JAKARTA | LINTASTIMOR.ID-
Di sebuah ruang rapat di Jakarta, hari ini, diskusi tidak sekadar berlangsung sebagai agenda birokrasi. Ia menjelma menjadi ruang ingatan dan harapan—tentang bagaimana sebuah program pernah bekerja dengan presisi, dan bagaimana praktik baik itu kini ingin dihidupkan kembali dalam wajah baru.
Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Wamen P2MI), Christina Aryani, secara khusus mengundang para personel eks Project Management Office (PMO) Kartu Prakerja. Undangan itu bukan seremoni. Ia adalah ikhtiar intelektual: mendengar langsung, mencatat dengan saksama, lalu menimbang apa yang dapat diwariskan dari satu program nasional ke program strategis berikutnya—SMK Go Global.
“Kami ingin belajar langsung dari praktik baik yang sudah terbukti. Tata kelola Program Kartu Prakerja memberi banyak pelajaran penting tentang kecepatan, ketepatan, dan akuntabilitas,” ujar Christina Aryani, dengan nada tenang namun tegas.
Pertemuan itu menjadi semacam cermin. Dari Kartu Prakerja, pemerintah melihat bagaimana teknologi dapat memangkas jarak, dan bagaimana struktur organisasi yang ramping mampu mengurai simpul-simpul birokrasi yang kerap menghambat pelayanan publik.
Christina menegaskan, tantangan ke depan tidak cukup dijawab dengan niat baik semata. Dibutuhkan desain kebijakan yang berani meninggalkan pola lama—yang berbelit dan lamban—menuju sistem yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan zaman.
“Pemanfaatan teknologi dan keberanian memangkas birokrasi adalah kunci. Program harus bergerak cepat, tepat sasaran, dan tetap akuntabel,” katanya.
Bersama tim Kementerian P2MI, Christina melihat peluang besar untuk mengadopsi elemen-elemen kunci dari Kartu Prakerja ke dalam implementasi SMK Go Global—sebuah program yang disiapkan untuk membuka jalan generasi muda Indonesia menuju pasar kerja internasional secara bermartabat dan terlindungi.
Di titik inilah kebijakan menemukan sisi sastranya: ketika angka-angka berubah menjadi nasib, dan sistem menjadi jembatan bagi mimpi. Dari ruang rapat hari ini, arah baru itu mulai dirajut—pelan, sadar, dan penuh perhitungan.
Sebab di balik setiap program, selalu ada satu pertanyaan yang menggantung: sejauh mana negara mampu belajar dari dirinya sendiri, demi masa depan warganya.


















