ROTE NDAO |LINTASTIMOR.ID–Pagi itu di Atambua terasa berbeda. Di ruang kerja Bupati Belu, bukan sekadar agenda pemerintahan yang dibahas, tetapi sebuah nyala harapan yang akan berjalan jauh—melintasi pulau, menyusuri iman, dan menyatukan perbedaan dalam satu cahaya: perdamaian.
Di hari pertama kembali bekerja usai libur Idul Fitri 1447 Hijriah, Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH menerima kunjungan Ketua Klasis GMIT Belu, Pendeta Para Mengi Uly, M.Th, Rabu (25/03/2026). Pertemuan ini menjadi awal dari sebuah peristiwa spiritual dan sosial yang akan menghubungkan Belu hingga titik nol kilometer di Pulau Rote.
Agenda besar itu bernama Pawai Obor Perdamaian GMIT 2026—sebuah perjalanan simbolik yang akan dimulai dari wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste di Kabupaten Belu dan berakhir di ujung selatan Indonesia.
Bupati Willybrodus Lay menyambut gagasan tersebut dengan hangat, melihatnya bukan sekadar seremoni, tetapi pesan yang hidup.
“Pemerintah Kabupaten Belu menyambut baik pelaksanaan kegiatan karena mencerminkan semangat toleransi dari perbatasan Indonesia.”
Baginya, obor yang akan dinyalakan itu bukan hanya api, melainkan simbol yang harus terus dijaga—tentang kebersamaan, tentang damai, dan tentang cara merayakan iman tanpa melupakan kemanusiaan.
“Kedepan, Pemerintah mengharapkan agar kegiatan ini menjadi satu agenda tetap yang menjadi event tahunan dan dilaksanakan secara rutin.”
Obor yang Akan Berjalan Jauh
Ketua Klasis GMIT Belu, Pendeta Para Mengi Uly, menjelaskan bahwa pawai ini akan dimulai pada 28 April 2026, dari Gereja Anugerah di Atambua.
Dari sana, obor akan dinyalakan—disertai seruan damai—lalu diarak mengelilingi Kota Atambua sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju Kabupaten Timor Tengah Utara, hingga akhirnya tiba di titik 0 Km Pulau Rote.
“Tanggal 28 April nanti kita akan start dari Gereja Anugerah dengan beberapa rangkaian acara, yakni pembacaan seruan damai dan penyalaan obor perdamaian, kemudian diarak mengelilingi Kota Atambua sebelum diberangkatkan menuju Kabupaten TTU.”
Perjalanan itu bukan hanya lintasan geografis, tetapi juga perjalanan nilai—menyusuri ruang-ruang kebhinekaan yang hidup di Nusa Tenggara Timur.
Merawat Toleransi, Merayakan Paskah
Bagi GMIT, pawai ini adalah simbol yang lebih dalam dari sekadar perayaan Paskah. Ia adalah cermin dari semangat kekeluargaan lintas iman dan budaya yang telah lama tumbuh di tanah NTT, dimulai dari Belu sebagai beranda perbatasan.
Pada kesempatan yang sama, Pendeta Para Mengi juga menyampaikan agenda lain: Pawai Paskah 2026 yang akan digelar pada 10 April, melibatkan 10 gereja GMIT, GBI, serta empat OMK dari Paroki Katedral, Tukuneno, Fatubenao, dan Umanen.
Pawai ini akan mengambil titik start dari Mal Pelayanan Publik dan mengelilingi Kota Atambua—menghadirkan wajah iman yang berjalan berdampingan dalam damai.
“Terima kasih atas dukungan dari Pemerintah Kabupaten Belu, semoga Tuhan selalu menyertai Bapak Bupati bersama seluruh perangkatnya dalam tugas melayani masyarakat.”
Analisis Kontekstual
Dalam konteks sosial-keagamaan di wilayah perbatasan, Pawai Obor Perdamaian GMIT 2026 memiliki makna strategis sebagai medium penguatan kohesi sosial. Di tengah keragaman identitas dan kedekatan dengan batas negara, simbol-simbol kolektif seperti ini menjadi instrumen penting untuk merawat toleransi, memperkuat identitas kebangsaan, serta mencegah fragmentasi sosial melalui pendekatan kultural dan spiritual.
Di ujungnya nanti, ketika obor itu tiba di titik nol kilometer Pulau Rote, mungkin api itu akan tampak kecil di tengah luasnya negeri. Namun sesungguhnya, ia telah menyalakan sesuatu yang jauh lebih besar—keyakinan bahwa dari perbatasan pun, Indonesia bisa terus belajar tentang damai, tentang persaudaraan, dan tentang cahaya yang tak pernah padam.


















