Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupHiburanNasionalPeristiwa

Dari Atambua ke Panggung Negeri: Marselina Rahmita Menyanyikan Timur dengan Cahaya

521
×

Dari Atambua ke Panggung Negeri: Marselina Rahmita Menyanyikan Timur dengan Cahaya

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA |LINTASTIMOR.ID —
Suara itu tidak datang dengan gegap gempita. Ia tumbuh perlahan, seperti fajar yang menyibak gelap di ufuk timur. Dari Atambua, tanah perbatasan yang kerap luput dari sorot kamera nasional, Marselina Rahmita melangkah ke panggung besar Indonesian Idol XIV, membawa nada, doa, dan harga diri sebuah daerah.

Langkahnya kini resmi berlanjut ke babak Showcase. Bukan sekadar lolos, tetapi menembus sekat geografis dan stigma—bahwa talenta besar tak selalu lahir dari pusat cahaya, melainkan sering muncul dari pinggiran yang setia menunggu giliran bersuara.

Example 300x600

Di bawah sorot lampu biru Home of the Idols, Marselina bernyanyi bukan hanya dengan pita suara, tetapi dengan ingatan. Setiap nada seperti daun lontar yang disibakkan angin Timor: jujur, keras, namun hangat. Ia tidak sekadar menyanyikan lagu—ia menyampaikan cerita.

“Saya hanya ingin bernyanyi sejujur-jujurnya,”
ujar Marselina dalam lirih yang mantap,
“karena di setiap lagu ada rumah, ada orang-orang yang mendoakan saya dari jauh.”

Perjalanan Marselina adalah simfoni ketekunan. Seperti sungai kecil yang tak pernah ragu menuju laut, ia terus mengalir, melewati seleksi demi seleksi, tanpa kehilangan akar. Di panggung nasional, ia tidak menanggalkan identitasnya sebagai anak Nusa Tenggara Timur—ia justru memeluknya lebih erat.

Penampilannya menjadi penanda bahwa musik Indonesia adalah mosaik. Ada Jakarta, ada Bandung, ada Surabaya—dan ada Atambua. Marselina hadir sebagai nada timur yang memperkaya harmoni nasional.

“Kalau suara ini bisa sampai ke hati banyak orang,”
katanya lagi,
“itu berarti doa-doa dari NTT ikut sampai.”

Kini, langkahnya menuju Showcase bukan akhir, melainkan bab baru. Sebuah halaman yang ditulis dengan keberanian, disiram dengan doa, dan dinyanyikan dengan harapan. NTT kembali punya alasan untuk bangga—bukan karena sorak, tetapi karena ketulusan yang menjelma suara.

Dan di panggung Indonesian Idol XIV, Marselina Rahmita berdiri—
sebagai penyanyi,
sebagai cerita,
sebagai cahaya dari timur.

 

Example 300250