MEDAN |LINTASTIMOR.ID— Di antara riuh mesin kendaraan dan lalu lintas yang tak pernah benar-benar diam, para pengemudi ojek online Sumatera Utara memilih berhenti sejenak. Bukan untuk meninggalkan jalan, melainkan untuk membicarakan jalan itu sendiri—ruang tempat mereka mencari nafkah sekaligus ruang yang setiap hari mempertemukan mereka dengan berbagai persoalan keamanan.
Kamis pagi (27/8/2026), Warung Bengkel Ojek Online Lalu Lintas (Warbeng Ojolali), Simpang Tritura, Jalan Sisingamangaraja, Medan, menjadi titik temu Solidaritas Transportasi Online Sumut bersama Direktur Intelkam Polda Sumut, Kombes Pol Ajie Indra Dwiatma.
Dialog berlangsung hangat dan antusias. Di tempat yang menjadi salah satu shelter Gabungan Ojek Roda Dua Medan Sekitar (Godams) itu, 600 paket sembako juga dibagikan kepada para pengemudi ojek online lintas komunitas yang hadir.
Pertemuan tersebut memperlihatkan satu pesan yang semakin terang: para pengemudi ojol tidak hanya ingin menjadi pengguna jalan, tetapi juga bagian dari ikhtiar menjaga keamanan di jalan.
Ketua Godams, Agam Zubair, mengatakan organisasinya menjadi tuan rumah karena kegiatan digelar di Warbeng Ojolali, salah satu shelter Godams.
Ia juga menyampaikan dukungan terhadap aksi damai yang berlangsung di Jakarta pada hari yang sama.
“Warga ojol Sumut, khususnya Godams, mendukung aksi damai yang sedang berlangsung. Menyampaikan aspirasi adalah hak, tetapi kedamaian tetap harus dijaga,” kata Agam kepada wartawan, Kamis (27/8/2026).
Bagi Agam, persoalan keamanan memiliki hubungan langsung dengan kehidupan pengemudi ojol. Dalam menjalankan pekerjaan, mereka tidak hanya mengantar penumpang atau barang, tetapi juga berhadapan dengan berbagai situasi di ruang publik.
Kecelakaan lalu lintas, kejahatan jalanan, hingga berbagai peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat membuat pengemudi ojol bersentuhan langsung dengan tugas kepolisian.
“Kami sehari-hari banyak berinteraksi dan berhubungan dengan aparat kepolisian, baik ketika terjadi kecelakaan lalu lintas maupun aksi kejahatan jalanan. Kami merasa membutuhkan perlindungan dari aparat,” ujar Agam.
Ia menegaskan, pengemudi transportasi online roda dua merupakan salah satu kelompok yang rentan ketika berada di jalan raya.
Karena itu, apresiasi diberikan terhadap komitmen Kapolda Sumut dalam menjaga keamanan dan kondusivitas wilayah Sumatera Utara.
“Kami sebagai pelaku transportasi online roda dua paling rentan di jalan raya. Alhamdulillah, tadi kita dengarkan bahwa Kapoldasu berkomitmen menjaga keamanan lingkungan dan kondusivitas Sumut,” katanya.
Dalam dialog tersebut, para pengemudi juga diminta ikut membantu kepolisian dengan memberikan informasi yang berkaitan dengan potensi maupun kejadian kejahatan di lapangan.
Bagi komunitas ojol, permintaan itu bukan sekadar ajakan. Ia dapat menjadi bentuk kemitraan antara masyarakat dan kepolisian dalam membaca situasi keamanan dari dekat.
Ketua Forum Komunikasi Mitra Pengemudi Indonesia (Forkompi) Sumut, David Bangar Siagian, menyatakan dukungan terhadap upaya menjaga Kamtibmas.
“Mitra ojol yang tergabung di Forkompi Sumut mendukung penuh agar situasi Kamtibmas tetap kondusif,” tegas David.
Menurutnya, kebebasan menyampaikan pendapat tetap harus dihormati. Namun, kebebasan tersebut berjalan beriringan dengan tanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban umum.
“Hak menyampaikan pendapat tetap kita hormati. Siapapun yang menyampaikan aspirasi di depan umum, kami dukung. Acara hari ini juga kita dukung dengan tujuan menciptakan situasi Kamtibmas yang kondusif di Sumut dan Kota Medan khususnya,” jelas David.
David berharap kerja sama antara komunitas pengemudi ojol dan kepolisian dapat terus diperkuat.
Ia melihat mobilitas pengemudi ojol yang tinggi sebagai potensi penting dalam mendukung penyampaian informasi dari lapangan.
“Ke depan, kami berharap ojol bisa dilibatkan dalam kegiatan, khususnya tentang Kamtibmas. Karena ojol merupakan garda terdepan bila terjadi sebuah peristiwa di lapangan,” ungkapnya.
Ketika Pengemudi Menjadi Mata di Jalan
Di tengah kota yang bergerak nyaris tanpa jeda, pengemudi ojol berada dalam posisi unik. Mereka bukan aparat, bukan pula petugas keamanan. Namun, pekerjaan membawa mereka melewati banyak sudut kota dan mempertemukan mereka dengan beragam wajah serta peristiwa.
Karena itu, membangun komunikasi dengan komunitas ojol dapat menjadi salah satu ruang partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan. Informasi dari warga tetap membutuhkan verifikasi dan penanganan sesuai kewenangan kepolisian, tetapi kepedulian masyarakat dapat menjadi mata awal untuk mengenali persoalan sebelum berkembang menjadi ancaman yang lebih besar.
Pertemuan di Warbeng Ojolali akhirnya tidak hanya meninggalkan cerita tentang 600 paket sembako.
Lebih dari itu, ada pesan yang ingin dibawa pulang: keamanan bukan pekerjaan satu institusi semata. Ia tumbuh dari keberanian untuk saling percaya, saling memberi informasi, dan saling menjaga.
Sebab jalan yang aman tidak lahir hanya dari sirene dan seragam, tetapi juga dari kesadaran setiap orang bahwa ketika satu mata melihat bahaya, banyak tangan harus bergerak mencegahnya.


















