Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Kabupaten MimikaKesehatanNasionalPeristiwa

Tujuh Jam Menunggu, Wajah Pelayanan Mimika Dipertanyakan

7
×

Tujuh Jam Menunggu, Wajah Pelayanan Mimika Dipertanyakan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA |LINTASTIMOR.ID — Pukul 08.00 WIT, Idris datang ke Rumah Sakit Umum Daerah atau RSUD Mimika, Papua Tengah. Ia datang untuk berobat, bukan untuk menghabiskan hampir satu hari di antara antrean.

Namun, waktu berjalan lebih panjang daripada yang ia bayangkan. Pendaftaran, pemeriksaan dokter, pembayaran, hingga pengambilan obat baru selesai sekitar pukul 15.00 WIT. Kurang lebih tujuh jam berlalu sebelum seluruh rangkaian pelayanan itu tuntas.

Example 300x600

“Saya datang pagi pukul 08.00 untuk mendaftar. Setelah itu menunggu pemeriksaan dokter, membayar, lalu mengambil obat. Semuanya baru selesai sekitar pukul 15.00,” kata Idris kepada media ini.

Bagi pasien yang sedang sakit, tujuh jam bukan sekadar angka. Ia berarti waktu yang terkuras, tenaga yang menipis, dan ketidakpastian yang harus ditanggung hingga pelayanan selesai. Beban itu menjadi semakin berat bagi warga lanjut usia, pasien yang membutuhkan pendampingan, serta mereka yang datang dari wilayah jauh.

Keluhan Idris memperlihatkan persoalan yang lebih luas: mutu pelayanan kesehatan tidak cukup diukur dari keberadaan gedung, kelengkapan peralatan, atau besarnya investasi. Di ruang tunggu rumah sakit, mutu juga dirasakan melalui kepastian antrean, kecepatan pemeriksaan, ketersediaan dokter, dan kenyamanan pasien.

Peralatan Ada, Dokter Spesialis Terbatas

Penelusuran media ini menemukan RSUD Mimika memiliki sejumlah fasilitas dan peralatan kedokteran yang tergolong memadai. Namun, fasilitas tersebut belum sepenuhnya ditunjang oleh ketersediaan tenaga medis, khususnya dokter spesialis.

Keterbatasan dokter diduga menjadi salah satu penyebab panjangnya waktu tunggu pasien. Seorang dokter harus menangani banyak pasien dalam satu hari sehingga pemeriksaan tidak dapat berlangsung cepat.

Pelayanan spesialis bedah dan radiologi menjadi bagian yang disorot. Berdasarkan informasi yang dihimpun, masing-masing layanan tersebut hanya ditangani oleh satu dokter spesialis, sementara jumlah pasien yang membutuhkan pelayanan dapat mencapai puluhan hingga ratusan orang.

Kondisi itu menunjukkan bahwa persoalan pelayanan tidak selalu berhenti pada meja pendaftaran. Antrean dapat terus memanjang ketika jumlah pasien tidak sebanding dengan tenaga medis yang tersedia.

Karena itu, manajemen RSUD Mimika perlu menjelaskan secara terbuka jumlah dokter yang tersedia, rata-rata kunjungan pasien, waktu tunggu, serta rasio dokter terhadap pasien. Data tersebut penting untuk mengetahui apakah pelayanan telah memenuhi standar sekaligus menjadi dasar evaluasi pemerintah daerah.

Manajemen juga perlu menjelaskan penyebab kekurangan dokter spesialis dan langkah yang telah dilakukan untuk mengatasinya.

Investasi Alat Tak Cukup Tanpa Dokter

Rumah sakit dapat memiliki peralatan medis modern. Namun, manfaatnya tidak akan maksimal apabila ketersediaan dokter yang memiliki kompetensi untuk mengoperasikan alat, membaca hasil pemeriksaan, dan menentukan tindakan medis belum memadai.

Di sinilah persoalan pelayanan RSUD Mimika perlu dilihat secara lebih mendasar. Investasi fasilitas kesehatan harus berjalan seiring dengan perencanaan sumber daya manusia. Tanpa keseimbangan itu, peralatan yang semestinya mempercepat pelayanan justru berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal.

Keterbatasan dokter juga dapat meningkatkan beban kerja tenaga medis. Ketika jumlah pasien terlalu banyak, waktu pemeriksaan, komunikasi dengan pasien, dan ketelitian pelayanan berpotensi ikut terdampak.

Namun, dugaan tersebut tetap perlu diuji melalui data dan penjelasan resmi manajemen rumah sakit. Keluhan pasien merupakan pintu masuk evaluasi, bukan pengganti pemeriksaan menyeluruh terhadap penyebab antrean.

Yang jelas, waktu tunggu yang terlalu lama tidak boleh dipandang sekadar sebagai persoalan administratif. Bagi pasien yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan segera, keterlambatan pelayanan dapat menjadi persoalan yang serius.

Bupati Diminta Turun Tangan

Warga meminta Bupati Mimika Johannes Rettob segera mengevaluasi pelayanan di RSUD Mimika. Evaluasi tersebut diharapkan mencakup sistem pendaftaran, jadwal praktik dokter, pembayaran, pelayanan farmasi, serta kecukupan tenaga medis di setiap poliklinik.

Pemerintah Kabupaten Mimika juga diminta segera mendatangkan dokter spesialis, terutama pada layanan yang memiliki jumlah pasien tinggi. Upaya itu dapat dilakukan melalui penerimaan tenaga medis, kerja sama dengan rumah sakit lain, pemberian insentif khusus, ataupun program dokter spesialis yang bersedia bertugas di Papua Tengah.

Besarnya anggaran dan kelengkapan fasilitas semestinya berbanding lurus dengan mutu pelayanan. Rumah sakit pemerintah tidak boleh membiarkan warga menghabiskan hampir satu hari hanya untuk memperoleh pemeriksaan dan obat.

Hingga berita ini ditulis, manajemen RSUD Mimika belum memberikan keterangan mengenai keluhan pasien, jumlah dokter spesialis yang tersedia, jumlah kunjungan harian, ataupun penyebab panjangnya waktu pelayanan. Media ini masih berupaya meminta konfirmasi dan memberikan ruang hak jawab kepada pihak rumah sakit serta Pemerintah Kabupaten Mimika.

Pada akhirnya, rumah sakit bukan hanya tempat orang mencari kesembuhan. Ia juga menjadi tempat warga menaruh kepercayaan. Dan kepercayaan itu seharusnya tidak dibiarkan menunggu terlalu lama di ruang antrean.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.idEditor: Agustinus Bobe