Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupPeristiwaPolkam

Aurum Obe Titu Eki

59
×

Aurum Obe Titu Eki

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Ketika Usia Muda Menjadi Nyali, dan Perempuan Menjadi Arah

Di sebuah pagi sejarah, 20 Februari 2025, Istana Negara tak hanya menyaksikan pelantikan seorang wakil bupati. Ia menyaksikan lahirnya simbol—seorang perempuan muda dari Kabupaten Kupang yang melangkah ke pusat kekuasaan dengan kepala tegak dan hati yang tenang.
Namanya Aurum Obe Titu Eki. Usianya 27 tahun. Dan sejak hari itu, peta kepemimpinan di Nusa Tenggara Timur berubah nada.

Aurum dilantik langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, mendampingi Yosef Lede sebagai Bupati Kupang. Di bawah kepemimpinan Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena, ia menjadi wakil bupati perempuan pertama sekaligus termuda dalam sejarah Kabupaten Kupang—sebuah rekor yang bukan sekadar angka, melainkan pesan zaman.

Example 300x600

“Regenerasi bukan soal mengganti usia, melainkan memperbarui cara memandang masa depan.”

Dari Tanah Kelahiran ke Pusat Panggilan

Lahir di Kabupaten Kupang, 9 April 1998, Aurum tumbuh di ruang yang akrab dengan dinamika publik. Ia adalah putri Ayub Titu Eki, tokoh politik NTT yang pernah dua periode memimpin Kabupaten Kupang. Namun jalan Aurum bukan sekadar jalan warisan. Ia memilih menyusun jejaknya sendiri, setapak demi setapak, dengan disiplin dan daya tahan.

Pendidikan dasarnya dimulai di SDN Angkasa Penfui, berlanjut ke SMP Kristen Mercusuar Kupang, lalu SMA Katolik Giovanni Kupang—tiga fase yang membentuk kepekaan sosial dan keteguhan karakter. Jakarta kemudian menjadi ruang uji, ketika Aurum memilih Universitas Trisakti dan menekuni Arsitektur.

Ia meraih Sarjana Arsitektur (S.Ars) pada 2020 dan menuntaskan Magister Arsitektur (M.Ars) pada 2022. Di sanalah cara berpikirnya ditempa: sistematis, estetis, dan berbasis perencanaan—sebuah fondasi yang kelak terasa relevan di meja-meja kebijakan.

“Arsitektur mengajarkan satu hal penting: masa depan tak dibangun dengan emosi sesaat, tetapi dengan perhitungan yang berani dan manusiawi.”

Profesionalisme yang Bertumbuh dari Kepedulian

Sebelum politik memanggil penuh, Aurum menyalurkan gagasan sebagai Freelance Designer. Ia belajar bahwa detail kecil menentukan wajah besar—sebuah prinsip yang ia bawa ke ruang publik. Di luar profesi, ia aktif di Forum Politisi Muda Indonesia (FPMI) dan dipercaya sebagai Bendahara Yayasan Eke Tetus, lembaga sosial yang bergerak di pendidikan dan kemanusiaan.

Di titik ini, kepemimpinan Aurum menemukan nadanya: melayani tanpa gaduh, bekerja tanpa sorotan berlebih.

Politik sebagai Ruang Pengabdian

Langkah politik Aurum dimulai di Partai Gerindra, menjabat Wakil Ketua DPC Gerindra Kabupaten Kupang (2021–2022). Pengalaman organisasi itu menjadi sekolah lapangan—tentang strategi, konsolidasi, dan ketahanan.

Sejak 2022, ia bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan dipercaya sebagai Wakil Sekretaris DPW PSI NTT. Kepindahan ini bukan lompatan, melainkan pernyataan sikap: keberpihakan pada politik anak muda, transparansi, dan gagasan progresif.

“Politik yang sehat lahir dari keberanian untuk jujur—pada publik, dan pada diri sendiri.”

Sejarah yang Bernafas di Kabupaten Kupang

Pelantikan sebagai Wakil Bupati Kupang ke-6 menempatkan Aurum pada simpul sejarah. Kehadirannya bukan sekadar simbol representasi perempuan dan generasi muda, melainkan janji kerja: kebijakan inklusif, ruang partisipasi yang lebih luas, dan pembangunan berkelanjutan yang berpihak pada manusia.

Dengan latar arsitektur, pengalaman organisasi, dan energi muda, Aurum membawa imajinasi baru ke birokrasi—bahwa pemerintahan bisa rapi dalam perencanaan, hangat dalam pelayanan, dan tegas dalam arah.

“Kepemimpinan bukan tentang berdiri paling depan, melainkan memastikan semua orang bisa melangkah bersama.”

Di Kabupaten Kupang, sejarah kini memiliki wajah.
Dan wajah itu—tenang, muda, dan tegas—bernama Aurum Obe Titu Eki.

Example 300250