Foto : Ilustrasi
Pesawat itu Turun,Dan Doa Kita Ikut Mendarat
Ketika langit kehilangan suaranya, hutan menyimpan napas manusia.
JAKARTA |LINTASTIMOR.ID-Pesawat itu tidak meledak di udara.
Ia hanya diam—seperti doa yang terputus di tengah kalimat.
Sabtu sore, 17 Januari 2026, pukul 16.33 WITA, kabar itu akhirnya tiba:
ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport ditemukan di kawasan Bantimurung, Maros.
Di antara tebing kapur, hutan lebat, dan sunyi purba Leang-Leang, pesawat itu mendarat—atau mungkin dipaksa turun oleh takdir.
Tak ada sorak. Tak ada tepuk tangan.
Hanya hening panjang yang menyelimuti ruang berita, posko SAR, dan dada publik yang menunggu.
“Mendarat darurat di Leang-Leang.”
— Agung Laksamana, Petugas SAR Gabungan
Kalimat itu pendek.
Namun bobotnya berat—seberat nyawa yang sedang dipertaruhkan.
Hilang Kontak,Hilang Suara
Pesawat itu sebelumnya terbang biasa.
Rute Yogyakarta–Makassar bukan jalur asing.
Langit siang itu seharusnya ramah.
Namun pada pukul 13.17 WITA, suara pesawat menghilang dari radar,
di perbatasan Maros–Pangkep,
pada koordinat yang kini menjadi penanda kecemasan nasional:
04°57’08” LS – 119°42’54” BT.
Di dalam badan pesawat, terdapat 11 manusia:
8 kru yang mengemban tanggung jawab profesional,
dan 3 penumpang yang membawa cerita, rencana, dan harapan masing-masing.
Tak satu pun dari mereka tahu bahwa nama Leang-Leang—
yang selama ini dikenal sebagai situs prasejarah—
akan menjadi saksi bisu pergulatan hidup hari itu.
Hutan,Senyap ,dan Jalan Yang Tak Mudah
Lokasi pesawat ditemukan di tengah hutan,
di wilayah yang tak ramah bagi kendaraan,
tak mudah bagi kaki manusia.
Hingga berita ini ditulis,
belum ada tim yang berhasil mencapai titik pesawat.
Kansar Makassar bergerak cepat:
15 personel, kendaraan taktis, rescue car, drone pemantau udara.
Leang-Leang ditetapkan sebagai start area operasi SAR.
Namun alam punya bahasanya sendiri.
Medan yang berat seakan berkata:
“Keselamatan tak pernah murah. Ia selalu menuntut kesabaran.”
Duka Yang Belum Bernama
Belum ada kepastian kondisi pesawat.
Belum ada laporan resmi tentang keadaan kru dan penumpang.
Dan justru di situlah duka paling sunyi berdiam:
pada ketidakpastian.
Di rumah-rumah yang jauh dari Bantimurung,
telepon digenggam lebih lama dari biasanya.
Doa dipanjatkan tanpa suara.
Nama-nama disebut dalam hati.
Kecelakaan pesawat—atau ancamannya—
selalu mengingatkan kita bahwa teknologi setinggi apa pun
tetap rapuh di hadapan alam dan takdir.
Langit, Tanggung jawab, dan pelajaran
Peristiwa ini bukan sekadar berita tentang mesin yang gagal,
atau koordinat yang hilang dari layar radar.
Ini adalah pengingat kolektif:
Bahwa keselamatan penerbangan bukan rutinitas administratif,
melainkan amanah nyawa.
Bahwa setiap penerbangan membawa tanggung jawab berlapis:
pilot, maskapai, regulator, cuaca, hingga kesiapsiagaan darurat.
Dan bagi publik, peristiwa ini mengajarkan satu hal penting:
empati lebih berharga daripada spekulasi.
Keheningan lebih mulia daripada sensasi.
Menunggu Dengan Hormat
Pihak berwenang mengimbau masyarakat
untuk tidak mendekati lokasi
demi kelancaran operasi penyelamatan.
Sementara itu, kita menunggu.
Dengan tenang,
dengan doa,
dan dengan rasa hormat pada mereka yang sedang berjuang di lapangan.
Pesawat itu telah ditemukan.
Namun kisahnya belum selesai.
Di antara leang dan langit,
kita belajar kembali:
bahwa hidup bisa berubah arah
dalam satu titik koordinat.
Dan bahwa kemanusiaan
adalah kompas terakhir
ketika semua sinyal hilang.
Informasi lanjutan akan disampaikan setelah keterangan resmi dari otoritas terkait.
()*


















