Ketika Amanah Berganti, Ksatria Tetap Menjaga Tanah Papua
Jayapura |LINTASTIMOR.ID— Di Aula Tonny A. Rompis, Makodam XVII/Cenderawasih, Senin (5/1/2026), waktu seolah berjalan lebih pelan. Seragam hijau berdiri rapi, langkah-langkah tegap terukur, sementara udara khidmat menyimpan satu pesan yang tak pernah berubah: pengabdian adalah perjalanan, bukan tujuan akhir. Di ruang itulah, tongkat amanah berpindah tangan—tenang, bermartabat, dan sarat makna.
Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XVII/Cenderawasih, Mayor Jenderal TNI Amrin Ibrahim, S.I.P., memimpin langsung upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) dan Tradisi Korps sejumlah pejabat. Bagi Kodam Cenderawasih, pergantian ini bukan sekadar administrasi, melainkan ritme alami sebuah organisasi yang terus belajar membaca zaman—terutama di Papua, tanah dengan denyut sejarah dan tantangan yang khas.
Dalam amanatnya, Pangdam menegaskan bahwa rotasi dan promosi jabatan adalah cara organisasi menjaga daya hidupnya. Seperti sungai yang harus terus mengalir agar tetap jernih, kepemimpinan pun perlu bergerak agar tetap relevan.
“Jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, tidak hanya kepada pimpinan dan institusi, tetapi juga kepada bangsa dan negara,”
tegas Mayjen TNI Amrin Ibrahim.
“Saya meminta para pejabat baru segera beradaptasi, memahami dinamika wilayah, dan membangun kerja sama yang solid.”
Kalimat itu meluncur tenang, namun berlapis makna. Papua bukan ruang kosong; ia adalah mozaik budaya, sejarah, dan harapan. Memimpin di sini berarti mendengar dengan empati, bertindak dengan kebijaksanaan, dan menjaga keseimbangan antara keamanan dan kemanusiaan.
Sejumlah pejabat baru resmi mengemban amanah di lingkungan Kodam XVII/Cenderawasih: Asren Kolonel Arm Victor Jacob Lucas L., S.Sos., M.Tr.(Han); Aster Kasdam Kolonel Arm Kukuh Dwi Antono, S.I.P.; Kaajendam Letkol Caj Ardaraja Hamid, S.E.; Kapuskodalopsdam Letkol Inf Yulianto, S.Sos., S.H.; serta Ketua Komite Medik Rumkit Tk. II Marthen Indey Letkol Ckm dr. Faisal Rosady, Sp.An.TI. Mereka datang membawa gagasan, pengalaman, dan tanggung jawab—seperti benih yang ditanam di tanah yang menuntut ketelatenan.
Pada saat yang sama, Kodam Cenderawasih juga melepas para pejabat lama yang akan melanjutkan pengabdian di medan tugas baru: Kolonel Inf Ruli Nuryanto, S.H., M.I.P. (Dirbinum RSPAD Gatot Soebroto Puskesad), Kolonel Inf Bambang Kurnia Eka P. (Seskorsis Seskoad), dan Kolonel Caj Dhonny Satrianda Fauzie (Kasubditbincad Ditajenad). Kepergian mereka bukan perpisahan yang memutus, melainkan jembatan yang memperpanjang silaturahmi.
“Selamat bertugas di tempat yang baru. Tetaplah menjadi Ksatria Pelindung Rakyat,”
ucap Pangdam, dengan nada yang menyimpan kehangatan.
“Jangan pernah melupakan kebersamaan dan keluarga besar Kodam XVII/Cenderawasih.”
Upacara itu dihadiri Kasdam Brigjen TNI Thevi A. Zebua, S.E., M.M., Ir Kodam Brigjen TNI Sapto Widhi Nugroho, Kapok Sahli Brigjen TNI Sukamdi, S.I.P., Danrindam Brigjen TNI Endra Saputra Kusuma Z. R., S.E., para Asisten Kasdam, Dan/Kabalakdam, serta Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Daerah XVII/Cenderawasih beserta jajaran. Kehadiran mereka menjadi saksi bahwa di balik struktur dan pangkat, ada keluarga besar yang saling menguatkan.
Ketika upacara usai, yang tertinggal bukan hanya gema komando, melainkan kesadaran kolektif: jabatan boleh berganti, namun sumpah pengabdian tetap sama. Di Tanah Papua, para ksatria itu melangkah—menjaga, melindungi, dan melayani—dengan hati yang tetap berpihak pada rakyat.


















