Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupNasionalPeristiwaPolkamTeknologi

PantaiIipaya Menyimpan Masa Depan Wisata Mimika

3
×

PantaiIipaya Menyimpan Masa Depan Wisata Mimika

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MIMIKA | LINTASTIMOR.ID — Di antara bentangan pasir yang memanjang dari Ipiri hingga Yaraya, Pantai Ipaya menyimpan sebuah cerita yang perlahan mulai dibaca pemerintah. Bukan hanya tentang laut dan pesisir, tetapi tentang anyaman tangan warga, ukiran budaya, sanggar yang menjaga tradisi, serta aktivitas nelayan yang mungkin kelak mengubah wajah ekonomi sebuah kampung.

Di Kampung Ipaya, Distrik Mimika Barat Tengah, potensi itu selama ini tumbuh dalam kehidupan masyarakat.

Example 300x600

Pantai menjadi bagian dari keseharian. Laut menjadi ruang kehidupan. Kerajinan menjadi warisan tangan. Budaya menjadi identitas yang terus dijaga.

Kini, semua potensi itu mulai dicatat.

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Mimika melalui bidang promosi mulai melakukan pendataan potensi wisata Pantai Ipaya untuk dipromosikan dalam berbagai pameran potensi daerah.

Tim DPMPTSP turun langsung menemui masyarakat, menggali informasi mengenai potensi wilayah, sekaligus membagikan kuesioner kepada warga.

Bagi pemerintah, langkah tersebut merupakan tahap awal untuk memperkenalkan Ipaya lebih luas.

Bagi masyarakat, pendataan itu dapat menjadi pintu menuju sebuah harapan baru: menjadikan kekayaan alam dan budaya kampung sebagai kekuatan ekonomi tanpa kehilangan akar kehidupan masyarakatnya.

Kepala DPMPTSP Kabupaten Mimika, Marselino Mameyao, S.KM., mengatakan pendataan dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai potensi wisata yang dapat dikembangkan di kawasan tersebut.

“Kami datang untuk mengambil data potensi wisata, khususnya Pantai Ipaya yang direncanakan untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata,” kata Marselino.

Dari hamparan pasir menuju panggung promosi

Data yang dikumpulkan DPMPTSP tidak berhenti sebagai catatan di atas kertas.

Informasi tersebut akan menjadi bahan promosi dalam berbagai pameran potensi daerah yang diikuti Pemerintah Kabupaten Mimika.

Sebelumnya, DPMPTSP Mimika telah membawa potensi daerah dalam sejumlah pameran di Batam, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan Bali.

Tahun depan, agenda serupa direncanakan kembali berlangsung di Batam dan Bali.

Di ruang-ruang pameran itu, potensi daerah diperkenalkan kepada publik yang lebih luas.

Dan kini, Pantai Ipaya mulai disiapkan untuk menjadi bagian dari cerita tersebut.

Marselino melihat kawasan Ipaya memiliki bentang alam yang cukup panjang. Hamparan pasir membentang dari Ipiri hingga Yaraya, menghadirkan ruang pesisir yang dinilai memiliki daya tarik untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata.

Namun Pantai Ipaya tidak hanya menawarkan pemandangan alam.

Di balik garis pantainya terdapat kehidupan masyarakat yang dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Ada kerajinan anyaman.

Ada ukiran.

Ada sanggar budaya.

Ada pula aktivitas perikanan masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Potensi-potensi itu, jika dikembangkan secara terintegrasi, dapat membentuk wajah wisata yang tidak hanya menjual panorama, tetapi juga memperkenalkan kehidupan dan kebudayaan masyarakat setempat.

Ketika budaya dan laut bertemu

Pariwisata tidak selalu harus dimulai dari bangunan besar.

Kadang ia bermula dari sesuatu yang sudah dimiliki masyarakat.

Dari tangan yang menganyam.

Dari kayu yang diukir menjadi karya.

Dari sanggar yang menyimpan gerak dan cerita budaya.

Atau dari perahu nelayan yang setiap hari bergerak mengikuti kehidupan laut.

Pantai Ipaya memiliki seluruh potensi tersebut.

Karena itu, pengembangan kawasan wisata diharapkan tidak hanya menghadirkan tempat kunjungan baru, tetapi juga membuka ruang ekonomi bagi masyarakat.

Masyarakat dapat memperoleh peluang melalui kerajinan, budaya, perikanan, maupun usaha pendukung pariwisata.

Menurut Marselino, masyarakat bahkan telah menyerahkan lokasi tersebut kepada pemerintah untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata.

Namun terdapat batas kewenangan yang harus diperhatikan.

DPMPTSP berada pada posisi pendataan dan promosi, sementara pengembangan sektor pariwisata merupakan kewenangan Dinas Pariwisata.

“Kami hanya mendata dan mempromosikan potensi wilayah. Untuk pengembangan wisata, Dinas Pariwisata yang harus bergerak,” ujarnya.

Pernyataan itu sekaligus menjadi pesan agar pendataan yang telah dimulai tidak berhenti sebagai dokumen promosi.

Dibutuhkan langkah berikutnya.

Menunggu langkah berikutnya

Marselino mendorong Dinas Pariwisata Kabupaten Mimika segera turun langsung ke Kampung Ipaya.

Menurutnya, kunjungan lapangan diperlukan untuk melihat kondisi kawasan secara nyata sekaligus mengidentifikasi kebutuhan pendukung apabila kawasan tersebut benar-benar dikembangkan menjadi destinasi wisata.

Sebab sebuah destinasi tidak cukup hanya memiliki pantai yang indah.

Ia membutuhkan perencanaan, akses, fasilitas pendukung, pengelolaan, promosi, serta keterlibatan masyarakat.

Yang tidak kalah penting, pengembangan itu harus mampu memberikan manfaat ekonomi kepada warga tanpa menghilangkan karakter dan budaya lokal yang menjadi kekuatan Ipaya.

Jika dikelola secara serius, Pantai Ipaya dinilai berpeluang berkembang menjadi destinasi wisata yang mempertemukan alam, budaya, dan kehidupan ekonomi masyarakat.

Laut memberikan panorama.

Pasir memberi ruang.

Budaya memberikan identitas.

Dan masyarakat menjadi bagian utama dari cerita tersebut.

Tiga hari membaca potensi ipaya

Pendataan DPMPTSP di Kampung Ipaya dijadwalkan berlangsung selama tiga hari.

Selama proses itu, tim akan kembali menemui masyarakat untuk mengumpulkan kuesioner yang telah dibagikan.

Data tersebut nantinya menjadi bagian dari penyusunan potensi kawasan sekaligus bahan untuk memperkenalkan Ipaya dalam berbagai agenda promosi daerah.

Langkah itu memang baru sebuah permulaan.

Tetapi setiap destinasi besar selalu bermula dari satu langkah kecil: mengenali apa yang dimiliki.

Di Ipaya, pemerintah kini mulai membaca kembali kekayaan yang selama ini hidup bersama masyarakat.

Bukan hanya pantainya.

Bukan hanya pasirnya.

Tetapi juga cerita manusia yang tinggal di sekitarnya.

Sebab ketika alam, budaya, dan masyarakat dipertemukan dalam pengelolaan yang tepat, Pantai Ipaya tidak hanya berpotensi menjadi tempat untuk dikunjungi—tetapi dapat tumbuh menjadi ruang baru bagi harapan ekonomi masyarakat Mimika Barat Tengah.

Example 300250