TIMIKA |LINTASTIMOR.ID|— Di tengah denyut pembangunan yang terus bergerak, ada satu pertanyaan yang menggantung di udara: untuk siapa semua ini dibangun? Di ruang-ruang kebijakan yang sering terasa jauh dari denyut kehidupan rakyat, Bupati Mimika, Johannes Rettob, berdiri dengan satu penegasan yang sederhana namun menggugah—pembangunan tak boleh sekadar ada, ia harus terasa.
Dalam nada yang tenang namun sarat makna, Johannes mengingatkan bahwa setiap rencana bukan sekadar dokumen, melainkan janji yang harus berwujud nyata dalam kehidupan masyarakat.
❝ Merencanakan suatu pekerjaan itu harus punya tujuan.
Tujuan itu harus ada output, ada benefit atau keuntungannya, dan ada manfaatnya.
Sekarang manfaatnya untuk siapa?
Tujuan terakhir dari semua pembangunan kita adalah masyarakat sejahtera. ❞
Kamis (26/3/2026), pernyataan itu tidak sekadar meluncur sebagai formalitas birokrasi. Ia hadir sebagai garis tegas yang memisahkan antara program yang hidup dan program yang hanya sekadar angka di atas kertas.
Bagi Johannes, kesejahteraan bukanlah konsep abstrak yang jauh dari jangkauan. Ia adalah hasil dari kerja-kerja kecil yang disusun dengan kesadaran besar—dimulai dari kesehatan yang membaik, pendidikan yang menguat, hingga keamanan yang memberi rasa tenang. Semua itu, pada akhirnya, bermuara pada satu titik: ekonomi masyarakat yang tumbuh dari akar paling bawah.
❝ Kesehatan kita perbaiki, pendidikan kita perbaiki, keamanan kita perbaiki.
Ujungnya sekarang bagaimana meningkatkan ekonomi.
Mulai dari mana? Dari tingkat yang paling bawah. ❞
Ia menegaskan, pembangunan bukanlah lompatan instan, melainkan perjalanan bertahap yang harus dimulai dari fondasi yang kokoh. Dari desa, dari kampung, dari ruang-ruang sederhana tempat harapan masyarakat tumbuh perlahan namun pasti.
Lebih jauh, Johannes mengarahkan sorotannya kepada seluruh organisasi perangkat daerah (OPD). Ia menginginkan setiap program diuji dengan satu pertanyaan sederhana namun mendasar: apakah ini benar-benar bermanfaat bagi rakyat?
❝ Saya mau OPD di bawah kita, nanti DPR sebagai pengawas, kita lihat pekerjaan itu ada manfaat atau tidak.
Kalau tidak ada manfaat, jangan kita buat program. ❞
Analisis kontekstual:
Pernyataan Johannes Rettob ini hadir di tengah tantangan klasik pembangunan daerah di Indonesia—yakni kesenjangan antara perencanaan dan dampak nyata di lapangan. Banyak program kerap tersandera pada orientasi serapan anggaran, bukan pada kualitas manfaat. Penegasan ini menjadi sinyal penting bahwa arah pembangunan di Mimika didorong menuju paradigma berbasis hasil (outcome-oriented), di mana keberhasilan tidak lagi diukur dari berapa besar anggaran terserap, melainkan seberapa dalam perubahan dirasakan masyarakat.
Pada akhirnya, pembangunan bukan soal seberapa megah yang dibangun, tetapi seberapa dalam ia menyentuh kehidupan—dan di sanalah ukuran sejati keberhasilan itu ditentukan.


















