PAPUA |LINTASTIMOR.ID-Kabut masih menggantung di lereng-lereng Papua ketika langkah-langkah senyap pasukan bergerak menembus rimba. Di tengah sunyi yang hanya dipecahkan desir angin dan suara alam, operasi penegakan hukum berlangsung dengan ketegangan yang nyaris tak terlihat mata. Namun dari operasi yang berjalan sepanjang Januari hingga Mei 2026 itu, hasil besar akhirnya terkuak: sejumlah tokoh penting kelompok separatis bersenjata TPNPB-OPM berhasil dilumpuhkan.
Operasi yang dilaksanakan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III bersama Koops Habema itu tidak hanya memukul struktur kelompok bersenjata, tetapi juga mengungkap jejak ancaman yang selama ini bersembunyi di balik lebatnya hutan Papua. Puluhan pucuk senjata api, ratusan butir amunisi, senjata tajam, alat komunikasi, perangkat pengintaian, uang tunai, hingga atribut separatis berupa Bendera Bintang Kejora berhasil diamankan aparat TNI.
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III, , menegaskan bahwa seluruh operasi dilakukan secara profesional dengan pendekatan terukur berbasis intelijen.
╔════════════════════════════════╗
❝ Seluruh operasi dilaksanakan secara cepat, taktis, dan tetap berpedoman pada Rules of Engagement (ROE) yang ketat, memastikan bahwa tindakan tegas tetap menjunjung tinggi hukum, hak asasi manusia (HAM), serta etika kemanusiaan. ❞
— Letjen TNI Lucky Avianto
╚════════════════════════════════╝
Di balik keberhasilan itu, tersimpan kerja panjang yang tidak sederhana. Aparat harus bergerak dalam medan berat, membaca pola komunikasi kelompok bersenjata, sekaligus memastikan masyarakat sipil tetap terlindungi dari potensi konflik terbuka. Penyitaan perangkat komunikasi dan alat pengintaian menjadi salah satu titik penting dalam operasi ini, sebab selama ini perangkat tersebut diduga digunakan untuk memantau pergerakan aparat dan mengatur koordinasi aksi di lapangan.
Kini, dengan jaringan logistik dan perangkat operasi yang berhasil diputus, kemampuan gerak kelompok separatis disebut mengalami pelemahan signifikan. Aparat menilai, penyitaan senjata api dan amunisi ilegal itu juga menjadi langkah penting untuk mencegah ancaman yang lebih besar terhadap warga sipil dan fasilitas publik di Papua.
╔════════════════════════════════╗
❝ Sulit dibayangkan besarnya ancaman yang mengintai masyarakat jika senjata-senjata ini masih berkeliaran. Kelompok ini telah kehilangan nurani; mereka tidak segan menyakiti saudara sebangsa sendiri, termasuk warga asli Papua. ❞
— Letjen TNI Lucky Avianto
╚════════════════════════════════╝
Secara kontekstual, operasi ini menunjukkan bahwa konflik Papua tidak lagi hanya dipandang sebagai persoalan keamanan semata, tetapi juga pertarungan memutus rantai kekerasan yang selama bertahun-tahun menciptakan ketakutan di tengah masyarakat. Ketika senjata ilegal, perangkat pengintaian, dan jaringan komunikasi berhasil diamankan, maka ruang gerak aksi teror otomatis menyempit. Di saat yang sama, negara sedang berupaya mengembalikan rasa aman sebagai hak dasar masyarakat Papua.
Di tanah yang kaya namun lama dilukai konflik itu, denting senjata mungkin masih terdengar di kejauhan. Tetapi di balik operasi senyap yang menembus hutan-hutan Papua, tersimpan satu harapan yang terus dijaga: agar anak-anak Papua kelak lebih akrab dengan suara lonceng sekolah dan nyanyian kehidupan, daripada gema tembakan yang merobek sunyi pegunungan.


















