TIMIKA |LINTASTIMOR.ID— Di tengah ketidakpastian keamanan yang membuat warga harus meninggalkan kampung halaman, ada kebutuhan lain yang tidak ikut mengungsi: kebutuhan untuk tetap sehat.
Obat-obatan, pemeriksaan medis, dan pertolongan tenaga kesehatan tetap menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat Distrik Jila, Papua Tengah, setelah kontak senjata pada 17 Agustus 2026 menyebabkan warga dari sepuluh kampung mengungsi.
Kondisi tersebut mendorong tenaga kesehatan Distrik Jila, Markus Aim, meminta Pemerintah Kabupaten Mimika segera mengambil langkah untuk mengaktifkan kembali pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Bagi Markus, keselamatan tenaga medis memang harus menjadi pertimbangan utama. Ia memahami keputusan mengevakuasi tenaga kesehatan dari Jila ke Timika setelah kontak senjata terjadi.
Namun, menurut dia, evakuasi tidak seharusnya membuat pelayanan kesehatan terhenti tanpa batas waktu.
Pemerintah, kata Markus, perlu segera mengevaluasi kondisi keamanan dan menyiapkan skema pelayanan yang memungkinkan masyarakat tetap memperoleh pertolongan medis.
“Pelayanan kesehatan sangat penting untuk menyentuh masyarakat dalam kondisi apa pun. Ketika masyarakat menghadapi situasi sulit, kebutuhan terhadap tenaga kesehatan justru tidak boleh hilang,” kata Markus dalam keterangannya.
Ketika Warga Membutuhkan Dokter
Dampak kontak senjata tidak hanya meninggalkan ketakutan. Sejumlah warga disebut mengalami gangguan kesehatan. Ada yang sakit, sementara sebagian lainnya mengalami syok akibat situasi yang mereka hadapi.
Dalam keadaan seperti itu, keberadaan tenaga kesehatan menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda.
“Pada waktu kontak senjata, ada yang kaget dan ada yang sakit. Mereka harus mendapatkan pertolongan medis. Pemberian obat harus ada,” ujar Markus.
Permintaan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kemanusiaan di Jila memiliki dua sisi yang harus berjalan beriringan: keselamatan dan pelayanan.
Tenaga medis membutuhkan jaminan keamanan untuk bekerja. Di saat yang sama, masyarakat membutuhkan kepastian bahwa ketika sakit, mereka tidak kehilangan akses untuk mendapatkan pertolongan.
Minta Pemerintah dan Aparat Duduk Bersama
Markus meminta Bupati Mimika, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, unsur TNI-Polri, serta para pemangku kepentingan lainnya duduk bersama untuk menentukan langkah pemulihan pelayanan kesehatan di Jila.
Menurut dia, evaluasi keamanan perlu menjadi dasar untuk menentukan apakah tenaga kesehatan sudah dapat dikembalikan ke wilayah tersebut.
Jika kondisi dinilai memungkinkan, Markus berharap tenaga medis dapat kembali ditempatkan di pusat Distrik Jila dengan dukungan jaminan keamanan yang memadai.
“Coba ambil langkah tegas dalam kebijakan pelayanan kesehatan di tempat. Kalau keamanan dijamin, tenaga medis bisa tetap berada di tengah distrik dan masyarakat dapat merasakan pelayanan kesehatan,” kata Markus.
Menurut Markus, keamanan dan pelayanan kesehatan tidak seharusnya dipertentangkan. Keduanya justru harus berjalan beriringan.
Aparat keamanan menjalankan tugas pemeriksaan dan penanganan sesuai kewenangannya, sementara tenaga kesehatan menjalankan tugas kemanusiaan untuk merawat warga yang membutuhkan.
Bantuan Pangan Belum Menjawab Semua Kebutuhan
Markus mengapresiasi bantuan kemanusiaan yang telah diberikan kepada masyarakat dari sepuluh kampung di Distrik Jila.
Bantuan tersebut melibatkan Pemerintah Kabupaten Mimika, TNI-Polri, tokoh agama, tokoh adat, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Namun, menurut Markus, bantuan kebutuhan pokok perlu berjalan bersama pelayanan medis.
Makanan dan kebutuhan sehari-hari memang penting bagi warga yang terdampak. Tetapi ketika seseorang sakit, kebutuhan terhadap pemeriksaan dan obat-obatan menjadi sama mendesaknya.
“Pelayanan itu sangat penting agar masyarakat yang berada di distrik bisa merasakan pelayanan medis dari tenaga kesehatan,” ujarnya.
Markus berharap pemerintah dan aparat keamanan segera menyusun mekanisme pengembalian tenaga kesehatan ke Jila atau menghadirkan pelayanan medis sementara dengan skema keamanan yang memungkinkan.
Negara Hadir Ketika Warga Membutuhkan
Secara kontekstual, penghentian sementara pelayanan kesehatan di wilayah yang mengalami gangguan keamanan selalu menghadirkan dilema. Keselamatan tenaga medis harus dijamin, tetapi masyarakat yang terdampak konflik juga tidak boleh kehilangan haknya untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Karena itu, koordinasi lintas sektor menjadi penting untuk mencari pola pelayanan yang aman tanpa mengorbankan kebutuhan dasar warga.
Sampai pernyataan tersebut disampaikan, belum ada keterangan dari Pemerintah Kabupaten Mimika maupun Dinas Kesehatan mengenai jadwal pengaktifan kembali pelayanan kesehatan di Puskesmas Jila.
Di Jila, persoalannya pada akhirnya bukan hanya tentang kapan tenaga kesehatan kembali.
Ini tentang seberapa cepat negara mampu menemukan cara agar di tengah suara ketakutan, tetap ada suara kemanusiaan yang datang membawa obat, pertolongan, dan harapan.


















