TIMIKA | LINTASTIMOR.ID — Di Mimika, bahan pangan tidak hanya tumbuh di tanah dan mengalir dari laut. Ia juga hidup dalam kandang-kandang peternak, di perahu-perahu nelayan, di kebun-kebun warga, dan di tangan masyarakat yang setiap hari menggantungkan hidup dari kekayaan pangan daerah sendiri.
Namun, ketika dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai mengepul, muncul satu pertanyaan sederhana: sejauh mana hasil pangan Mimika benar-benar masuk ke dalam piring anak-anak di daerah ini?
Pertanyaan itulah yang kini didorong Pemerintah Kabupaten Mimika agar tidak berhenti sebagai percakapan. Bahan pangan lokal diminta mendapat ruang lebih besar dalam pemenuhan kebutuhan dapur MBG.
Wakil Bupati Mimika sekaligus Ketua Satgas MBG Mimika, Emanuel Kemong, mengatakan berbagai kebutuhan pangan untuk program tersebut pada dasarnya tersedia di Mimika.
Karena itu, Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) diharapkan mampu melihat potensi tersebut dan membangun koordinasi dengan organisasi perangkat daerah yang memiliki keterkaitan dengan sektor pangan.
“Bahan pangan yang dibutuhkan sebenarnya ada di Mimika. Kami berharap SPPG bisa melihat potensi yang tersedia di daerah dan memanfaatkannya untuk kebutuhan MBG,” kata Emanuel, Senin (28/9/2026).
Pernyataan itu menyentuh persoalan yang lebih luas. MBG bukan hanya tentang makanan yang tersaji di atas meja. Di balik sepiring makanan, terdapat rantai ekonomi yang panjang—petani, nelayan, peternak, pelaku usaha pangan hingga masyarakat kecil yang berharap hasil produksi mereka memiliki pasar yang lebih pasti.
Di tengah kebutuhan besar sebuah program pangan, potensi lokal semestinya tidak hanya menjadi latar belakang. Ia dapat menjadi bagian dari rantai pasok yang menghidupkan ekonomi masyarakat.
ketika dapur sekolah bertemu pangan daerah
Emanuel menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Mimika tidak memiliki kewenangan langsung dalam menentukan pengadaan bahan pangan untuk dapur MBG. Pelaksanaan program tersebut berada di bawah Badan Gizi Nasional (BGN).
Karena itu, pemerintah daerah memilih jalur koordinasi dan penyampaian aspirasi agar potensi pangan Mimika dapat memperoleh ruang dalam pelaksanaan program.
“Kami akan terus memberikan imbauan. Kalau memang belum berjalan, pemerintah daerah bisa menyampaikan melalui surat supaya pangan lokal juga mendapat ruang dalam program ini,” ujarnya.
Kalimat itu menjadi penting karena persoalan pangan lokal tidak semata berbicara mengenai dari mana bahan makanan dibeli. Ia juga menyangkut bagaimana sebuah program nasional dapat bersentuhan dengan kekuatan ekonomi masyarakat di daerah tempat program itu dijalankan.
Ketika kebutuhan dapur MBG dapat dipenuhi dari produksi lokal sesuai ketentuan pengadaan dan standar gizi yang berlaku, maka manfaat program berpotensi bergerak lebih jauh: dari dapur menuju pasar, dari pasar menuju petani, nelayan dan peternak, lalu kembali kepada masyarakat.
mimika dan ruang yang masih terbuka
Untuk saat ini, pelaksanaan MBG di Mimika masih menjangkau wilayah perkotaan. Sementara itu, BGN mulai memberikan perhatian terhadap kemungkinan perluasan program ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Emanuel mengatakan dirinya belum memperoleh informasi mengenai perubahan pola pelaksanaan MBG di Mimika. Program yang berjalan saat ini masih berlangsung seperti biasa.
Di sisi lain, respons masyarakat terhadap program tersebut disebut cukup beragam. Emanuel mengatakan sejauh ini belum menerima laporan mengenai keluhan dalam pelaksanaan MBG.
Namun, dinamika tetap muncul.
Ada kelompok masyarakat yang berharap jangkauan program diperluas. Di sisi lain, terdapat pula kelompok yang menyampaikan penolakan.
Perbedaan respons itu menunjukkan bahwa MBG bukan sekadar program penyedia makanan. Ia hadir di tengah masyarakat dengan beragam harapan, pertanyaan dan kepentingan.
Dan di Mimika, salah satu harapan yang kini diketuk pemerintah daerah adalah agar dapur MBG tidak hanya menjadi tempat makanan dimasak, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi kekuatan pangan daerah.
Sebab, sebelum makanan sampai ke piring seorang anak, ada tangan-tangan yang lebih dulu menanam, menangkap, memelihara dan menghasilkan.
Di sanalah pangan lokal menunggu untuk diberi ruang.
Bukan sekadar sebagai bahan makanan, tetapi sebagai bagian dari denyut ekonomi masyarakat Mimika.


















