Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaPeristiwaPolkam

Bilah-Bilah Bambu yang Menjaga Asa

259
×

Bilah-Bilah Bambu yang Menjaga Asa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Dari Dusun Renek, Warga Meniti Jalan di Atas Harapan Jembatan Bambu

ATAMBUA | LINTASTIMOR.ID — Pagi di Dusun Renek, Desa Debululik, Kecamatan Lamaknen Selatan, selalu dimulai dengan suara bambu berderit. Bukan suara alam, melainkan langkah-langkah kecil yang bergegas ke sekolah, langkah orang tua yang meniti kerja, dan langkah harapan yang tak pernah benar-benar menyerah.

Example 300x600

Di balik lanskap desa yang memesona, tersimpan kisah tentang jalan rusak yang lama dibiarkan. Saat hujan turun, tanah berubah kubangan. Ketika kemarau datang, debu menutup segalanya. Akses terputus, tetapi hidup tak pernah bisa menunggu.

Karena itulah, warga Dusun Renek memilih satu jalan: bergerak dengan apa yang ada. Bambu-bambu disatukan, diikat dengan keyakinan, disusun dengan gotong royong. Dari tangan-tangan lelah para bapak, lahirlah jembatan darurat—sederhana, rapuh bagi sebagian orang, namun penuh makna bagi mereka yang setiap hari melintasinya.

Kisah ini dibagikan Lisna Leki melalui akun resminya, Jumat (23/1/2026), dengan narasi yang menggugah dan jujur tentang realitas desa yang jarang tersorot kamera.

“Di balik indahnya pemandangan desa kami, terselip sebuah perjuangan yang jarang terlihat di layar kaca,” tulis Lisna.
“Sudah lama jalanan ini rusak… namun hidup tak bisa menunggu aspal datang.”

Bagi warga, jembatan bambu itu bukan sekadar lintasan. Ia adalah perlawanan sunyi terhadap keterbatasan—agar anak-anak tetap sampai ke sekolah tanpa seragam berlumur lumpur, agar aktivitas harian tetap berjalan meski infrastruktur tertatih.

“Jembatan bambu ini mungkin sederhana, bahkan rapuh bagi sebagian orang,” lanjut Lisna,
“tetapi bagi kami, ini bukti bahwa meski akses kami terputus, semangat kami untuk tetap terhubung tidak akan pernah patah.”

Di atas bilah bambu yang berderit, warga Dusun Renek terus melangkah—menanti janji yang belum sepenuhnya tiba, sambil menjaga tawa agar tak kalah oleh keadaan.

“Menanti janji yang kunjung ditepati, sembari terus melangkah,” tulisnya, dengan nada getir yang diselimuti harapan.

Di ujung kisah itu, Lisna menyelipkan satu kalimat sederhana namun penuh makna:
“Bapak-bapak, kalian hebat dan luar biasa.”
Sebuah penghormatan bagi mereka yang membangun tanpa anggaran, bekerja tanpa panggung, dan bertahan tanpa sorotan.

Solusi & Harapan

Kisah Dusun Renek adalah pengingat bahwa pembangunan bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan akses nyata yang menyentuh kehidupan warga. Pemerintah daerah diharapkan dapat menjadikan cerita ini sebagai peta empati—melalui peninjauan lapangan, perbaikan infrastruktur jalan, serta penyediaan jembatan permanen yang aman dan layak.

Gotong royong warga telah membuktikan satu hal: semangat sudah ada di desa. Kini, yang dinanti adalah kehadiran negara—agar langkah di atas bambu tak lagi menjadi pilihan, melainkan kenangan.

Sumber: Lisna Leki


 

Example 300250