Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaNasionalPolkam

Tongkat Komando di Timur: Febriel Buyung Sikumbang Menyapa Papua dengan Sentuhan Humanis

92
×

Tongkat Komando di Timur: Febriel Buyung Sikumbang Menyapa Papua dengan Sentuhan Humanis

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA |LINTASTIMOR.ID – Di Aula Gatot Soebroto, Mabes TNI, Cilangkap, Rabu (25/3/2026), suasana terasa khidmat namun sarat makna. Bukan sekadar seremoni, tetapi momentum yang menandai pergantian arah kepemimpinan di salah satu wilayah paling strategis di Indonesia Timur. Tongkat estafet Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih kini resmi berada di tangan .

Ia menggantikan dalam upacara serah terima jabatan yang dipimpin langsung oleh Panglima TNI, .

Example 300x600

Pergantian ini bukan sekadar rotasi jabatan dalam struktur militer. Ia adalah awal dari babak baru—sebuah harapan akan pendekatan yang lebih membumi di Tanah Papua, wilayah yang tidak hanya menuntut kekuatan, tetapi juga kepekaan.

Kapendam XVII/Cenderawasih, , menegaskan bahwa rotasi jabatan merupakan bagian dari dinamika organisasi TNI AD untuk menjaga profesionalisme dan efektivitas satuan.

╔══════════════════════════════════╗
“Rotasi dan promosi jabatan merupakan bagian dari pembinaan organisasi untuk meningkatkan kompetensi dan efektivitas pelaksanaan tugas.”
╚══════════════════════════════════╝

Jejak Panjang Seorang Perwira Teritorial

Lahir di Makassar, 14 Februari 1974, Febriel Buyung Sikumbang adalah sosok perwira dengan akar teritorial yang kuat. Lulusan Akademi Militer 1995 dari kecabangan Infanteri ini telah menapaki berbagai medan tugas—membentuk karakter kepemimpinan yang tidak hanya tegas, tetapi juga adaptif dan solutif.

Ia pernah menjabat sebagai Danrem 023/Kawal Samudera, Danrem 161/Wira Sakti Kupang, Waasops Panglima TNI, hingga Irdam XII/Tanjungpura. Dari rentetan pengalaman itu, lahir sosok pemimpin yang memahami bahwa medan tugas bukan sekadar wilayah operasi, melainkan ruang hidup masyarakat yang harus disentuh dengan empati.

Papua: Ruang Pengabdian, Bukan Sekadar Penugasan

Bagi Febriel, Papua bukan hanya peta wilayah dengan kompleksitas keamanan. Ia adalah ruang pengabdian yang menuntut pendekatan berbeda—lebih humanis, lebih kolaboratif.

Di tengah tantangan menjaga stabilitas keamanan, ia juga mengemban misi membangun kepercayaan masyarakat serta mendorong percepatan pembangunan di wilayah timur Indonesia.

╔══════════════════════════════════╗
“Dengan kepemimpinan yang mengedepankan kedekatan dengan rakyat, kehadiran TNI diharapkan tidak hanya sebagai penjaga stabilitas, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam pembangunan.”
╚══════════════════════════════════╝

Secara kontekstual, pergantian Pangdam XVII/Cenderawasih memiliki arti strategis dalam lanskap Papua yang kompleks—di mana isu keamanan, kesejahteraan, dan kepercayaan publik berjalan beriringan. Pendekatan militer yang mengedepankan humanisme dan dialog menjadi kunci dalam mereduksi ketegangan sekaligus memperkuat legitimasi negara di mata masyarakat. Dalam konteks ini, figur pemimpin dengan pengalaman teritorial seperti Febriel menjadi relevan untuk menjembatani kebutuhan stabilitas dan sentuhan sosial.

Kini, harapan itu bertumpu pada langkah-langkah awal seorang pangdam baru—bagaimana ia menyapa, mendengar, dan hadir di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, di tanah yang kaya akan harapan sekaligus tantangan itu, kepemimpinan bukan hanya soal komando yang tegas, tetapi tentang bagaimana hati seorang pemimpin mampu menjangkau mereka yang selama ini ingin didengar.

Example 300250