Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaNasionalPeristiwa

Di Antara Ombak Padar, Doa Tidak Pernah Tenggelam

293
×

Di Antara Ombak Padar, Doa Tidak Pernah Tenggelam

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Ketika Laut Menjadi Saksi, Manusia Menjadi Harapan

Malam itu, laut Pulau Padar tidak sedang murka. Ia hanya sunyi—terlalu sunyi untuk sebuah perjalanan wisata yang berakhir menjadi kabar duka. Di bawah langit Flores yang gelap dan angin yang berbisik lirih, sebuah kapal bernama Putri Sakinah perlahan menyerahkan dirinya pada ombak. Namun di antara gelombang dan gelap, doa-doa manusia tetap terapung, menolak tenggelam.

Example 300x600

LABUAN BAJO |LINTASTIMOR.ID— Kapal wisata KM Putri Sakinah dilaporkan tenggelam di Perairan Pulau Padar, Jumat malam, 26 Desember 2025, sekitar pukul 20.30 WITA. Kapal yang mengangkut 11 orang penumpang itu mengalami mati mesin saat berlayar dari Pulau Komodo menuju Pulau Padar—rute yang selama ini dikenal indah, namun malam itu berubah menjadi lorong kecemasan.

Dalam insiden tersebut, 7 orang penumpang berhasil selamat, sementara 4 orang Warga Negara Asing (WNA) asal Spanyol—satu keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak—hingga kini masih dalam pencarian.

Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, mengatakan bahwa Tim SAR Gabungan langsung bergerak cepat begitu menerima laporan kecelakaan.

“Tim SAR Gabungan pada Jumat malam langsung menuju lokasi menggunakan RIB Pos SAR Manggarai Barat. Tujuh penumpang selamat, tiga orang dievakuasi oleh Kapal Nepton dan empat lainnya oleh Tim SAR Gabungan. Sementara empat WNA asal Spanyol masih dalam pencarian hingga hari ini,” ujar Fathur Rahman.

Pencarian memasuki hari kedua pada Sabtu, 27 Desember 2025. Tim SAR memperluas area penyisiran dengan mengerahkan berbagai unsur, termasuk RIB Pos SAR Manggarai Barat, Sea Raider KSOP Labuan Bajo, RIB Lanal Labuan Bajo, serta peralatan selam.

“Hari ini merupakan pencarian hari ke-2. Seluruh unsur SAR telah menuju lokasi kejadian untuk melanjutkan upaya pencarian korban,” tambahnya.

Laut, Manusia, dan Kerapuhan

Kecelakaan ini bukan sekadar peristiwa laut. Ia adalah pengingat sunyi tentang kerapuhan manusia di hadapan alam, dan betapa tipis jarak antara liburan dan kehilangan.

Pulau Padar, yang selama ini menjadi ikon pariwisata dunia, malam itu menjadi ruang duka yang tidak berisik. Tidak ada jerit panjang, hanya waktu yang melambat, dan keluarga-keluarga yang menunggu dengan harap cemas di daratan.

Di balik angka “7 selamat” dan “4 dalam pencarian”, ada nama, wajah, dan cerita hidup. Ada anak-anak yang mungkin sempat bertanya mengapa kapal berhenti, dan orang tua yang berusaha tenang di tengah gelap dan dingin laut.

Empati dan Harapan

Operasi pencarian bukan hanya soal prosedur dan alutsista. Ia adalah kerja kemanusiaan, tempat para rescuer mempertaruhkan tenaga, waktu, bahkan nyawa, demi satu kemungkinan: menemukan.

Di Labuan Bajo, doa-doa mengalir lebih deras dari ombak. Warga, pelaku wisata, dan siapa pun yang mendengar kabar ini, menyatukan harap dalam sunyi: semoga laut mengembalikan yang masih ia simpan.

Solusi – Agar Tak Terulang

Peristiwa ini menyisakan pelajaran penting bagi dunia pariwisata laut Indonesia:

  1. Pemeriksaan kelaikan kapal harus diperketat, terutama untuk pelayaran malam hari.
  2. Sistem navigasi dan komunikasi wajib berfungsi optimal, termasuk cadangan mesin.
  3. Standar keselamatan wisatawan internasional perlu diawasi ketat oleh operator dan otoritas pelabuhan.
  4. Edukasi keselamatan bagi wisatawan harus menjadi bagian dari perjalanan, bukan formalitas.

Keindahan laut tidak boleh dibayar dengan nyawa. Pariwisata yang beradab adalah pariwisata yang aman, bertanggung jawab, dan manusiawi.

KM Putri Sakinah boleh tenggelam, tetapi harapan tidak. Selama pencarian masih berlangsung, laut Pulau Padar bukan hanya hamparan air asin—ia adalah ruang doa, empati, dan solidaritas kemanusiaan.

Dan di antara gelombang yang terus bergerak, manusia terus berharap:
bahwa kabar baik masih mungkin datang dari arah laut.

 

 

Example 300250