JAYAPURA | LINTASTIMOR ID—Angin sore berembus pelan di ufuk timur Nusantara. Langit Papua yang biasanya biru dan lapang, kali ini terasa berat. Di tanah yang kaya akan hutan purba dan sungai-sungai panjang itu, kabar duka kembali menggema. Nyawa melayang. Seorang pilot menjadi salah satu korban. Nama-nama daerah disebut dengan lirih: Boven Digoel, Korowai, Yahukimo, Puncak Jaya.
Papua seperti kembali dipaksa menatap wajah luka yang belum benar-benar sembuh.
Di sebuah sudut Kota Jayapura, aktivis kemanusiaan Paulinus Otniel H. Ohee berdiri dengan suara tertahan. Tak ada amarah yang meledak, hanya kesedihan yang mengendap. Ia berbicara bukan sekadar sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari generasi yang merindukan tanah kelahiran yang damai.
╔════════════════════════════════════╗
“Tindakan yang menghilangkan nyawa manusia adalah perbuatan yang tidak berperikemanusiaan.”
╚════════════════════════════════════╝
Kalimat itu meluncur pelan, tetapi tajam. Seperti doa yang dipanjatkan di tengah kabut.
Tanah yang Terluka, Rindu yang Tak Pernah Padam
Papua bukan sekadar peta administratif. Ia adalah bentang alam yang hidup—gunung-gunung tinggi yang menyimpan kabut, sungai-sungai cokelat yang mengalirkan cerita leluhur, dan honai-honai yang berdiri dalam kesederhanaan.
Di Boven Digoel dan wilayah Korowai, hutan menjadi rumah sekaligus saksi bisu ketegangan. Di Yahukimo dan Puncak Jaya, masyarakat hidup dalam irama tradisi yang kental, namun tak jarang harus berdampingan dengan bayang-bayang kekerasan.
Setiap letusan senjata bukan hanya mengoyak udara, tetapi juga memecah rasa aman anak-anak yang hendak ke sekolah, ibu-ibu yang berjalan ke kebun, dan para pekerja yang menggantungkan hidup pada roda ekonomi sederhana.
Paulinus tidak sekadar mengecam. Ia meratap sebagai sesama manusia.
╔════════════════════════════════════╗
“Kami ingin Papua menjadi tanah yang penuh kedamaian dan sukacita bagi semua orang tanpa memandang latar belakang.”
╚════════════════════════════════════╝
Kalimat itu bukan slogan. Itu adalah harapan yang berakar.
Di Tengah Operasi dan Doa
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada aparat keamanan, termasuk Satgas Operasi Damai Cartenz dari unsur kepolisian, yang terus berupaya menjaga stabilitas di wilayah rawan. Baginya, keamanan adalah prasyarat pertama bagi tumbuhnya kepercayaan.
Namun keamanan saja tak cukup.
Kedamaian sejati, kata Paulinus, lahir dari dialog, keadilan, dan keberanian untuk saling mendengar. Papua membutuhkan lebih dari sekadar operasi. Ia membutuhkan pelukan kebangsaan yang utuh—tanpa prasangka, tanpa stigma.
Di tengah kompleksitas konflik, generasi muda Papua sesungguhnya menyimpan cita-cita yang sama dengan generasi muda di kota-kota lain: pendidikan yang layak, pekerjaan yang bermartabat, ruang berekspresi yang aman, dan masa depan yang tidak dibayangi ketakutan.
Jalan Pulang Bernama Damai
Apa yang bisa dilakukan?
Pertama, membuka ruang dialog yang tulus antara pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, aktivis kemanusiaan, dan generasi muda. Dialog bukan formalitas, tetapi ruang aman untuk mengurai akar persoalan.
Kedua, memperkuat pendekatan kesejahteraan—pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas lokal. Tanah yang sejahtera lebih sulit disusupi kekerasan.
Ketiga, meneguhkan komitmen bersama untuk menolak segala bentuk kekerasan, dari siapa pun dan atas nama apa pun.
╔════════════════════════════════════╗
“Kedamaian adalah tanggung jawab bersama. Mari kita jaga Papua agar tetap aman, sejuk, dan harmonis bagi semua umat manusia.”
╚════════════════════════════════════╝
Kalimat itu menggantung di udara senja Jayapura.
Papua bukan tanah konflik. Ia adalah tanah kehidupan. Ia adalah rumah bagi Orang Asli Papua dan mereka yang datang dengan harapan. Ia adalah rahim kebudayaan, iman, dan persaudaraan.
Di antara luka dan doa, Papua masih memilih untuk berharap.
Dan mungkin, harapan itulah yang kelak akan lebih kuat daripada suara senjata.


















