MALAKA | LINTASTIMOR.ID —
Pagi di Malaka, Senin, 26 Januari 2026, tidak datang dengan gemuruh seremoni. Ia hadir pelan, seperti suara hati yang mengetuk kesadaran aparatur negara. Di ruang refleksi itulah Rosalia Yeani Lalo, S.H., Asisten I Bidang Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten Malaka, memilih berhenti sejenak—merenung tentang makna menjadi ASN di tahun 2026.
Bukan pidato resmi, bukan pula instruksi struktural. Yang lahir adalah sebuah kesaksian batin: bagaimana pengabdian seharusnya dijalankan, dan kepada siapa kerja birokrasi sesungguhnya dipertanggungjawabkan.
“ASN harus kerja sesuai aturan, kerja berkualitas, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,”
demikian pesan Bupati Malaka yang ia pegang sebagai kompas pengabdian.
Pesan itu, bagi Rosalia, bukan kalimat normatif yang mudah dihafal lalu dilupakan. Ia adalah tuntutan etis—bahwa jabatan hanyalah alat, sementara kesejahteraan rakyat adalah tujuan.
Satu Komando: Ketika Ego Harus Ditinggalkan
Di balik meja birokrasi, tantangan terbesar sering bukan kekurangan anggaran atau regulasi, melainkan ego yang enggan tunduk pada kepentingan bersama. Rosalia menyebutnya dengan lugas: ego harus dibunuh agar kolaborasi bisa hidup.
“Arahan pimpinan adalah mandat. Ia hanya bisa berhasil jika kita berhenti merasa paling benar dan mulai bergerak dalam satu irama,” tuturnya.
Dalam pandangannya, kerja pemerintah tak boleh berjalan sendiri-sendiri. Sekat antarbidang, gengsi profesional, dan sikap masa bodoh adalah kemewahan yang tak lagi relevan ketika rakyat menunggu hasil nyata.
Loyalitas Bermartabat: Kejujuran sebagai Penjaga Marwah
Bagi Rosalia, loyalitas bukan sekadar kepatuhan formal. Loyalitas sejati justru diuji ketika seorang ASN berani jujur, bahkan saat fakta lapangan tak selalu indah.
“Menyukseskan pimpinan berarti menjaga agar setiap kebijakan berdiri di atas data yang benar dan proses yang sah,” ujarnya.
Laporan yang jujur, menurutnya, adalah perisai yang melindungi pimpinan—bukan hanya dari kesalahan kebijakan, tetapi juga dari risiko hukum dan moral. Di sinilah integritas menemukan maknanya: diam bukan pilihan, manipulasi bukan jalan.
Inovasi: Jalan Pendek Menuju Pelayanan Bermutu
Tahun 2026, tegas Rosalia, bukan lagi ruang aman bagi cara kerja lama. Kerja keras tanpa kecerdasan hanya akan melelahkan, sementara kecerdasan tanpa integritas hanya melahirkan kepalsuan.
“Kita harus rendah hati untuk belajar, berani berubah, dan ikhlas meninggalkan kepentingan pribadi,” katanya.
Inovasi, baginya, bukan jargon seminar. Ia adalah alat untuk mempermudah jalan pimpinan sekaligus mempercepat hadirnya pelayanan publik yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Muara Pengabdian: Kesejahteraan Rakyat
Di ujung refleksinya, Rosalia kembali pada satu titik: rakyat.
Bukan jabatan, bukan penilaian kinerja, apalagi zona aman.
“Kesuksesan pimpinan menjalankan visi-misi adalah kemenangan rakyat,” ujarnya pelan namun tegas.
Pertanyaan yang ia ajukan pun sederhana, tetapi menggugah:
“Apakah kehadiran saya mempermudah suksesnya pimpinan, atau justru menjadi beban karena ego dan kepentingan pribadi?”
ASN dan Doa yang Menyertainya
Menjadi ASN, dalam refleksi ini, bukan sekadar profesi. Ia adalah jalan sunyi pengabdian yang menuntut kejujuran, kecerdasan, kerja keras, dan integritas.
Rosalia menutup renungannya dengan harapan yang bersahaja namun dalam: semoga Tuhan menganugerahkan hikmat bagi setiap aparatur negara agar bekerja lebih baik di tahun 2026—menuju Malaka yang rakyatnya kian sejahtera.


















