Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaNasionalPeristiwaPolkam

Dari Lapangan Pancasila ke Medan Pengabdian: Ketika Sumpah Prajurit Menjadi Janji kepada Negeri

284
×

Dari Lapangan Pancasila ke Medan Pengabdian: Ketika Sumpah Prajurit Menjadi Janji kepada Negeri

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAYAPURA |LINTASTIMOR.ID — Pagi di Lapangan Pancasila Rindam XVII/Cenderawasih terasa berbeda. Langit seolah menahan napas, angin berembus pelan seperti menyimak. Di hadapan barisan rapi para prajurit muda, sebuah fase hidup ditutup—dan fase pengabdian dibuka. Di sinilah sumpah diucapkan, bukan sekadar sebagai rangkaian kata, tetapi sebagai janji yang akan dibawa hingga ujung pengabdian.

Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Amrin Ibrahim, S.I.P., secara resmi menutup Pendidikan Pertama Bintara (Dikmaba) Infanteri TNI AD Gelombang II TA 2025 dan Pendidikan Pembentukan Bintara (Diktukba) TNI AD Gelombang I TA 2026, dalam upacara penutupan dan penyumpahan yang berlangsung khidmat di Kabupaten Jayapura, Rabu (7/1/2026).

Example 300x600

Sebanyak 527 lulusan Dikmaba Infanteri dan 154 lulusan Diktukba berdiri tegak. Wajah-wajah muda itu menyimpan cerita panjang: peluh latihan, rindu keluarga, disiplin yang ditempa tanpa kompromi. Hari ini, mereka resmi menyandang pangkat Sersan Dua, tulang punggung satuan, penjaga denyut operasional TNI Angkatan Darat.

“Pelantikan sebagai Sersan Dua ini menandai dimulainya pengabdian kalian sebagai Bintara TNI AD, yang akan bertugas sebagai Komandan Regu atau jabatan setingkat,”
tegas Mayjen TNI Amrin Ibrahim dalam amanatnya.

Bagi Pangdam, Bintara bukan sekadar jenjang kepangkatan. Mereka adalah urat nadi satuan, penghubung antara perintah dan pelaksanaan, antara komando dan kenyataan di lapangan. Karena itu, pengabdian seorang Bintara dituntut bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang secara moral.

“Jadilah prajurit yang ksatria, dapat dibanggakan dan dicintai rakyat,”
pesan Pangdam, singkat namun menggema.

Dalam nada reflektif, Pangdam menekankan bahwa kekuatan TNI AD tidak semata lahir dari senjata dan strategi, tetapi dari kepercayaan rakyat. Disiplin, kerendahan hati, dan sikap santun menjadi bagian tak terpisahkan dari profesionalisme prajurit.

Sejumlah instruksi penting pun disampaikan sebagai bekal pengabdian: memperkuat kualitas ibadah sebagai fondasi moral, memegang teguh sumpah prajurit sebagai janji suci kepada Tuhan, terus mengasah pengetahuan dan keterampilan, menjaga citra TNI AD dengan tidak menyakiti hati rakyat, serta selalu mengutamakan keselamatan personel dan materiil di mana pun bertugas.

“Sumpah prajurit bukan hanya janji kepada institusi, tetapi ikrar kepada Tuhan dan rakyat,”
ujar Pangdam dengan suara yang menegaskan makna pengabdian.

Di tengah barisan, prestasi juga diberi tempat terhormat. Serda Delon L. Aronggear, putra Papua terbaik asal Nabire, dinobatkan sebagai siswa terbaik Dikmaba. Sementara dari Diktukba, penghargaan diraih Serda Moh. Jailani dari Yonif 751/VJS. Keduanya menjadi simbol bahwa ketekunan, sikap, dan kecakapan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam membentuk prajurit sejati.

Upacara ini turut dihadiri para pejabat utama Kodam XVII/Cenderawasih, di antaranya Kasdam XVII/Cen Brigjen TNI Thevi Angandowa Zebua, Irdam XVII/Cen Brigjen TNI Sapto Widhi Nugroho, Kapoksahli Pangdam XVII/Cen Brigjen TNI Sukamdi, Danrem 172/PWY Brigjen TNI Tagor Rio Pasaribu, serta Danrindam XVII/Cen Brigjen TNI Endra Saputra Kusuma Z.R., bersama para asisten dan kepala badan pelaksana.

Ketika upacara usai dan langkah-langkah barisan perlahan meninggalkan lapangan, satu hal menjadi jelas: pendidikan telah selesai, tetapi pengabdian baru saja dimulai. Dari Lapangan Pancasila, para Bintara muda ini akan menyebar ke berbagai penjuru negeri—menjadi penjaga kedaulatan, sekaligus wajah TNI di tengah rakyat.

Dan di sanalah, di medan tugas yang sesungguhnya, sumpah hari ini akan diuji oleh waktu, situasi, dan integritas.

Example 300250