TIMIKA |LINTASTIMOR.ID — Di balik ruang-ruang pelatihan dan lembaran laporan aktualisasi, ada proses yang lebih panjang dari sekadar menyelesaikan kewajiban administratif. Para calon aparatur sipil negara (ASN) Kabupaten Mimika sedang belajar mengenali satu hal penting: bahwa menjadi pelayan publik bukan hanya tentang jabatan, melainkan tentang tanggung jawab kepada masyarakat.
Pesan itu terasa dalam penyampaian apresiasi peserta Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (Latsar CPNS) Golongan II dan III Formasi 2024/2026 kepada Pemerintah Kabupaten Mimika dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah.
Para peserta menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah, panitia, coach, dan mentor yang telah mendampingi mereka melewati seluruh rangkaian pelatihan.
Ucapan tersebut disampaikan Markus Aim, S.K.M., M.P.H., mewakili peserta Latsar CPNS. Menurut Markus, dukungan berbagai pihak menjadi bagian penting yang membantu peserta menyelesaikan setiap tahapan pelatihan.
Apresiasi secara khusus juga disampaikan kepada Bupati Mimika Johannes Rettob selaku pembina aparatur sipil negara di Kabupaten Mimika serta Kepala Badan Kepegawaian Kabupaten Mimika, Herlina W. Imbri.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas dukungan, bimbingan, serta kesempatan yang diberikan selama mengikuti Latsar CPNS Formasi 2024/2026,” kata Markus dalam keterangannya.
Dari Rancangan Menuju Aktualisasi
Perjalanan para peserta tidak berhenti pada ruang kelas. Mereka menjalani sejumlah tahapan yang dirancang untuk menghubungkan pengetahuan dengan praktik di lingkungan kerja.
Salah satu tahap penting adalah penyusunan rancangan aktualisasi yang berlangsung pada 15 Juni hingga 7 Juli 2026. Tahapan kemudian berlanjut pada laporan aktualisasi dan pelaksanaan Latsar akhir pada 19–22 Agustus 2026.
Bagi Markus, seluruh rangkaian tersebut menjadi pengalaman penting sebelum para peserta benar-benar menjalankan tugas sebagai ASN.
Mereka tidak hanya menerima materi mengenai administrasi pemerintahan, tetapi juga belajar menerapkan nilai-nilai dasar ASN dalam pekerjaan serta pelayanan kepada masyarakat.
Proses itu membuat Latsar tidak sekadar menjadi tahapan menuju kelulusan. Ia menjadi ruang untuk menguji sejauh mana seorang calon aparatur mampu menerjemahkan pengetahuan, nilai, dan gagasan ke dalam tindakan nyata.
“Semoga ilmu dan pengalaman yang kami peroleh dapat diimplementasikan dengan baik untuk kemajuan Kabupaten Mimika dan Provinsi Papua Tengah,” ujar Markus.
Coach dan Mentor, Dua Peran Penting
Di balik proses aktualisasi, terdapat coach dan mentor yang turut menjadi bagian penting dalam perjalanan peserta.
Coach mendampingi peserta dalam menyusun rancangan aktualisasi, sementara mentor membantu menghubungkan rancangan tersebut dengan tugas peserta di lingkungan kerja.
Keduanya memberikan arahan, masukan, motivasi, sekaligus evaluasi agar gagasan yang disusun peserta dapat berkembang dan diselesaikan sesuai tahapan pelatihan.
Menurut Markus, pendampingan tersebut membantu peserta memperbaiki gagasan sekaligus mengembangkan kemampuan dalam menyelesaikan setiap proses Latsar.
“Ilmu dan pengalaman yang diberikan akan menjadi bekal berharga dalam pengabdian kami sebagai ASN untuk masyarakat, bangsa, dan negara,” kata Markus.
Kelulusan Bukan Garis Akhir
Bagi para peserta, berakhirnya Latsar justru menandai dimulainya tanggung jawab yang lebih besar.
Nilai dasar ASN BerAKHLAK yang dipelajari selama pelatihan harus diterjemahkan ke dalam perilaku dan pelayanan sehari-hari. Integritas, profesionalitas, tanggung jawab, serta orientasi kepada masyarakat menjadi ukuran yang pada akhirnya akan terlihat bukan di ruang pelatihan, melainkan ketika ASN hadir melayani.
Secara kontekstual, kualitas aparatur tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyelesaikan administrasi pemerintahan. Di daerah seperti Mimika dan Provinsi Papua Tengah, ASN dituntut mampu memahami kebutuhan masyarakat serta menerjemahkan kebijakan menjadi pelayanan yang nyata. Karena itu, aktualisasi menjadi penting karena memberi ruang bagi calon ASN untuk membuktikan bahwa nilai-nilai yang dipelajari dapat diwujudkan dalam pekerjaan.
Markus berharap seluruh peserta mampu membawa semangat tersebut ketika kembali menjalankan tugas masing-masing.
Ia mengajak para peserta untuk tidak berhenti belajar setelah Latsar berakhir, tetapi terus memperbaiki diri dan memberikan pengabdian terbaik bagi masyarakat.
“Bersyukur, belajar, berubah, dan mengabdi untuk negeri,” ujar Markus.
Kalimat itu menjadi penutup perjalanan Latsar sekaligus awal dari pengabdian yang sesungguhnya. Sebab bagi seorang ASN, kelulusan dari pelatihan bukanlah akhir perjalanan, melainkan janji bahwa ilmu yang diperoleh harus berubah menjadi pelayanan yang dirasakan masyarakat.


















