Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaHukum & KriminalKabupaten MappiKabupaten MimikaNasionalPeristiwaPolkam

Dari Senjata ke Sumpah: Tiga Anak Gunung Sinak Kembali Memeluk Ibu Pertiwi

114
×

Dari Senjata ke Sumpah: Tiga Anak Gunung Sinak Kembali Memeluk Ibu Pertiwi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PUNCAK | LINTASTIMOR.ID
Kabut tipis masih menggantung di lereng Agandugume ketika tiga pria berdiri berhadapan dengan Merah Putih. Senjata telah mereka letakkan, amarah mereka tinggal kenangan. Di Pos Agandugume Satgas Yonif 142/Ksatria Jaya, suara ikrar menggema pelan namun pasti—menandai berakhirnya satu bab kekerasan, dan dimulainya perjalanan pulang ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Mereka adalah tiga mantan anggota TPNPB-OPM Kelompok Kalenak Murib, yang pada 2025 silam pernah terlibat gangguan tembakan saat pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) di Kantor Distrik Sinak. Hari itu, mereka tidak lagi datang sebagai ancaman, melainkan sebagai anak bangsa yang memilih kembali.

Example 300x600

Prosesi Ikrar Setia NKRI berlangsung khidmat. Disaksikan aparat keamanan dan para tokoh masyarakat Distrik Agandugume, ketiganya menyatakan satu tekad: setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, menolak separatisme, dan berkomitmen menjaga keamanan serta mendukung pembangunan Papua.

“Kami memilih pulang karena sadar.
Jalan kekerasan tidak membawa masa depan.
Yang ada hanya penderitaan dan keterbelakangan.”

Kataw Kulua, perwakilan eks TPNPB-OPM

Kataw Kulua berbicara tanpa naskah, tanpa tekanan. Suaranya tenang, namun sarat penyesalan. Ia menegaskan, keputusan ini lahir dari kesadaran penuh—bukan paksaan, bukan iming-iming. Kekerasan, katanya, telah terlalu lama menguras air mata masyarakat.

Di hadapan mereka, Danpos Agandugume Kapten Inf Muh. Zandra berdiri tegak. Baginya, ikrar ini bukan sekadar seremoni, melainkan titik balik kemanusiaan.

“Hari ini bukan akhir, tetapi awal.
Kami berharap saudara-saudara yang kembali
menjadi teladan dan jembatan perdamaian—
mengajak yang lain pulang demi masa depan Papua.”

Kapten Zandra menegaskan, Satgas Yonif 142/KJ di bawah Komando Operasi Habema TNI membuka pintu bagi siapa pun yang ingin meninggalkan jalan kekerasan. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak terpengaruh propaganda TPNPB-OPM serta aktif melaporkan keberadaan simpatisan demi keamanan bersama.

Dukungan moral datang dari masyarakat setempat. Meinus Tabuni, tokoh masyarakat Distrik Agandugume, menyebut keputusan tiga eks anggota OPM itu sebagai langkah berani dan bermartabat.

“Ini bukan soal kalah atau menang,
ini soal keberanian memilih hidup yang damai.
Semoga ini menyadarkan saudara-saudara lain
untuk berhenti bersembunyi di balik senjata.”

Harapan besar pun menggantung di udara pegunungan Puncak. Masyarakat mendambakan hari-hari tanpa suara tembakan, tanpa trauma, tanpa rasa takut saat menjalani kehidupan sehari-hari. Ikrar setia ini diharapkan menjadi pemantik—bahwa Papua yang aman, sejahtera, dan damai bukanlah mimpi yang mustahil.

Di Agandugume, pagi itu, tiga anak gunung telah memilih pulang.
Dan Merah Putih menyambut mereka tanpa syarat.

 

Example 300250