Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupPeristiwa

Dari Keringat ke Selempang: Regina Olo dan Jalan Sunyi Menuju Gelar Magister

102
×

Dari Keringat ke Selempang: Regina Olo dan Jalan Sunyi Menuju Gelar Magister

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Ia datang ke Yogyakarta sebagai pekerja. Dua tahun kemudian, ia pulang sebagai Magister. Di antara keduanya, ada doa yang disimpan, lelah yang ditelan, dan iman yang tidak pernah dilepaskan.

YOGYAKARTA |LINTASTIMOR.ID —Pada suatu pagi yang hangat di awal 2026, Regina Olo berdiri dengan selempang sidang melingkar di bahunya. Senyumnya tenang—bukan senyum yang lahir tiba-tiba, melainkan senyum yang tumbuh perlahan dari hari-hari panjang penuh kerja, penghematan, dan doa yang dipeluk erat dalam diam.

Banyak yang melihatnya hari ini sebagai lulusan magister. Namun tidak semua tahu bahwa sebelum duduk di ruang kuliah, Regina lebih dulu berdiri berjam-jam sebagai pekerja. Sebelum memegang buku akademik, ia menggenggam harapan sambil bekerja demi satu tujuan sederhana namun berat: membiayai mimpinya sendiri.

Example 300x600

“Tidak semua mimpi datang dengan karpet merah. Sebagian datang dengan keringat, doa, dan keberanian untuk menunda tanpa menyerah.”

Berangkat Lagi, Bukan Langsung ke Kampus

Regina Olo, perempuan asal Dusun Loegolo, Desa Debululik, Kecamatan Lamakenen Selatan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, kembali menjejakkan kaki di Yogyakarta pada Januari 2024. Namun langkahnya tidak langsung menuju kampus.

Dari Januari hingga Agustus 2024, ia memilih bekerja. Bukan karena ragu pada pendidikan, melainkan karena keadaan menuntutnya berdiri di atas kakinya sendiri. Biaya kuliah belum cukup. Mimpi itu tidak ia buang—ia simpan rapi dalam doa, sambil kedua tangannya bekerja tanpa keluh.

Delapan bulan adalah waktu yang panjang ketika mimpi harus menunggu. Tetapi bagi Regina, menunggu bukan berarti berhenti.

“Saya tidak meninggalkan mimpi saya. Saya hanya memintanya bersabar.”

Baru pada Agustus 2024, setelah dana terkumpul, Regina mendaftar kuliah untuk kedua kalinya—sebuah keputusan yang diambil dengan iman, bukan jaminan.

Tuhan Memberi Lebih dari yang Diminta

Dalam hatinya, Regina hanya memohon satu hal sederhana: lulus tepat waktu. Namun hidup, seperti iman, kadang memberi lebih dari yang kita minta.

Pendidikan magister yang ia jalani di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta justru dapat diselesaikan kurang dari dua tahun. Sebuah kejutan indah setelah masa-masa berat bekerja demi biaya pendaftaran.

“Saya datang sebagai pekerja. Saya pulang sebagai Magister. Di tengahnya, Tuhan bekerja diam-diam.”

Januari 2026 menjadi penanda: Regina tidak hanya menyelesaikan studi, tetapi juga menuntaskan sebuah perjalanan batin—tentang sabar, percaya, dan tidak menyerah pada keadaan.

Riwayat Pendidikan Regina Olo

Perjalanan akademik Regina Olo bukanlah jalan pintas. Ia adalah lintasan panjang yang ditempuh setapak demi setapak:

  • SDK Nualain II (2007–2013)
  • SMPK St. Yoseph Weluli (2013–2016)
  • SMAN 1 Weluli (2016–2019)
  • S1 Pendidikan IPA
    Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta (2019–2023)
  • S2 Magister Manajemen Pendidikan
    Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta (2024–2026)

Riwayat ini tidak hanya mencatat institusi dan tahun, tetapi juga konsistensi—bahwa pendidikan baginya bukan sekadar gelar, melainkan panggilan hidup.

Bukan Terlambat, Hanya Berbeda

Pencapaian hari ini menjadi kesaksian bahwa tidak semua orang harus berjalan dengan tempo yang sama. Ada yang melaju cepat, ada yang berhenti sejenak untuk bekerja, menguatkan fondasi, lalu berlari kembali.

Regina adalah bukti bahwa memulai lebih lambat bukan berarti kalah.

“Tidak apa-apa berhenti sejenak untuk bekerja. Tidak apa-apa memulai lebih lambat. Selama kita tidak menyerah, jalan akan tetap terbuka.”

Ia berterima kasih pada dirinya sendiri yang bertahan, pada keluarga yang menguatkan, dan pada orang-orang terkasih yang tidak pernah lelah percaya.

Epilog: Dari Pekerja Menjadi Magister

Dari Dusun Loegolo ke Yogyakarta, dari ruang kerja ke ruang sidang, Regina Olo menulis kisahnya sendiri—tanpa sensasi, tanpa keluhan, hanya dengan ketekunan.

Hari ini, selempang itu bukan sekadar simbol akademik. Ia adalah penanda bahwa usaha tidak pernah mengkhianati hasil, dan bahwa Tuhan selalu membuka jalan—kadang lebih cepat dari yang kita duga, setelah kita berani bertahan lebih lama dari yang kita kira mampu.

Untuk siapa pun yang sedang bermimpi namun terhalang biaya: tetaplah berjalan. Jika bukan hari ini, mungkin esok. Jika bukan cepat, mungkin tepat.

 

Example 300250