Ketika Dapur Gizi Menyala di Tanah Rawa Mappi
MAPPI |LINTASTIMOR.ID — Di kota kecil yang dikelilingi rawa dan aliran sungai tenang itu, pagi selalu datang bersama kabut tipis. Perahu-perahu melintas pelan, anak-anak berseragam berjalan menuju sekolah dengan langkah yang kadang lebih cepat dari usia mereka. Di tanah yang jauh dari hiruk-pikuk metropolitan, sebuah dapur sedang bersiap menyalakan api perubahan.
Namanya bukan sekadar dapur. Ia adalah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola oleh Yayasan Lagenggo Multi Dimensi. Sebuah ikhtiar sunyi yang hendak menjawab satu pertanyaan mendasar: bagaimana memastikan anak-anak di Kepi tumbuh sehat, kuat, dan siap menyongsong masa depan?
Perwakilan Pengurus Yayasan, Rosita Adriyanti, S.E., berbicara dengan suara tenang namun penuh keyakinan.
╔══════════════════════════════════╗
“SPPG di Yayasan Lagenggo Multi Dimensi sudah siap dijalankan di beberapa sekolah. Kami sudah berkoordinasi dan tinggal menunggu petunjuk selanjutnya dari Badan Gizi Nasional. Target kami, bulan ini program sudah berjalan.”
╚══════════════════════════════════╝
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya ada rangkaian persiapan: dapur yang dibersihkan, peralatan yang ditata, bahan pangan yang dihitung cermat, hingga koordinasi lintas lembaga. Di Kepi, setiap logistik berarti perjalanan. Setiap distribusi berarti strategi.
Yang Pertama di Mappi
SPPG Yayasan Lagenggo Multi Dimensi disebut sebagai yang pertama di Kabupaten Mappi. Sebuah langkah awal yang diharapkan menjadi model bagi distrik-distrik lain. Di wilayah yang aksesnya menantang, menjadi pelopor bukan perkara mudah. Tetapi seseorang memang harus memulai.
╔══════════════════════════════════╗
“Kami diminta menjadi contoh untuk SPPG lain di beberapa distrik. Ini tanggung jawab sekaligus kehormatan bagi kami.”
╚══════════════════════════════════╝
Program MBG di Kepi menargetkan enam jenjang pendidikan: PAUD, TK, SD, SMP, SMA/SMK. Namun perhatian tak berhenti di gerbang sekolah. Balita dan ibu hamil juga masuk dalam cakupan layanan. Sebab gizi bukan hanya soal hari ini, melainkan investasi lintas generasi.
Gizi sebagai Jalan Panjang Menuju 2045
Di tengah wacana besar tentang Generasi Emas 2045, Kepi menulis kisahnya sendiri. Bukan dengan pidato panjang, melainkan dengan sepiring makanan bergizi. Dengan lauk yang cukup protein. Dengan sayur yang segar. Dengan asupan yang terukur.
Di ruang kelas sederhana beratap seng, mungkin tak ada yang menyadari bahwa sendok demi sendok yang disantap anak-anak hari itu adalah bagian dari strategi nasional membangun manusia Indonesia yang unggul.
Rosita menutup perbincangan dengan nada harap.
╔══════════════════════════════════╗
“Melalui program nasional ini, kami ingin memastikan anak-anak didik mendapatkan kualitas gizi yang baik dan sehat. Mereka inilah generasi emas 2045.”
╚══════════════════════════════════╝
Di Kepi, perubahan mungkin tidak datang dengan gemuruh. Ia datang pelan — lewat asap tipis dari dapur gizi, lewat senyum anak-anak yang kenyang sebelum belajar, lewat keyakinan bahwa masa depan bisa dimulai dari meja makan sederhana.
Dan ketika dapur itu benar-benar menyala, Kepi tak lagi sekadar titik di peta Papua Selatan. Ia menjadi bagian dari narasi besar bangsa: bahwa dari wilayah paling sunyi sekalipun, harapan bisa dimasak dan disajikan untuk Indonesia.
















