Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
NasionalPeristiwaPolkam

Buku yang Tak Terbeli, Nyawa yang Tak Kembali

134
×

Buku yang Tak Terbeli, Nyawa yang Tak Kembali

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Tragedi Siswa SD di NTT, Tamparan Sunyi bagi Negara

JAKARTA |LINTASTIMOR.ID-Di sebuah sudut sunyi Nusa Tenggara Timur, seorang anak SD memilih pergi lebih cepat dari usia yang seharusnya penuh warna. Bukan karena ia tak ingin sekolah, melainkan karena sekolah menuntut sesuatu yang tak sanggup ia beli: buku dan alat tulis. Negara, sekali lagi, datang terlambat.

Kematian tragis seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, NTT, bukan sekadar peristiwa duka keluarga. Ia menjelma menjadi jeritan diam yang menggema ke pusat kekuasaan. Jeritan tentang kemiskinan, tentang ketimpangan, dan tentang pendidikan yang belum sepenuhnya berpihak.

Example 300x600

Ketua DPR RI Puan Maharani menyebut peristiwa ini sebagai “tamparan bagi negara”—sebuah pernyataan keras yang menyingkap luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh.

“Kasus kematian anak di Kabupaten Ngada tersebut tentunya merupakan duka yang cukup memilukan dan harus menjadi pembelajaran,”
— Puan Maharani, Ketua DPR RI

Puan menegaskan, pendidikan gratis tak cukup bila negara abai pada kebutuhan paling mendasar siswa. Sekolah tanpa buku hanyalah bangunan; belajar tanpa alat hanyalah janji kosong.

Sekolah Gratis, Tapi Hidup Tetap Mahal

Program pendidikan yang selama ini digadang-gadang sebagai solusi, menurut Puan, masih menyisakan lubang besar. Negara hadir di ruang kelas, tetapi tidak sepenuhnya masuk ke tas sekolah anak-anak miskin.

“Program pendidikan pemerintah yang hanya menyediakan layanan sekolah gratis belum cukup. Kebutuhan penunjang pendidikan seperti alat tulis dan perlengkapan sekolah harus dipastikan terpenuhi,” tegasnya.

Bagi anak dari keluarga berkecukupan, buku hanyalah barang. Bagi anak miskin, buku adalah beban. Beban itulah yang, dalam kasus ini, berubah menjadi tekanan batin yang tak tertahankan.

Psikologi Anak dan Negara yang Terlambat Mendengar

Tragedi ini bukan semata persoalan ekonomi. Ia menyentuh sisi paling rapuh dari manusia: psikologi anak. Puan mengingatkan, keputusan ekstrem kerap lahir dari kesepian, rasa malu, dan tekanan yang tak terbaca oleh orang dewasa.

“Kasus di NTT ini menjadi contoh betapa psikologi anak berpengaruh terhadap karakter dan keputusan mereka. Kesehatan mental anak harus menjadi perhatian serius,” ujar mantan Menko PMK itu.

Sekolah, kata Puan, harus lebih dari sekadar tempat belajar. Ia harus menjadi ruang aman. Ruang mendengar. Ruang memahami latar belakang personal, ekonomi, dan psikologis setiap murid.

Kemiskinan sebagai Akar, Negara sebagai Kunci

Ketua DPR RI itu juga mendorong pemerintah memperluas jangkauan bantuan sosial, khususnya di wilayah terpencil seperti NTT. Pendidikan dan kemiskinan, kata Puan, adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.

“Kita perlu melihat persoalan di Ngada secara lebih luas. Kasus ini muncul karena kemiskinan. Negara harus menghilangkan akar masalah kemiskinan,” katanya.

Tanpa itu, sekolah akan terus menjadi ruang yang ramah bagi yang mampu, namun sunyi dan menekan bagi yang tak punya apa-apa selain harapan.

Suara dari Pinggir Negeri

Dari Singapura, pemerhati pendidikan NTT Rita Uru Hida, S.H., menyampaikan refleksi getir. Baginya, tragedi ini adalah bukti ketidakberdayaan masyarakat kecil di hadapan sistem yang tak mereka pahami.

“Ini bukti nyata bahwa masyarakat kecil tidak berani mempertahankan haknya karena tekanan dari orang-orang yang lebih mengerti. Akhirnya mereka memilih diam, tidak bertanya tentang bagian mereka,” ujarnya.

Diam, kata Rita, lahir dari ketakutan dan ketimpangan pengetahuan. Diam yang, dalam banyak kasus, berujung petaka.

“Hukum sering kali tajam ke bawah. Kasihan,” katanya lirih.

Ketika Negara Baru Sadar Setelah Nyawa Pergi

Tragedi ini menegaskan satu ironi pahit: kesadaran sering datang setelah kehilangan. Setelah nyawa anak menjadi berita. Setelah air mata menjadi data.

Puan menutup pernyataannya dengan harapan agar peristiwa ini menjadi titik balik—bukan sekadar kutipan pejabat yang berlalu bersama siklus berita.

“Program-program pemerintah harus diarahkan untuk mengatasi persoalan mendasar dalam kasus ini, yaitu kemiskinan,” tegasnya.

Seorang anak telah pergi karena buku yang tak terbeli. Negara kini diuji: apakah ia hanya akan berduka, atau benar-benar berubah.

 

Example 300250