ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID-Atambua tidak sekadar kota di garis batas. Ia adalah halaman depan republik. Dan pagi itu, di ruang kerja Bupati Belu, masa depan seperti sedang dirancang dengan penuh kesadaran sejarah.
Senin, 2 Maret 2026, cahaya matahari menembus tirai jendela Kantor Bupati Belu. Di ruang yang sarat keputusan itu, Bupati Belu Wilybrodus Lay, S H dan Wakil Bupati Vicente Hornai Gonsalves, menerima kunjungan Tim Universitas Gajah Mada di Ruang Kerja Bupati Belu, Senin (2/03/2026).
Pertemuan itu bukan sekadar audiensi formal. Ia adalah percakapan tentang arah, tentang napas kota, tentang bagaimana Atambua ditata bukan hanya sebagai ruang fisik, tetapi sebagai ruang harapan.
Tim akademisi yang dipimpin Dr. Ir. Arif Kusumawanto hadir bersama Prof. Ir. Bakti Setiawan, MA., Ph.D dan Prof. Catur Sugianto. Nama-nama besar itu membawa lebih dari sekadar keahlian—mereka membawa perspektif panjang tentang pembangunan berkelanjutan dan tata ruang yang berkeadaban.
Di meja pertemuan, peta-peta dibentangkan. Sketsa masa depan dirancang. Kepala BP4D, Plt Kepala DPMPTSP, Plt Kadis PUPR, hingga para penjabat kepala desa Dualasi Raiulun dan Maudemu menyimak dengan seksama.
Atambua, yang selama ini tumbuh dengan segala dinamika perbatasannya, kini dipanggil untuk menata diri dengan visi yang lebih terukur dan berkelanjutan.
╔════════════════════════════════╗
“Kota perbatasan harus ditata bukan sekadar untuk hari ini,
tetapi untuk generasi yang akan mewarisi wajahnya esok hari.”
╚════════════════════════════════╝
Dalam pertemuan itu, Bupati Willybrodus Lay berbicara dengan nada yang tenang namun tegas. Penataan kota, katanya, bukan proyek sesaat. Ia adalah investasi peradaban.
Atambua tidak boleh hanya dikenal sebagai kota lintas batas. Ia harus menjelma sebagai kota yang tertib ruangnya, kuat ekonominya, dan manusiawi wajahnya.
Sementara itu, perwakilan UGM menegaskan bahwa kerja sama ini adalah bentuk pengabdian akademik yang nyata. Ilmu tidak boleh berhenti di ruang kuliah. Ia harus hadir di tengah masyarakat—menjadi solusi, menjadi arah.
Kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Belu dan UGM Yogyakarta ini menjadi langkah strategis dalam menyusun konsep penataan Kota Atambua yang berbasis pembangunan berkelanjutan: memperhatikan tata ruang, lingkungan hidup, pertumbuhan ekonomi, dan identitas lokal.
Di luar gedung, lalu lintas Atambua berjalan seperti biasa. Motor melintas. Pedagang membuka lapak. Anak-anak sekolah pulang dengan riang. Mereka mungkin tidak tahu, pagi itu sedang disusun desain masa depan bagi kota tempat mereka tumbuh.
Namun sejarah sering lahir dari ruang-ruang sunyi seperti ini—ruang diskusi, ruang visi, ruang keberanian untuk merencanakan yang lebih baik.
Atambua tidak lagi sekadar titik di peta.
Ia sedang belajar menjadi arah.


















