Ketika Ketahanan Pangan Mimika Memilih Bayi, Ibu, dan Tanahnya Sendiri
MIMIKA | LINTASTIMOR.ID —
Pagi belum sepenuhnya matang di SP3. Tiang bendera masih menyimpan embun, dan tanah Mimika seperti sedang menarik napas panjang setelah upacara. Di ruang di mana kebijakan biasa dibicarakan dengan angka dan grafik, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Mimika, Yulius Koga, justru berbicara tentang sesuatu yang lebih sunyi namun menentukan: perut yang harus kenyang, ibu yang harus kuat, dan bayi yang harus tumbuh tanpa luka gizi.
Tahun 2026, kata Yulius, bukan tahun untuk membongkar fondasi. Program-program strategis yang telah berjalan tetap dilanjutkan—karena telah menyentuh langsung denyut kehidupan masyarakat. Namun di tengah kesinambungan itu, ada satu perubahan besar yang sengaja dipilih dengan kesadaran penuh: mengubah sasaran, mengubah harapan.
Ketika Arah Kebijakan Berpindah ke Pelukan Ibu dan Bayi
Selama dua tahun terakhir, Program Makanan Tambahan (PMT) mengalir ke sekolah-sekolah. Anak-anak menerima porsi tambahan, meja belajar bersanding dengan piring makan. Namun 2026 membawa kesadaran baru.
“Mulai tahun ini, PMT kami alihkan ke bayi dan ibu hamil di desa-desa,”
ujar Yulius Koga, suaranya tenang namun tegas.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) telah menjangkau sekolah-sekolah. Maka, Dinas Ketahanan Pangan Mimika memilih untuk berjalan ke arah yang lebih sunyi namun lebih rawan: anak di bawah lima tahun dan ibu hamil, terutama di wilayah pedesaan—tempat stunting sering lahir bukan karena kemalasan, tetapi karena keterbatasan.
Di titik inilah kebijakan berubah menjadi empati. Negara tidak lagi sekadar hadir di ruang kelas, tetapi juga di dapur-dapur kecil desa, di tangan ibu yang menyiapkan masa depan dalam panci sederhana.
Pangan Lokal: Dari Pelatihan Menuju Perlawanan Sunyi
Tak berhenti di sana, perubahan juga menyentuh cara pandang terhadap pangan lokal. Jika sebelumnya pengolahan makanan lokal berhenti pada pelatihan, maka tahun ini Mimika melangkah lebih jauh: mendirikan Program Inti Pangan Lokal.
“Ini bukan lagi sekadar pelatihan. Kami menyiapkan pusat makanan—tempat orang bisa datang, melihat, dan langsung mencicipi pangan lokal,”
kata Yulius.
Di pusat itu, beras dan tepung bukan raja. Yang disajikan adalah hasil bumi sendiri: kentang, ubi jalar, sagu, hingga kopi lokal. Makanan siap saji, diolah dari tanah sendiri, tanpa bergantung pada bahan impor.
Ini bukan sekadar inovasi teknis. Ini adalah perlawanan sunyi terhadap ketergantungan, sebuah upaya mengembalikan martabat pangan kepada tanah Mimika.
Teras Pangan Lokal dan Sengketa Tanah yang Menguji Kesabaran
Rencana lokasi Teras Pangan Lokal sempat diarahkan ke depan area Eme Neme Yauware. Namun tanah, seperti sejarah, kadang menyimpan klaim yang tak sederhana. Sengketa kepemilikan membuat rencana itu tertahan.
Sebagai jalan keluar, lokasi alternatif di depan Perumahan Pemda kini telah disiapkan.
“Semua makanan lokal ada di situ. Kalau cari beras dan tepung, silakan ke luar. Tapi kalau mau lihat pangan lokal Mimika, datang ke sana,”
ujar Yulius, setengah bercanda, setengah serius.
Di titik itu, pangan lokal tak lagi bersembunyi. Ia berdiri, disajikan, dan dipertontonkan dengan percaya diri.
Pasar Murah, Otsus, dan Perputaran Hidup Orang Kampung
Program pasar murah tetap berjalan. Meski DPA belum sepenuhnya terdistribusi, Februari 2026 telah ditetapkan sebagai garis mula.
Target dua kali sebulan kerap terlampaui. Tahun lalu, rencana 24 kali justru menjelma puluhan kali, seiring tambahan anggaran.
Tahun ini, Dana Otonomi Khusus (Otsus) memperkuat langkah:
pembelian hasil bumi masyarakat, pemberdayaan ibu-ibu Papua, penanganan stunting, hingga program pembangunan lainnya.
Di balik angka anggaran, ada uang yang berputar di kampung, ada hasil kebun yang dibeli, ada harga diri yang dipulihkan.
Gedung Baru, Harapan Baru
Sebagai penutup tahun kebijakan, Yulius juga mengumumkan dimulainya pembangunan kantor baru Dinas Ketahanan Pangan Mimika pada 2026. Lokasinya berdampingan dengan kantor lama—yang kelak akan beralih fungsi sebagai gudang dan pusat pelatihan.
“Mudah-mudahan bulan depan sudah masuk proses lelang,”
pungkasnya.
Epilog: Ketahanan yang Tidak Sekadar Bertahan
Ketahanan pangan, di Mimika, tidak lagi sekadar soal stok dan distribusi. Ia menjelma menjadi keberpihakan—kepada bayi yang belum bisa bersuara, kepada ibu yang memikul dua nyawa, dan kepada tanah yang selama ini memberi tanpa banyak diminta.
Di sinilah kebijakan menemukan wajah manusianya.
Di sinilah pangan menjadi cerita.
Dan di Mimika, cerita itu sedang ditulis ulang—dari dapur lokal, untuk masa depan yang lebih berdaulat.


















