TIMIKA |LINTASTIMOR.ID– Di atas bangku panjang kayu yang catnya mengelupas dimakan usia, puluhan lelaki dan perempuan duduk berhimpitan. Di hadapan mereka, sebuah bangunan tua berdiri dengan dinding yang jamuran dan atap yang ringsek di beberapa sisi. Itulah Kantor Kelurahan Dingo Narama, Selasa (3/3/2026) pagi.
Bukan sekadar lokasi Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) untuk tahun anggaran 2027, melainkan sebuah alegori tentang janji yang tertunda. Di tempat inilah, warga duduk di atas derita mereka sendiri, merancang mimpi di atas fondasi yang nyaris roboh.
Angin dari pesisir selatan Papua berbisik pelan, seolah membawa pesan dari masa lalu. Di sela-sela deru motor dan celoteh anak-anak yang berlarian di halaman, terdengar suara Lurah Dingo Narama, Oktoviana Naa, yang mencoba mengeras di tengah keheningan penuh harap warganya.
“Ini bukan sekadar angka,” ujarnya, suaranya bergetar oleh semangat yang telah lama tertahan.
“76 usulan ini adalah nafas kami. Bukan hanya untuk tahun ini, tetapi juga tangis dari tahun-tahun sebelumnya yang belum terdengar. Ini adalah jerih payah yang paling urgen, yang menunggu untuk diraba.”
Ia lalu menunjuk ke arah bangunan reyot di belakangnya, tempat ia dan stafnya bekerja. Matanya sembab, bukan oleh debu, tetapi oleh rasa malu yang tak terucap.
Kantor kelurahan, simbol pemerintahan yang berdiri di tengah rakyat, justru menjadi simbol paling nyata dari kemiskinan struktural yang tak kunjung usai. Di usianya yang terus bertambah, bangunan itu seolah berdoa agar suatu saat ia layak disebut sebagai rumah pelayanan.
Di sudut lain, seorang ibu paruh baya menggendong bayi, matanya kosong memandang selang air yang mengering di pinggir jalan. Pipa-pipa air bersih telah terhampar bagai urat nadi di tanah Papua, tapi di Dingo Narama, darah kehidupan itu tak kunjung mengalir. Dahaga bukan lagi metafora, ia adalah keseharian yang menunggu di ujung keran.
Lalu, seperti benang kusut yang tak terurai, usulan demi usulan mengalir deras: talud di RT 5 dan RT 10 yang longsor setiap kali hujan datang membabi buta; genangan air di belakang Kantor Pos yang menjadi sarang penyakit; serta jalan tembus dari RT 9 ke RT 11 di belakang rumah sakit yang gelap dan becek. Semuanya adalah potret sunyi tentang infrastruktur yang hilang.
Namun, ada satu luka yang lebih dalam dari sekadar beton dan aspal. Sebuah luka administratif yang membungkus semangat para pemimpin kecil di lingkungan paling dasar.
Oktoviana Naa kembali membuka suara, kali ini dengan nada yang lebih pelan, seperti air sungai yang mengalir di antara bebatuan tajam.
“Kami juga menunggu kepastian tentang Ketua RT kami. Masa tugas mereka telah usai sejak 2020. Enam tahun sudah mereka mengabdi dalam ketidakpastian, memimpin tanpa kepastian Surat Keputusan. Kami hanya ingin kejelasan, apakah akan diperpanjang atau memilih yang baru? Karena pemimpin kecil inilah yang setiap malam mendengar pintu warganya diketuk oleh masalah.”
Di sela-sela tembok kelurahan yang lapuk, berdiri sebuah meja kayu tua yang menjadi markas Koperasi Merah Putih. Koperasi yang seharusnya menjadi sokoguru ekonomi warga itu, kini hanya menjadi penghuni sementara di ruangan yang tak lebih layak dari gubuk darurat.
Oktoviana menarik napas dalam, lalu berkata lirih, seolah berbisik pada angin yang membawa harapannya ke gedung-gedung tinggi di pusat kota. “Koperasi ini numpang di kantor yang sudah tidak layak. Kami mengusulkan lahan dan bangunan sendiri untuk Sekretariat Koperasi Merah Putih dan Posyandu. Karena di mana lagi kami bisa bercocok tanam harapan kalau lahan yang kami pijak saja milik orang lain?”
Di akhir Musrenbang, matahari kian condong ke barat, menerpa bangunan tua itu dengan cahaya jingga yang sendu. Bayangan panjang tercipta, seolah mempertegas bahwa di balik 76 usulan yang disepakati, ada sebuah ironi besar yang menjadi latarnya: sebuah kelurahan yang mengurus pembangunan, namun rumahnya sendiri adalah monumen penantian.
Musim anggaran 2027 akan datang. Dan di Dingo Narama, warga serta pemimpinnya hanya bisa berharap, bahwa ketika matahari terbit di tahun itu, mereka tak lagi duduk di bangku panjang yang retak untuk menunggu air dan keabadian, melainkan menuai apa yang selama ini mereka tanam dengan kesabaran.


















