Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupPeristiwaPolkam

Dari Tanah Kering ke Harapan Pangan: Bupati Belu Panen Wortel, Serukan Kebangkitan Lahan Tidur

159
×

Dari Tanah Kering ke Harapan Pangan: Bupati Belu Panen Wortel, Serukan Kebangkitan Lahan Tidur

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID— Di hamparan tanah Dualasi Raiulun yang dulu senyap, pagi itu kehidupan terasa berdenyut lebih kuat. Tangan-tangan petani bergerak lincah mencabut wortel dari perut bumi, seolah menarik harapan yang lama terpendam. Selasa, 14 April 2026, menjadi saksi ketika kerja keras bertemu kehadiran pemimpin—dan panen bukan sekadar hasil, melainkan pesan tentang masa depan.

Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH hadir bersama Ketua DPRD Belu Theodorus Manehitu Djuang, Anggota DPRD Ignatius Ati Koli, Staf Khusus Bupati, para pimpinan OPD, Camat, serta Pj Kepala Desa Dualasi Raiulun. Mereka menyatu di lahan milik BUMDes Siata Mauhalek, Kecamatan Lasiolat, ikut merasakan denyut panen bersama para petani.

Example 300x600

Di tengah suasana itu, apresiasi tak hanya terucap, tetapi juga dihidupkan dalam tindakan nyata—menghubungkan hasil panen dengan peluang pasar yang lebih luas.

╔══════════════════════════════════════════════╗
Saya datang bersama banyak Pimpinan OPD, nanti sebentar panen setiap Pimpinan OPD wajib membeli. Wortel ini juga nanti bisa dipasarkan ke Dapur MBG terdekat.
╚══════════════════════════════════════════════╝

Panen wortel ini bukan sekadar kegiatan pertanian biasa. Ia menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo.

Lebih jauh, Bupati Willy Lay mengingatkan bahwa tanah yang dibiarkan kosong sesungguhnya menyimpan potensi yang belum disentuh. Ia mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang—dari membiarkan lahan menjadi tidur, menjadi menjadikannya sumber kehidupan.

╔══════════════════════════════════════════════╗
Saya minta agar para petani bisa memanfaatkan lahan kosong ini menjadi produktif sehingga dapat meningkatkan ekonomi rumah tangga.
╚══════════════════════════════════════════════╝

Tak berhenti pada wortel, arah pembangunan pertanian juga mulai ditata lebih strategis. Dengan ketinggian wilayah sekitar 800 mdpl, Dualasi Raiulun dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan kopi arabika—komoditas bernilai ekonomi tinggi.

╔══════════════════════════════════════════════╗
Kepala PPL harus mentransfer ilmunya kepada para petani. Lahan ini cocok untuk kopi arabika, apalagi tanaman pelindung sudah tersedia.
╚══════════════════════════════════════════════╝

Sementara itu, Ketua BUMDes Siata Mauhalek, Oscar Bau, menjelaskan bahwa total lahan yang dikelola mencapai 2,75 hektar, melibatkan lima kelompok tani: Poktan Sinar Lakmau, Haelulik, Fatumuti, Beiseuk, dan Semangat Milenial. Pada panen kali ini, fokus dilakukan di lahan Poktan Sinar Lakmau seluas 1,6 hektar.

Secara kontekstual, langkah ini mencerminkan pergeseran paradigma pembangunan desa—dari ketergantungan menuju kemandirian berbasis potensi lokal, di mana sinergi antara pemerintah, BUMDes, dan petani menjadi kunci dalam membangun ketahanan ekonomi sekaligus memperkuat rantai pangan daerah.

Panen di Dualasi Raiulun hari itu bukan hanya tentang wortel yang terangkat dari tanah. Ia adalah simbol bahwa ketika lahan diberi kesempatan untuk hidup, maka harapan pun akan tumbuh—dan dari desa, masa depan bisa kembali disemai dengan keyakinan.

Example 300250