Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Hukum & KriminalPeristiwa

Darah dan Abu di Kilometer 38: Negara Memburu Jejak Peluru di Pos PT Kristal Nabire

53
×

Darah dan Abu di Kilometer 38: Negara Memburu Jejak Peluru di Pos PT Kristal Nabire

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

NABIRE |LINTASTIMOR.ID— Siang itu, matahari menggantung tegak di atas Distrik Makimi. Angin membawa bau kayu hangus dan besi terbakar. Di Kilometer 38, Kampung Lagari Jaya, yang tersisa dari Pos Pengamanan PT Kristal hanyalah puing, arang, dan dua tubuh yang tak lagi dapat dikenali. Peluru datang lebih dulu, api menyusul kemudian. Dan sunyi menjadi saksi paling setia.

Sabtu (21/2/2026), sekitar pukul 12.00 WIT, dentuman memecah siang. Saksi menyebut, tiga sosok terlihat di kejauhan. Tembakan terdengar beruntun. Dalam hitungan menit, pos pengamanan itu berubah menjadi bara. Dua orang meregang nyawa. Identitas mereka masih terkurung luka bakar berat, menunggu kepastian dari meja autopsi di .

Example 300x600

Di antara runtuhan bangunan, aparat menemukan dua jenazah dalam kondisi hangus. Satu unit kendaraan perusahaan berdiri bisu dengan empat lubang tembakan menganga di bagian depan. Radiatornya koyak oleh proyektil. Namun selongsong peluru tak ditemukan. Dugaan sementara, tembakan dilepaskan dari jarak 50 hingga 100 meter—jarak yang cukup untuk mematikan, cukup jauh untuk mengaburkan jejak.

Kepala Satuan Tugas Humas 2026, Kombes Pol. Yusuf Sutejo, S.I.K., M.T., menyampaikan duka yang tak dibuat-buat.

╔════════════════════════════════╗
“Kami mengucapkan belasungkawa atas kejadian ini. Sejak laporan diterima, tim langsung bergerak ke lokasi untuk pengamanan, olah TKP, serta evakuasi korban. Kami bekerja berbasis bukti, bukan asumsi.”
╚════════════════════════════════╝

Pernyataan itu bukan sekadar formalitas. Di tanah yang kerap menyimpan luka sejarah, setiap kata adalah komitmen hukum. Setiap langkah adalah pertaruhan legitimasi negara.

Empat saksi—pegawai perusahaan—telah dimintai keterangan. Mereka mendengar tembakan lebih dulu, lalu melihat tiga orang di sekitar lokasi. Angka itu belum final. Penyelidikan masih mengurai kemungkinan lain: apakah ada pelaku tambahan, apakah ada pergerakan terencana, apakah ini aksi spontan atau bagian dari pola yang lebih besar.

Klaim tanggung jawab beredar di media sosial. Namun aparat menahan diri dari kesimpulan tergesa.

╔════════════════════════════════╗
“Kami tidak mendasarkan kesimpulan pada klaim sepihak. Seluruh proses berjalan sesuai prosedur dan berbasis alat bukti,” tegas Yusuf.
╚════════════════════════════════╝

Di ranah hukum, kebenaran bukan perkara siapa yang paling lantang, melainkan siapa yang paling mampu membuktikan.

Informasi mengenai dugaan perampasan senjata turut beredar. Namun dipastikan tidak ada anggota Polri yang berjaga di lokasi tersebut. Artinya, setiap fragmen informasi kini sedang disaring dalam laboratorium penyidikan—diuji, diverifikasi, dan dicocokkan dengan fakta lapangan.

Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Brigjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, S.Sos., S.I.K., M.H., menegaskan sikap institusinya.

╔════════════════════════════════╗
“Kami mengecam tindakan kekerasan yang menimbulkan korban jiwa. Penegakan hukum akan dilakukan secara profesional dan proporsional. Negara harus hadir untuk memastikan rasa aman dan menjaga stabilitas wilayah.”
╚════════════════════════════════╝

Sementara itu, Wakil Kepala Operasi, Kombes Pol. Adarma Sinaga, S.I.K., M.Hum., memastikan pengejaran telah dimulai sejak hari kejadian. Pemetaan dan profiling terhadap kelompok yang diduga terlibat tengah dilakukan. Motif penyerangan—apakah intimidasi, sabotase, atau pesan politik—masih menjadi teka-teki yang dibongkar perlahan.

Di Kilometer 38, yang tersisa kini hanyalah garis polisi dan abu yang belum sepenuhnya dingin. Namun di balik itu, kerja hukum sedang bergerak: mengumpulkan serpih peluru, menyusun kronologi, menautkan kesaksian, dan menjaga agar keadilan tidak ikut hangus bersama bangunan yang terbakar.

Tragedi ini bukan sekadar statistik kekerasan. Ia adalah pengingat bahwa di wilayah-wilayah terluar republik, rasa aman masih harus diperjuangkan dari hari ke hari. Negara diuji bukan hanya oleh peluru, tetapi oleh kemampuannya menjawabnya dengan hukum—bukan amarah.

Penyelidikan masih berlangsung. Identitas korban menunggu kepastian medis. Para pelaku diburu dalam senyap yang tegang.

Dan di Nabire, siang yang terbakar itu akan lama dikenang—bukan hanya karena api, tetapi karena janji bahwa hukum tidak boleh padam.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.idEditor: Agustinus Bobe