasien. Tetapi mutu tak hanya diukur dari kecepatan tindakan medis. Ia juga diukur dari empati.
Sapaan “Mama” di tanah Timor bukan sekadar kata. Ia adalah pengakuan martabat.
Dan di ruang UGD yang sering tegang, satu kalimat bisa menjadi penawar pertama sebelum infus dipasang.
Melawan Hoaks, Menjaga Generasi
Bupati juga menyinggung derasnya informasi keliru di media sosial yang memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap vaksin.
“Masyarakat terpengaruh informasi yang salah, seolah-olah vaksin menyebabkan penyakit. Padahal kalau tidak divaksin, anak bisa terkena polio dan penyakit lainnya.”
— Willybrodus Lay
Di era digital, tenaga kesehatan menghadapi dua wabah sekaligus: penyakit biologis dan penyakit informasi.
Negara telah menganggarkan dana besar untuk program imunisasi. Namun tanpa komunikasi publik yang kuat, anggaran bisa tak terserap optimal. Dan ketika itu terjadi, yang rugi bukan hanya laporan keuangan—tetapi masa depan anak-anak Belu.
Pengabdian yang Akan Dibawa Pulang
Menutup pertemuan, menitipkan pesan dan salam untuk orang tua para dokter. Sebuah sentuhan personal yang membuat evaluasi terasa utuh—tegas namun tetap hangat.
“Suatu saat nanti kalian akan ditempatkan untuk melayani masyarakat. Saya titip, berikan pelayanan terbaik.”
— Willybrodus Lay
Di perbatasan, pengabdian tak pernah sederhana. Ia adalah perjalanan sunyi di antara desa-desa jauh, kepercayaan yang harus dibangun perlahan, dan sistem yang harus diperbaiki sedikit demi sedikit.
Tetapi mungkin, suatu hari nanti, ketika angka vaksinasi itu naik—
ketika seorang ibu tak lagi ragu membawa anaknya ke posyandu—
maka pertemuan singkat di ruang kerja itu akan dikenang sebagai titik balik.
Di sana, di batas negeri, negara sedang belajar menjadi lebih hadir.


















