TIMIKA | LINTASTIMOR.ID — Di Gedung MPCC, Senin (2/3/2026), bukan hanya materi pelatihan yang dibagikan. Di ruangan itu, harapan disusun rapi seperti barang di etalase kios. Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia, kembali menyalakan obor ekonomi warga asli lewat pembinaan 20 pengusaha kios kelontong.
Langkah ini bukan dimulai dari nol. Tahun 2025 lalu, sepuluh kios telah berdiri dan mulai beroperasi. Tahun 2026, jumlahnya digandakan. Dua puluh warga—dari Amungme dan Kamoro—dipersiapkan bukan sekadar menjadi penjual, tetapi pengelola usaha yang mandiri dan profesional.
Program ini diperkuat melalui Financial Literacy Program (FLP) Batch II, hasil kolaborasi YPMAK bersama Bank Tabungan Negara (BTN), IJB, serta PT Amungsa Gemilang.
Kios Bukan Sekadar Warung, Tapi Rumah Usaha
Di hadapan peserta, Kepala Divisi Sosial Ekonomi YPMAK, Oktovianus Jangkup, berbicara dengan nada yang membumi namun tegas. Ia menekankan bahwa kios adalah aset, bukan sekadar bangunan kecil dengan rak dan timbangan.
╔════════════════════════════════╗
║ “Peserta yang sudah menjalankan usahanya dapat berbagi pengalaman dengan yang baru memulai. Kami ingin mereka mampu mengelola kios secara profesional dalam melayani masyarakat.”
║ — Oktovianus Jangkup
╚════════════════════════════════╝
Ia mengingatkan, setiap barang yang tersusun di rak adalah bagian dari tanggung jawab.
╔════════════════════════════════╗
║ “Ini rumah usaha mereka. Barang-barang yang ada di dalamnya harus dirawat karena dari situlah mereka melayani kebutuhan masyarakat sekitar.”
║ — Oktovianus Jangkup
╚════════════════════════════════╝
Kata-kata itu mengendap dalam ruangan. Kios, bagi mereka, bukan hanya tempat jual beli. Ia adalah pintu keluar dari ketergantungan.
Aturan Tegas: Tanpa Piutang, 80 Persen Diputar
Pelatihan FLP Batch II mengajarkan disiplin finansial. Transaksi wajib tunai maupun non-tunai tanpa piutang. Semua hasil penjualan harus disetorkan ke rekening bank setiap minggu.
Dari total pendapatan bulanan, 20 persen menjadi hak pengelola sebagai penghasilan, sementara 80 persen diputar kembali untuk belanja barang dagangan. Sistem ini dirancang agar arus kas tetap sehat dan usaha tumbuh berkelanjutan.
Direktur CV Amungsa Berjaya Gemilang, Teopilus Koroboy, menyebut pelatihan ini sebagai fondasi penting.
╔════════════════════════════════╗
║ “Kami dibimbing untuk memisahkan antara modal belanja, keuntungan, dan biaya operasional supaya usaha tetap sehat.”
║ — Teopilus Koroboy
╚════════════════════════════════╝
Dari total peserta, delapan berasal dari Kamoro dan dua dari Amungme yang telah berjalan, sementara lainnya akan segera memulai usaha.
Pendampingan Satu Tahun Penuh
Kepala Bank BTN Cabang Timika, Didit Darmomo, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar bantuan modal. Yang dibangun adalah mental kewirausahaan.
╔════════════════════════════════╗
║ “Selama satu tahun ke depan akan ada pendampingan dan evaluasi rutin oleh mahasiswa Jembatan Bulan yang memantau operasional kios setiap hari.”
║ — Didit Darmomo
╚════════════════════════════════╝
Ia optimistis, dengan pendampingan konsisten, seluruh kios dapat berkembang menjadi UMKM yang tangguh.
╔════════════════════════════════╗
║ “Walaupun tantangan pasti ada, dengan pendampingan yang konsisten kami yakin semua bisa berhasil.”
║ — Didit Darmomo
╚════════════════════════════════╝
Menanam Ekonomi, Menjaga Martabat
YPMAK memastikan pendampingan dilakukan selama satu tahun penuh, bersamaan dengan penyerahan kios yang telah selesai dibangun agar segera dimanfaatkan.
Di tanah Amungsa dan Kamoro, ekonomi tak lagi hanya wacana. Ia kini tumbuh dari rak-rak kayu, dari buku kas yang tertib, dari setoran mingguan yang disiplin.
Sebab pemberdayaan sejati bukan memberi ikan, tetapi membangun meja tempat ikan itu dijual—dengan harga yang layak, dengan martabat yang tegak.


















