Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupNasionalPeristiwaTeknologi

Dari Tangan-Tangan Sederhana, Altar Harapan Gereja Motabuik Dibangun di Asuulun

58
×

Dari Tangan-Tangan Sederhana, Altar Harapan Gereja Motabuik Dibangun di Asuulun

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA | LINTASTIMOR.ID — Di bawah lengkung atap yang belum sepenuhnya selesai, debu beterbangan pelan, menyatu dengan keringat dan doa yang tak terucap. Sabtu, 21 Maret 2026, halaman Gedung Gereja Baru Stasi Motabuik di Asuulun  berubah menjadi ruang pengabdian. Bukan sekadar kerja bakti—ini adalah perjumpaan antara iman, harapan, dan gotong royong yang hidup.

Umat lingkungan Sta. Perawan Maria Ratu Nufuak ,dengan langkah ringan namun tekad yang berat, memindahkan sertu dari halaman ke dalam gedung. Butiran demi butiran material itu ditata, bukan hanya untuk lantai dan altar, tetapi untuk masa depan peribadatan mereka.

Example 300x600

Lurah Fatukbot, Kecamatan Atambua Selatan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Emerentiana Moru, SST, tampak menyatu di tengah umat—bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai bagian dari keluarga iman yang sama. Ia hadir, bekerja, dan berbaur tanpa jarak.

╔════════════════════════════════════════╗
“Hari ini umat  lingkungan Sta. Perawan Maria Ratu Nufuak menggelar kerja bakti sosial menata gedung gereja baru Stasi Motabuik. Ini adalah wujud kerinduan umat Allah untuk segera menggunakan gedung ini dalam setiap perayaan misa—baik hari Minggu, Paskah, Natal, maupun perayaan iman lainnya.”
╚════════════════════════════════════════╝

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa kehadirannya di lokasi bukan semata dalam kapasitas sebagai lurah, melainkan sebagai bagian dari umat yang memiliki tanggung jawab iman yang sama.

╔════════════════════════════════════════╗
“Saya hadir di sini bukan karena jabatan sebagai lurah, tetapi sebagai pengurus lingkungan dan bagian dari umat Allah di Stasi Motabuik. Karena itu, saya juga turut berpartisipasi dalam kerja bakti ini bersama umat.”
╚════════════════════════════════════════╝

Kerja bakti ini bukan sekadar aktivitas fisik. Ia adalah simbol kerinduan kolektif umat akan ruang sakral yang layak, tempat doa-doa dipanjatkan dengan khusyuk, tempat iman dirawat dan diwariskan. Gedung yang kini masih berbalut semen dan material kasar itu, perlahan sedang dihidupkan oleh cinta umatnya sendiri.

Di sela aktivitas, apresiasi juga mengalir bagi mereka yang tak tampak di lokasi, namun hadir lewat kepedulian. Donasi—baik uang maupun material—datang dari swadaya murni umat dan para dermawan.

╔════════════════════════════════════════╗
“Kami menyampaikan terima kasih kepada para donatur yang telah memberikan sumbangan secara sukarela. Ini adalah bukti nyata bahwa kepedulian masih hidup dan menjadi kekuatan utama dalam pembangunan rumah ibadah ini.”
╚════════════════════════════════════════╝

Lebih jauh, pintu partisipasi tetap terbuka. Bagi siapa saja, termasuk dari luar wilayah Keuskupan Atambua, yang tergerak untuk ikut ambil bagian, dapat langsung menghubungi panitia pembangunan gedung gereja tersebut.

Analisis Kontekstual
Apa yang terjadi di Asuulun adalah cerminan kuat dari wajah masyarakat perbatasan—di mana jabatan sosial melebur dalam identitas komunal. Di ruang seperti ini, seorang lurah tidak berdiri di atas, tetapi berjalan bersama. Di tengah keterbatasan pembangunan infrastruktur di Kabupaten Belu, kekuatan utama justru bertumpu pada swadaya umat dan semangat gotong royong yang egaliter. Gereja, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi pusat spiritual, tetapi juga simbol kesetaraan sosial yang hidup dalam praksis sehari-hari.

Pada akhirnya, setiap sekop sertu yang diangkat hari itu bukan hanya membangun sebuah altar, tetapi juga meneguhkan satu keyakinan sederhana: bahwa dalam iman yang bekerja bersama, tidak ada sekat—yang ada hanyalah kita.

Example 300250
Penulis: Agustinus BobeEditor: Agustinus Bobe